Puisi Fatimah Azzahra | Daan Yahya/Republika

Sastra

Fatimah Az-Zahra

Oleh DEDI SAHARA

Fatimah Az-Zahra

 

Engkaulah kebun bunga

yang tak pernah layu di jiwaku

meski diterpa badai waktu

 

Dari kelopak tanganmu

mengalir sungai suci

membasuh luka-luka baginda Nabi.

 

Di pucuk malam sepi

lirih suaramu menggetarkan jagat raya

dan tujuh malaikat penjaga

 

Duhai Az-Zahra, katakan padaku

bagaimana agar mampu

melukiskan seluruh kemuliaanmu

 

Ketika mengingat asmamu

lidah pena kehilangan kata-kata

badan kanvas kehilangan warna

 

Sepasang mataku menjadi buta

semua cahaya terpancar dalam dirimu

kini hanya menyisakan air mata

 

Dan salam yang tak fana

duhai kebun bunga di jiwaku,

penghulu perempuan surga.

 

2026

***

 

Pernyataan Cinta

 

I

Wahai pemilik kerajaan hati,

jadikanlah sisa napas ini

untuk senantiasa memuji-Mu

bersama angin bersama embun

hingga tirai terakhir disingkapkan

kemilau wajah-Mu kekal di mataku.

 

II

Sebagimana Rabiah, aku mencintai-Mu

bukan karena takut neraka,

bukan pula karena terlena nikmatnya surga.

tapi karena Engkau adalah Engkau,

keindahan purna tak terjangkau bahasa

menjadikan semestaku terpukau.

 

III

Jika seluruh dunia berpaling meludahiku,

biarkan jiwa ini tetap utuh dipelukan asma-Mu,

Engkau lebih dekat dari urat leher,

tapi kebesaran-Mu tak terbayang nalar-batinku,

inilah mahabbah, bara api yang tak membakar,

selain melumat berhala diri hingga gemetar rindu.

 

2026

***

 

Di Hari Ketujuh

 

Di hari ketujuh itu

ia tak pernah berhenti

dari kehendaknya yang abadi 

 

Setelah diembuskan sepatah sabda suci;

           terlepasnya terang dari gelap

terciptanya makhluk putih bersayap 

 

tegap berdiri tujuh lapis langit bagi bintang-galaksi

bagi suar matahari dan purnama

                    tanpa besi-besi hitam penyangga 

 

Ia pun memberi kita rupa 

dalam tulang dan daging

darah dan merah nafsu

 

                      semerah liang rahimmu

sebelum berkunjungnya lelaki firdaus pertama itu

sebelum diutusnya cahaya di atas cahaya 

 

Terhamparlah tujuh lapis bumi

        bagi burung-burung bermata api

yang berpusing di angkasa sunyi 

 

bagi kawanan rusa dan ikan-ikan berlompatan

           memercikan kilau kuning keemasan

dalam bentangan sungai-sungai yang hijau 

     

          tak ada batang-batang kemarau

yang memagar dan membakar kulit-lidahmu 

hanya ranum pagi serta lengkung pelangi

rimbun zaitun dan merah ceri 

 

hingga segalanya terlampau nikmat—

apakah engkau senantiasa tak ingat? 

 

Dan di hari ketujuh itu

ia tak pernah berhenti

dari kehendaknya yang abadi 

 

                disulamnya kegelapan yang lain

dari pecahan-pecahan semesta raya

lalu ia rekatkan di pintu hari kebangkitan

di lidah fajar penghabisan

 

sebelum terhapusnya mata angin

            dan mengkristalkan matahari dingin 

 

sebelum semua yang pernah ada akan sirna

           hanya wajahnya terpancar sempurna.

 

2025

***

 

Arafah

 

Pada mulanya langit bisu

panas dan pasir mendesir

di atas lengkung punggungmu 

 

Seakan tiada awal dan akhir

seakan kehampaan tumbuh abadi

sampai hari saat engkau diberkahi;

 

seekor burung berparuh api

menggoreskan lafaz cinta di udara

dan tubuh menjelma rimbun kurma

 

bagi sepasang kekasih pertama

yang terpisah dan terlunta

setelah tergoda makhluk hitam berbisa 

 

bagi seorang lelaki tua bercahaya

yang menemukan sepenggal wahyu

di kedalaman mimpinya

sebelum tragedi pengorbanan itu.

 

2024

***

 

Ode Untuk Syekh Bonang

 

Seputih gugusan awan

riwayat tuan tak tersentuh kematian

diam dan gerak tuan adalah petunjuk

bagi kaum salik penempuh suluk

 

Macapat tuan masih menggema

dari surau masa lampau Ampel Denta

ke dada para penziarah yang tabah

dan datang dari segala arah 

 

Sementara tongkat tuan menjadi azimat

lambang sejati kalimat syahadat 

sebagaimana sang Wijil 

berguru pada malam-malam ganjil 

 

Padanya tuan berkata lima perkara mulia

waskita pada rayuan iblis pendusta

sebab obat hati adalah mengaji di relung sunyi

menapaki jejak-jejak suci kanjeng Nabi 

 

Tidaklah mengenakan serban takabur

supaya selamat di alam kubur

hingga reguk pancaran sinar laduni

dengan kelembutan batin sendiri.

 

2024

***

 

Uzlah

 

Tuhan, 

aku datang menghadap-Mu

setelah lama mengembara

dalam gemerlap kota-kota impian

dan jerat bayang-bayang kebebasan.

 

Kini di bawah pancaran keluasan

arrahman dan arrahim-Mu

aku mengharap sungguh

dengan pengakuan penuh

akan kelemahan sejati diri ini

di atas lumpur gelap kehinaan

 

Maka terimalah aku kembali

terimalah sebagai pelayan abadi

dengan jubah kesabaran Ayub

dan keteguhan jiwa Daud 

untuk senantiasa bersujud

di padang tandus pengasingan.

 

2020

*** 


Dedi Sahara, tinggal di Bandung. Menulis puisi, esai, dan aktif menerjemahkan buku psikoanalisis/karya sastra. Buku terjemahan terbarunya adalah Jacques Lacan: Antara Psikoanalisis dan Politik. Sewaktu kuliah aktif bergiat di ASAS UPI, Asosiasi Psikoanalisis Indonesia, dan Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin. Dan pernah menjadi redaktur Apresiasi di Buruan.co. Tulisannya dimuat di berbagai media koran dan digital.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat