Internasional
Saling Blokade AS-Iran Meluas
AS dan Iran saling balas penyitaan kapal.
TEHERAN – Saling blokade antara Amerika Serikat dan Iran makin meluas pada pekan ini, menambah ketakpastian soal gencatan senjata. Pada Rabu, Iran menyerang tiga kapal asing di dekat Selat Hormuz.
Serangan-serangan itu terjadi hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Republik Islam mengatakan pihaknya menembaki tiga kapal keluar dan menyita dua kapal.
Pihak Iran menyebutnya sebagai pembalasan atas blokade laut Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan atas penembakan dan penyitaan kapal Iran yang tidak berhenti ketika dihadang oleh kapal yang melakukan blokade.
Serangan terhadap pelayaran berkurang mulai pertengahan Maret ketika Iran menerapkan kendali efektif atas selat tersebut. Risiko serangan saja sudah cukup untuk menghalangi kapal-kapal mencoba melewatinya, sementara beberapa kapal menggunakan jalur yang disetujui Iran di dekat pantai.
Iran menuntut rincian mengenai kargo, kepemilikan dan awak kapal dan, setidaknya dalam beberapa kesempatan, mengenakan pajak 1 dolar AS per barel untuk minyak dan produk minyak – atau 2 juta dolar AS untuk kapal tanker besar.
Kantor berita semi-resmi Iran melaporkan bahwa pasukan paramiliter Garda Revolusi menyerang kapal ketiga pada Rabu di selat tersebut. Nour News, Fars dan Mehr semuanya melaporkan serangan Garda terhadap kapal bernama Euphoria.
Mereka mengatakan kapal itu “terdampar” di pantai Iran, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Garda Revolusi menyita dua kapal lainnya yang diserang, televisi pemerintah Iran melaporkan secara terpisah.
Insiden itu menyusul dua serangan kapal pada hari Sabtu yang mengakhiri masa tenang yang dimulai pada pertengahan Maret. Kapal yang disita adalah Epaminondas berbendera Liberia dan MSC Francesca berbendera Panama, keduanya merupakan kapal kontainer. Tidak jelas dalam kondisi apa kapal-kapal tersebut mencoba melewati selat tersebut. Perusahaan pelayaran MSC tidak menjawab email yang menanyakan tentang kapal tersebut.
Serangan-serangan tersebut terjadi setelah perubahan sikap Iran secara tiba-tiba selama akhir pekan, ketika menteri luar negeri Iran mengumumkan pada hari Jumat bahwa selat itu dibuka, namun dibantah keesokan harinya oleh Garda Revolusi. Enam kapal pesiar yang terjebak di Teluk Persia sejak akhir Februari memanfaatkan jendela sempit tersebut dan menyelinap melalui selat tersebut. Namun sejak itu, lalu lintas terhenti.
Pernyataan yang bertentangan muncul dari Trump mengenai pembukaan kembali secara penuh dan dari menteri luar negeri Iran mengenai pembukaan kembali secara terbatas. Kemudian segalanya “berubah dengan sangat cepat” pada hari Sabtu ketika Garda Revolusi mengatakan selat itu ditutup.
Selain itu, Soltvedt mengatakan, Iran berkepentingan untuk menjaga premi asuransi tetap tinggi jika terjadi serangan sporadis. “Pengaruh utama mereka dalam negosiasi dengan AS adalah kemampuan mereka untuk membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz, dan asuransi adalah bagian besar dari hal tersebut.”
Beberapa kapal telah melewati sistem pemeriksaan Iran, dan beberapa bergantung pada permintaan diplomatik dari pemerintah negara asal. Namun ratusan kapal dan ribuan awak kapal masih terjebak.
Sebaliknya, blokade yang dilakukan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal Iran mulai meluas jauh dari Selat Hormuz. Yang terkini, Amerika Serikat membajak kapal tanker dari Iran di jalur menuju Selat Malaka, tak jauh dari perairan Indonesia.
Data pelacakan laut menunjukkan kapal tanker M/T Tifani (kapal Organisasi Maritim Internasional nomor 9273337), yang dapat membawa 2 juta barel minyak mentah, dihentikan di laut antara Sri Lanka dan Indonesia, lebih dari 2.000 mil dari Teluk Persia, dalam wilayah operasi INDOPACOM.
Kapal tersebut menuju Selat Malaka, setelah berada di terminal minyak Pulau Kharg Iran di dalam teluk pada 6 April, menurut citra satelit yang dilihat oleh CNN. Data lalu lintas laut menunjukkan kapal tersebut berada di Teluk Oman, di luar Selat Hormuz, pada 10 April, bergerak ke arah tenggara.
Pada 21 April, tak lama setelah melewati Sri Lanka, kapal tanker tersebut tiba-tiba mengubah arah – pertama berbelok tajam 90 derajat ke selatan, lalu berbelok tajam 90 derajat kembali ke timur. Segera setelah itu, AS mengumumkan pembajakan kapal tersebut.
Video yang dirilis di media sosial oleh Departemen Pertahanan AS menunjukkan pasukan menaiki helikopter di kapal perang Angkatan Laut AS dan mendarat di kapal tanker tersebut. Kapal perang itu, sebuah pangkalan laut ekspedisi, seukuran kapal induk dan dapat mendukung helikopter dan pasukan khusus.
Ketua Gabungan AS Jenderal Dan Caine pekan lalu menekankan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan Iran akan kesulitan menghindari jangkauan global Angkatan Laut AS. Ia secara khusus menyebutkan wilayah yang diawasi oleh Komando Indo-Pasifik AS (INDOPACOM).
Penggunaannya dalam operasi pendaratan di perairan terbuka Samudera Hindia memberikan indikasi besarnya sumber daya yang dimiliki Angkatan Laut AS untuk menerapkan blokade dan menegakkan sanksi.
Departemen Pertahanan AS tidak menyebutkan nama kapal tersebut, namun USS Miguel Keith, salah satu dari lima kapal ekspedisi pangkalan laut di armada AS, baru-baru ini berada di wilayah tersebut, setelah transit melalui Selat Malaka.
Pada akhir pekan lalu, marinir AS melakukan pembajakan terhadap kapal kargo Iran, M/V Touska. Aksi itu dilakukan menggunakan kapal perusak berpeluru kendali dengan Marinir dari kapal serbu amfibi, yang pada dasarnya adalah kapal induk kecil.
Setelah Touska disita pada Ahad, para analis mengatakan kapal tersebut akan digeledah dan muatannya diperiksa. Kapal dan kargo tersebut bisa menjadi milik pemerintah AS jika pada akhirnya dianggap sebagai “hadiah” perang, kata para analis.
Iran sebelumnya berjanji akan melakukan pembalasan atas penyitaan kapal tersebut secara “kriminal”, yang menurut Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Selasa merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang mulai berlaku pada tanggal 8 April.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
