Petugas memeriksa dan mencatat serapan energi panas pada panel surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Suana, Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, Selasa (22/10/2024). | ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.

Ekonomi

Transisi Energi Butuh Peran Anak Muda

Dampak individu akan menjadi signifikan jika dilakukan secara kolektif.

JAKARTA—Kolaborasi lintas generasi dan edukasi menjadi kunci utama dalam mempercepat transisi energi di Indonesia. Pakar keberlanjutan dan para penggerak ESG muda menekankan pentingnya edukasi dan sistem pendukung sebagai fondasi utama bagi perubahan gaya hidup hemat energi.

Presiden Direktur Institute for Sustainability and Agility (ISA) Maria Rosaline Nindita Radyati menegaskan tantangan transisi energi saat ini bukan sekadar masalah regulasi, melainkan kendala pasokan yang memicu kenaikan biaya transportasi. Ia menambahkan, Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan sumber daya alam yang melimpah, yang dapat menjadi modal besar dalam pengembangan energi terbarukan.

Namun, potensi tersebut harus diiringi dengan peran aktif generasi muda sebagai penggerak utama perubahan. Maria menilai langkah paling realistis dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan adalah investasi pada pendidikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Edukasi yang berkelanjutan, menurut dia, menjadi fondasi penting dalam memahami isu keberlanjutan yang terus berkembang.

“Investasi paling berharga saat ini adalah edukasi. Proses transisi itu berasal dari manusianya,” kata Maria dalam diskusi Pertamina Sustainability Champions, Kamis (15/4/2026).

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman teknis, seperti penghitungan emisi dalam tiga lingkup (scope 1, 2, dan 3), yang akan menjadi kebutuhan dasar di berbagai sektor usaha ke depan. “Apa pun bisnis Anda, ini akan relevan. Kalau Anda masuk dalam rantai pasok perusahaan besar, Anda pasti akan diminta menghitung emisi,” ujarnya.

Sementara itu, penggerak ESG muda Maya Lyn menyoroti peran gaya hidup dalam mendukung penghematan energi. Ia melihat tren positif di kalangan generasi muda yang mulai bangga menggunakan transportasi umum dan kendaraan listrik sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Menurut dia, langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi hingga memanfaatkan teknologi untuk efisiensi energi dapat memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara luas. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan perilaku tidak cukup tanpa dukungan sistem.

“Harus ada sistem yang mendukung, seperti transportasi hemat energi, rumah hemat energi, dan sekolah hemat energi. Kalau sistemnya terbentuk, masyarakat akan ikut,” kata Maya.

Pandangan serupa disampaikan penggerak ESG muda lainnya, Asep Sunarya, yang menilai perubahan paling mendesak justru berasal dari aktivitas sehari-hari, khususnya dalam hal mobilitas. Ia menekankan pentingnya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk menekan konsumsi energi dan biaya.

“Kalau bisa, kurangi naik kendaraan sendiri. Selain hemat energi, juga hemat biaya,” ujar Asep.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi turut mengajak orang lain berpartisipasi. Menurut dia, aksi kecil seperti berbagi pengalaman di media sosial atau mengikuti kegiatan komunitas dapat memicu keterlibatan yang lebih luas.

Dalam konteks peran masyarakat, Maria menjelaskan konsep decarbonization management hierarchy yang dapat diterapkan secara sederhana, mulai dari menghindari penggunaan energi yang tidak perlu, mengurangi konsumsi, hingga mengganti perangkat dengan teknologi yang lebih efisien seperti lampu LED.

Ia menegaskan dampak individu akan menjadi signifikan jika dilakukan secara kolektif. “Satu rumah menghemat energi, lalu satu lingkungan melakukan hal yang sama, itu akan menjadi dampak kumulatif yang besar,” ujarnya.

Selain itu, pendekatan berbasis insentif juga dinilai efektif untuk mendorong perubahan perilaku, termasuk melalui penerapan indikator kinerja atau key performance indicators (KPI) dalam organisasi untuk efisiensi energi.

Diskusi ini juga menyoroti pentingnya mengubah persepsi bahwa keberlanjutan merupakan beban. Maya menilai, dengan pemahaman yang tepat, praktik hemat energi justru dapat menjadi peluang, baik dari sisi ekonomi maupun inovasi.

Ia menambahkan, generasi muda saat ini, termasuk kelompok usia lebih muda seperti Gen Alpha, menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap isu lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah hingga praktik sederhana seperti kompos dan budidaya maggot.

Asep menegaskan, kesadaran individu tetap menjadi kunci utama. Ia mengingatkan ketersediaan energi yang saat ini relatif aman tidak boleh membuat masyarakat lengah dalam penggunaannya.

“Kalau kita tidak bijak, lama-lama bisa habis. Semua kembali ke bagaimana kita menggunakan energi dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.

Melalui kolaborasi antara edukasi, perubahan gaya hidup, dan dukungan sistem, para penggerak ESG sepakat percepatan transisi energi di Indonesia dapat diwujudkan, dengan generasi muda sebagai motor utama menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dalam diskusi tersebut, Maria juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif Pertamina melalui program “Pertamina Sustainability Champions”. Ia menilai program tersebut berhasil mendorong para “Perwira” (karyawan) Pertamina untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan secara mandiri, melampaui tugas profesional mereka.

Sustainability adalah aksi seluruh departemen, bukan hanya tugas satu divisi. Ini adalah upaya kolektif untuk membangun legacy bagi generasi mendatang,” pungkas Maria. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat