Internasional
Israel Ancam Gencatan Senjata AS-Iran
Iran saling sangkal AS-Israel soal cakupan gencatan senjata.
TEHERAN – Nasib gencatan senjata selama dua minggu terkait serangan AS ke Iran tampak dalam bahaya pada Rabu saat Israel mengintensifkan kampanye pengeboman di Lebanon. Sementara Iran kembali memblokade Selat Hormuz terkait pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Iran dan Pakistan, yang menjadi perantara gencatan senjata selama 11 jam tersebut, keduanya menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon.Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tidak setuju dan pasukan Israel melancarkan serangan perang terberat mereka sejauh ini terhadap lebih dari 100 sasaran, menewaskan sedikitnya 254 orang.
Donald Trump, setelah awalnya diam, mengatakan Lebanon adalah “pertempuran terpisah” dan bukan bagian dari kesepakatan.
Skala serangan Israel pada hari Rabu dikecam sebagai “mengerikan” oleh kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk.
"Pembantaian seperti itu, yang terjadi dalam beberapa jam setelah gencatan senjata dengan Iran disetujui, tidak dapat dipercaya. Hal ini memberikan tekanan besar pada perdamaian yang rapuh, yang sangat dibutuhkan oleh warga sipil," katanya.
Dalam pernyataan yang tajam, ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Israel dan AS telah melanggar beberapa klausul gencatan senjata sementara, dan mengecam pemboman agresif Israel di Lebanon dan tuntutan AS agar Iran tidak berhak memperkaya uraniumnya sendiri.
“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata atau negosiasi bilateral tidak masuk akal,” bunyi pernyataan itu.
Meskipun pernyataan tersebut tidak mengumumkan penolakan Iran terhadap gencatan senjata, pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa ketegangan meningkat kurang dari 24 jam setelah Trump mengumumkan bahwa perjanjian gencatan senjata telah tercapai.
Kantor berita Fars Iran mengatakan kapal tanker minyak yang melewati selat Hormuz telah diminta berbalik karena “pelanggaran gencatan senjata” Israel.
Menanggapi serangan Israel baru-baru ini di Lebanon, para pejabat Iran menyerukan tindakan tegas untuk melawan agresi guna mendukung Lebanon dan rakyatnya. Iran menyatakan Selat Hormuz dapat ditutup kembali sampai serangan terhadap Lebanon berhenti.
Ibrahim Rezaei, juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, mengatakan hal itu dalam sebuah postingan di X. “Sebagai tanggapan terhadap agresi brutal Israel di Lebanon, pergerakan kapal di Selat Hormuz harus segera dihentikan, dan serangan yang kuat dan tegas harus dilancarkan untuk mencegah serangan lebih lanjut oleh entitas Israel.”
Dalam lansiran dari pihak Iran dan Pakistan sebagai penengah, penghentian serangan Israel ke Lebanon dan semua sumbu perlawanan jadi syarat gencatan senjata. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden AS Donald Trump menyatakan Lebanon tak masuk dalam kesepakatan.
Utusan Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahraini, menekankan pentingnya Israel menegakkan gencatan senjata di Lebanon. Ia menambahkan bahwa Teheran akan melakukan negosiasi perdamaian dengan Washington dengan hati-hati karena kurangnya kepercayaan.
“Mengingat kurangnya kepercayaan, Teheran akan berhati-hati dalam melakukan negosiasi ‘perdamaian’ dengan Washington, dan pada saat yang sama tetap waspada secara militer.”
Ia lebih lanjut memperingatkan mengenai konsekuensi dari serangan terus menerus Israel ke Lebanon. “Kami memperingatkan bahwa kelanjutan serangan akan menyebabkan komplikasi lebih lanjut dan konsekuensi yang parah.”
Iran juga bersiap menarik diri dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan terhadap Lebanon, kata sebuah sumber kepada Kantor Berita Tasnim. “Iran saat ini sedang mempelajari kemungkinan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan berlanjutnya pelanggaran entitas Israel dan agresinya terhadap Lebanon.”
Laporan tersebut mencatat bahwa penghentian perang di semua lini, termasuk melawan “kekuatan Perlawanan” di Lebanon, telah diterima oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari rencana gencatan senjata selama dua minggu. Namun, sumber tersebut menambahkan, “Sejak pagi ini, dengan terang-terangan melanggar gencatan senjata, entitas Israel telah melakukan serangan brutal terhadap Lebanon.”
Lihat postingan ini di Instagram
Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran mengidentifikasi target untuk membalas agresi Israel di Lebanon, kata sumber Tasnim, lebih lanjut memperingatkan. “Jika Amerika Serikat tidak dapat mengendalikan anjing gilanya di wilayah tersebut, Iran akan membantunya dalam masalah ini, khususnya melalui kekerasan.”
Selain itu, seorang pejabat senior Iran juga mengatakan kepada Press TV bahwa “Iran akan menghukum Israel atas agresinya terhadap Lebanon dan pelanggaran gencatan senjata.”
Sedangkan Kantor Berita Fars melaporkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dihentikan setelah serangan Israel, meskipun dua kapal tanker sebelumnya telah menerima izin jalur aman setelah persyaratan Teheran diterima dan gencatan senjata mulai berlaku.
“Kami telah menutup Selat Hormuz, dan saat ini, hanya kapal Iran dan kapal yang berasal dari Iran yang melewatinya.” “Hanya dua kapal tanker minyak yang mendapat manfaat dari gencatan senjata dan melewati Selat Hormuz sebelum ‘Israel’ melanggar perjanjian tersebut,” ujar sumber di Angkatan Laut Iran.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan ketentuan gencatan senjata sudah eksplisit. Washington harus memilih antara menjunjung perjanjian atau membiarkan aksi militer lanjutan melalui Israel.
Dalam sebuah postingan di X pada hari Rabu, Araghchi menekankan kerangka gencatan senjata mencakup Lebanon, di mana Israel harus menghentikan serangan.
Dia menambahkan bahwa situasi di Lebanon diawasi secara ketat secara internasional, dengan mengatakan “dunia melihat pembantaian di Lebanon,” dan menekankan bahwa “keputusan ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya.”
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Amerika Serikat akan ikut bertanggung jawab atas setiap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel. “Tanggung jawab atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan entitas Zionis juga berada di tangan Amerika Serikat,” ujarnya pada IRNA.
Dia menambahkan bahwa Washington telah berkomitmen untuk memastikan kepatuhan di semua lini. “Seperti yang secara eksplisit dinyatakan dalam postingan awal oleh Perdana Menteri Pakistan, Amerika Serikat berjanji bahwa Amerika Serikat dan sekutunya akan mematuhi gencatan senjata di semua lini, termasuk Lebanon.”
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
