Puisi Manasik Sunyi | Daan Yahya/Republika

Sastra

Manasik Sunyi

Puisi-Puisi Sholihul Mubarok

Oleh SHOLIHUL MUBAROK

Manasik Sunyi

 

sepi tempo lalu adalah belati

waktu cuma ruang tunggu yang lowong

di celah itu

 

ketajaman ia asah

menyongsong kepulangan cahaya

 

ia hunjamkan mata baja itu

tepat di hulu dada

 

seketika petang pun merekah

dari luka memancar ketiadaan

 

lalu malam

merangkulnya sebagai persembahan

 

Gresik, 30 Maret 2026 

***

 

Rima Prasangka

 

lepas sudah segala rupa

tandas pada kandas

sebelum erat sempat menyayat

huruf merah adalah darah basah

sekejap kering menjelma asing

seperti jejak pejalan kaki terseok

menuju ujung kota ketiadaan

kelengangan akhirnya membahasakan rahasia

 

setelah cahaya-Mu meredupkan puisiku

bayangan berlarian menjelma petang

lebih gulita dari segala dongeng dunia

batas antara pengabdian dan kebohongan

langit malam aku hantam

sebelum mata sempat merenda kemungkinan

dan dalam pejam penutupan

aku tak lagi mampu menyebut nama-Mu dengan lisan

 

kejujuran adalah serpih penghapus

sisa debu putih aku maki berkali-kali

di hadapan-Mu ketulusanku cuma cacat aksara

terhapus curiga lebih abadi dari prasasti

aku cetak tuduhan pada batu

aku tulis setia di atas air

jilid rontok sisa jarak paling purba

satu jasad dua asing

tumpukan rekaan aku anggap cahaya paling terang

 

lidah kehilangan krama

sunyi merajut sabda

tanpa metafora luka tanpa rima penawar percaya

aku melipat diri

membiarkan seluruh bayanganku mati

di hadapan-Mu yang Maha Sendiri

 

Gresik, 30 Maret 2026

***

 

Omega

 

Pagi tadi, senja telah menyala di ubun-ubun. Petang mengintip dari balik mata yang tak jujur; bahasa mataku menduga malam menjelma hijab, menutupi kobaran di dada.

 

Maka, coba kujadikan Engkau Alpha di luar rumusan angka. Tanpa menghitung laju kemungkinan yang tak mungkin menuju satu titik Omega; sebab angka-angka membiak, menyesakkan ruang yang tak lagi berwatak.

 

Sekalian saja kulebur menjadi ketiadaan. Biar waktu dan rasa menata diri sebagai sujud yang kelak merevolusi; sebagai ruh yang merangkak kembali.

 

Gresik, 30 Maret 2026

***

 

Seduhan Sabar

 

Pekat melaknat; aromanya hampa. Tuang sedikit sakit pada piring kecil mengecil. Tunggu sejenak ia merangkak, biar tak sepanas was-was di kepala.

 

Seruput perlahan cacian—terkecap manis lamis, bercampur pahit nyelekit; rasanya berkesan kerentanan.

 

Nyalakan sebatang jalang. Lahirlah sekepul asap meratap, namun tak sampai pada larut-Mu; sebab aku masih terjaga oleh kata-kata.

 

Gresik, 30 Maret 2026

***

 

Muasal

 

Hanya remah dari sisa patah. Masa menyempurnakan hening pada kolom dulu rimbun aksara penuh warna. Dari sini, kita tarik kembali riwayat kisah. Sepasang sayap melayang tanpa suara; saat musim seluruhnya menjelma semi di antara putik rindu bertumbuh seiring waktu.

 

Seketika kelopak hendak merebak, sebilah jeda menebas tangkai. Udara membawa raga menuju kosong—di balik sayatan awan panas, menjadikannya luluh, terhempas bersama harapan dunia kandas.

 

Kita pulang pada awal puisi. Sebagai kenangan tak mungkin lagi jadi pertimbangan; sebab di hadapan-Mu, segala muasal hanyalah ketiadaan.

 

Gresik, 30 Maret 2026

***

 

Seuluk Debu

 

Ada banyak aku di pelataran sunyi; bebijian tanya ditabur tanpa jawab di ujung lidah manusia. Dulu sahaya sebatas kabar menyasar riuh fana; memintal emosional dangkal di sela bising dunia.

 

Di tengah kerumunan fasik raga ini tersesat; saling lempar cerca berbalut intelek palsu. Padahal sama-sama debu mencari pembenaran di balik aksara; berandal merindu pelukan-Mu.

 

Maka lembar baru terbuka; bukan lagi amor di ketiak senja. Satu inci dari dekapan petang; aroma rindu menyeret diri mengejar hingga mampus; lalu hidup kembali dalam rahasia-mu, Ya Rabb ku.

 

Diri terlahir sebagai ruang malam dalam dada-mu; Engkau! Sekuntum mimpi bertumbuh peredam hampa usai jeda panjang; sebelum sosok lama benar-benar pupus dari ingatan dunia.

 

Hamba-Mu kini menetap di muara baru. Jiwa lain? Ku gugurkan sebagai catatan usang dalam kitab berjudul, "perjalanan seorang bajingan mencari jalan pulang."

 

​Gresik, 30 Maret 2026

***

 

Aku Cawan-MU

 

Tuang cawan dadaku; darah anggur-Mu nikmat melaknat. Wadah ini lama kenyang udara; tegak menantang langit di atas kehampaan; jasad fana tanpa isi. Bertahun darah mereka tertuang penuh cita; sesak tubuh; dipermainkan waktu sungsang. Sahaya ralat kembali: jangan anggur!

 

Tuang saja air mata-Mu; penuhi palung dada. Hamba ingin tenggelam dalam genangan; asin lebih tajam dari samudra manapun. Biar perih-Mu mencumbui perihku; lumat raga ini; tubuh-Mu menelan segenap ketiadaan utuh dalam keabadian. Engkau! Kekasih tunggal pemulangan rindu.

 

Lumat sudah sisa diri dalam ragukan terakhir. Sisa wajah lama? Menguap sebagai uap khamr; pecah di udara; lenyap tertelan cahaya-Mu. Habis. Hamba kini ampas rindu di dasar cawan-Mu.

 

​Gresik, 30 Maret 2026

*** 

 

Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat