Presiden AS Donald Trump (tengah), bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio (Kiri) dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan), saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026. | EPA/WILL OLIVER / POOL

Internasional

Trump Ingin Rebut Minyak Iran, AS Siapkan Operasi Darat

Iran siap 'menyambut' operasi darat AS.

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pertama kalinya mengatakan dia ingin “mengambil minyak dari Iran” dengan merebut pusat ekspor Iran di Pulau Kharg. Hal ini ia sampaikan di tengah menguatnya potensi operasi darat Amerika ke Iran.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Financial Times, yang diterbitkan pada Ahad waktu AS, Trump mengatakan rencananya untuk Iran berbeda dari rencana untuk Venezuela, di mana Washington bermaksud untuk mengendalikan industri minyak “tanpa batas waktu” setelah penculikan pemimpinnya, Nicolas Maduro, pada Januari.

“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tapi beberapa orang bodoh di AS berkata: ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Tapi mereka adalah orang-orang bodoh,” kata Trump kepada surat kabar Inggris.

"Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan," tambahnya. “Itu juga berarti kami harus berada di sana [di Pulau Kharg] untuk sementara waktu.” 

Pulau itu adalah pusat distribusi minyak Iran. Iran sempat menyerang pulau itu, memicu balasan Iran yang melumpuhkan pengolahan gas alam di Qatar.

photo
Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan), saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026. - (EPA/WILL OLIVER / POOL)

Pemerintahan Trump telah mengerahkan Marinir AS ke Timur Tengah ketika perang AS-Israel terhadap Iran memasuki minggu kelima, dan juga berencana mengirim ribuan tentara dari Pasukan Lintas Udara ke-82 ke wilayah tersebut.

Pada hari Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan sekitar 3.500 tentara tambahan tiba di Timur Tengah dengan kapal USS Tripoli.

Para pejabat AS, ketika berbicara kepada surat kabar The Washington Post, mengatakan diskusi di dalam pemerintahan selama sebulan terakhir telah menyentuh kemungkinan perebutan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk yang merupakan tulang punggung ekonomi Iran yang tak terbantahkan.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah merancang skenario serangan darat ke Iran untuk beberapa pekan di tengah pengerahan personel AS ke Timur Tengah. Pihak Iran tak gentar dan balik mengancam tentara Amerika yang bakal menyerang.

Menurut laporan Washington Post, kemarin, para pejabat mengatakan rencana tersebut dapat menandai "fase baru perang" yang akan "lebih berbahaya secara signifikan" bagi pasukan AS dibanding dengan yang sudah berlangsung selama empat pekan terakhir.

photo
Tim pembawa Angkatan Darat AS memindahkan jenazah tentara AS yang tewas akibat balasan Iran di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, AS, 9 Maret 2026. - (EPA/JASON MINTO/US AIR FORCE)

Operasi darat yang direncanakan itu tidak akan menjadi invasi berskala penuh, tetapi dapat mencakup penyergapan oleh personel operasi khusus dan infanteri, menurut pejabat yang tak disebutkan namanya. Tetapi, operasi semacam itu membuat personel AS terpapar ancaman dari "drone dan rudal, tembakan darat, dan peledak rakitan".

"Tugas Pentagon adalah membuat persiapan agar Panglima Tertinggi mendapatkan pilihan yang paling optimal," ucap juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, sebagaimana dikutip media AS itu, Ahad (29/3/2026).

"Hal tersebut bukan berarti Presiden telah membuat keputusan," kata Leavitt.

Di antara skenario yang dibahas yaitu operasi terhadap Pulau Kharg, titik ekspor minyak yang penting bagi Iran, dan operasi penyergapan di pesisir Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman pelayaran.

Para pejabat menyebut misi tersebut dapat berlangsung "beberapa pekan, bukan beberapa bulan", sementara pejabat lainnya memperkirakan operasi berlangsung "beberapa bulan".

Adapun Trump sebelumnya berkata bahwa ia "tidak akan mengerahkan personel ke manapun".

Sementara, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan perang dengan Iran "tak akan menjadi perang berkepanjangan" karena tujuan perang tersebut dapat dicapai "tanpa pengerahan pasukan darat".

photo
Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). - (X)

Menurut pejabat, 13 personel militer AS tewas dan 300 lebih lainnya terluka dalam berbagai serangan di kawasan Teluk sejak perang pecah pada akhir Februari 2026.

Pandangan masyarakat terhadap pengerahan pasukan darat AS ke Iran juga terbelah, dengan sebuah jajak pendapat mendapati 62 persen responden menolak serangan darat ke Iran, dan hanya 12 persen yang mendukung.

Pakar militer Michael Eisenstadt, menyoroti risiko yang akan dihadapi jika pasukan darat benar dikerahkan ke Iran, mengatakan "saya tidak ingin ada di tempat sekecil itu dengan kemampuan Iran menghujani mereka dengan drone".

Ia juga menyoroti pentingnya aspek mobilitas, karena "kelincahan adalah bagian dari perlindungan pasukan".

Ketegangan di kawasan Teluk mengalami eskalasi sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, sehingga menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah-wilayah di Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan itu menelan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dan penerbangan global.

Markas Pusat Khatam al-Anbia Angkatan Bersenjata Iran mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS) terkait rencana infiltrasi atau pendudukan wilayah kedaulatan Republik Islam Iran. Teheran menegaskan, setiap upaya invasi darat oleh Pentagon akan berakhir dengan kehancuran total dan kehinaan bagi Washington.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbia, Ebrahim Zolfaqari menyatakan, pasukan Iran telah bersiap menghadapi skenario terburuk dan menunggu momentum untuk memberikan balasan yang mematikan.

Dalam pernyataan resminya yang dilansir kantor berita semi formal Tasnim pada Ahad (29/3/2026), Zolfaqari memberikan gambaran mengerikan bagi pasukan agresor yang mencoba menginjakkan kaki di tanah Iran.

"Para komandan dan tentara AS pada akhirnya hanya akan menjadi santapan hiu di Teluk Persia," tegas Zolfaqari, merujuk pada kesiapan tempur unit-unit pertahanan pesisir dan laut Iran.

Zolfaqari mendesak para pemimpin di Washington untuk mempelajari kembali sejarah panjang Iran dalam menghadapi penjajah asing. Ia memperingatkan agar AS tidak mengulangi kesalahan fatal yang dapat memicu jatuhnya korban jiwa dalam skala besar di pihak mereka.

"Sejarah telah membuktikan bagaimana Iran menghadapi setiap agresor. Setiap tindakan pendudukan akan berujung pada penangkapan, fragmentasi, dan hilangnya pasukan penyerang,"tambah Zolfaqari.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat