Taman Gelap Nusantara | Daan Yahya/Republika

Internasional

Taman Gelap Nusantara

Puisi-puisi Iwan Setiawan

Oleh IWAN SETIAWAN

Nuaiman


Engkau datang kepada Tuhan

dengan iman yang sering terjatuh

lalu bangkit sambil tertawa

seperti anak kecil

yang tahu rumahnya tak pernah dikunci

engkau salah

lalu menyesal

dan penyesalanmu lebih jujur

daripada kebenaran kami

yang dipoles doa panjang

 

Nuaiman

kami menyembunyikan dosa

di balik tasbih dan sorban

sementara engkau membawanya

langsung ke hadapan Nabi

tanpa topeng tanpa bahasa tinggi

engkau dicintai

bukan karena kesempurnaan

melainkan karena hatimu

tak pandai berdusta

kami belajar darimu

bahwa surga

bukan milik mereka

yang paling rapi ibadahnya

tetapi mereka

yang paling berani pulang

 

Nuaiman

jika kelak Tuhan tersenyum

mungkin itu karena mengingatmu

hamba yang sering tergelincir

namun tak pernah berhenti mencintai


Padang, 2026

***

 

Sunyi Syams Tabrizi 

 

Di sebuah kota yang lupa pada namanya

kau datang sebagai asing

membawa api di saku jubah

dan sunyi di kedua telapak tangan

Syams

aku mengenalmu bukan dari rupa

melainkan dari getar yang merobohkan bangunan akalku

kau ajari aku mencinta

tanpa memiliki

tanpa bertanya

tanpa pulang

malam menjadi lebih panjang sejak kau hadir

doa-doa kehilangan bahasanya

dan aku belajar menangis

tanpa air mata

aku mencintaimu

seperti murid mencintai kehancuran dirinya

sebab di runtuhan itu

Tuhan berdiri tanpa nama

ketika kau menghilang

sunyi menetap lebih lama

namun justru di situlah

aku menemukanmu

di dalam dada sebagai nyala

yang tak pernah padam

 

Padang, 2026

***

 

Taman Gelap Nusantara 

 

Malam turun seperti kitab yang dibakar perlahan

huruf-hurufnya berubah menjadi asap doa

di tanah ini

tuhan disebut dengan suara yang gemetar

antara gamelan dan tangis leluhur

para wali berjalan tanpa bayangan

jubah mereka dijahit dari mimpi orang mati

mulutnya tersenyum

namun matanya sumur

tempat rahasia dikubur hidup-hidup

islam tumbuh seperti lumut di batu nisan

sunyi

lembap

dan setia

ia tidak berteriak

hanya merayap ke dalam dada

lalu menetap sebagai rasa bersalah

yang manis

aku melihat masjid sebagai tubuh

mihrabnya luka

menara adalah tulang yang rindu runtuh

azan terdengar seperti panggilan pulang

bagi jiwa-jiwa yang lupa alamat kuburnya

tasawuf di negeri ini

adalah pelukan yang terlalu lama

hingga aku tak tahu

 

Ini cinta

atau cara halus untuk lenyap

Tuhan tidak datang sebagai cahaya

melainkan sebagai gelap

yang mengajariku melihat

diriku sendiri

sebagai bayangan

yang ingin diampuni

 

***


Asyiq yang Terbakar oleh Api Dunia 

 

Ia mencintai Tuhan

namun berjalan di pasar kekuasaan

di mana doa ditukar dengan senjata

dan niat diuji oleh sorak massa

asyiq itu bersujud

di antara bendera dan pidato

api dunia menjilat janggutnya

namun ia mengira itu cahaya

ia ingin adil

tapi tangannya penuh debu sejarah

setiap langkahnya

meninggalkan jejak darah yang tak sempat ia tangisi

api dunia berkata

pimpinlah, kuasailah, selamatkan umat

tanpa ia sadar

api tidak pernah berniat menyelamatkan

ia terbakar perlahan

oleh pujian, oleh ketakutan, oleh musuh yang kasat mata

sementara musuh sejatinya

bersemayam di dalam dada

asyiq yang terbakar

bukan mati karena cinta

melainkan karena lupa

bahwa cinta meminta kefanaan

ketika api padam

yang tersisa hanyalah abu nama

sementara Tuhan

 

Tetap menunggu di sunyi

tempat cinta tak membutuhkan dunia

asyiq itu gagal di mata sejarah

namun mungkin

menang di hadapan rahmat

yang hanya menilai

seberapa jujur ia mencinta

 

Padang, 2026

***

 

Propaganda


Di padang debu bernama dunia,

nama Tuhan digenggam seperti bendera,

lalu dikibarkan di atas mesiu.

iran berzikir pada sejarahnya,

israel berdoa pada ketakutan purba,

amerika menghitung malaikat

dalam angka-angka senjata.

aku melihat layar-layar menyala

ayat dipotong jadi slogan,

air mata diperas jadi legitimasi

propaganda berjalan seperti imam bayaran,

khotbahnya nyaring,

sunyi nurani ditinggalkan

wahai kekasih yang maha satu,

di mana wajah-Mu

ketika langit dipaku rudal?

kami menyebut-Mu

untuk membenarkan luka,

padahal engkau

adalah jeda di antara dua napas

yang memilih tidak membunuh

di pasar kuasa,

darah jadi mata uang,

berita jadi wudhu palsu,

dan damai diseret

ke ruang arsip berdebu

sufi-sufi tua menangis

 

Di balik tirai sensor

cinta tak pernah butuh musuh.

aku belajar tasawuf dari reruntuhan,

menanggalkan bendera

agar melihat manusia

jika perang adalah doa yang tersesat,

biarlah cinta memulangkannya,

tanpa propaganda,

tanpa peta,

hanya hati

yang kembali mengenal arah

 

Padang, 2026

***

 

Kepada al-Hallaj

 

Aku datang membawa malam

yang sudah memakan namaku sendiri

aku menulis bukan dengan tinta

melainkan sisa urat

yang putus saat menyebut tuhan

terlalu dekat

engkau berteriak “ana al haqq”

dan langit segera menurunkan tali

aku tidak berteriak

aku menelan jerit itu

sampai tenggorokanku menjadi sumur

tempat cahaya enggan turun

di alun-alun iman

kepalaku belajar pasrah

kepada pedang yang bernama fatwa

aku melihat diriku

dipotong dari diriku

demi menjaga wajah dunia

wahai kekasih

yang dicium api

dan dipeluk salib sunyi

aku paham kini

cinta memang harus kehilangan saksi

agar Tuhan tetap rahasia

aku mencintai-Nya

seperti luka mencintai pisau


Bukan untuk sembuh

melainkan agar sakit

tidak merasa sendirian

bila kelak aku dibakar

biarlah abuku menolak angin

aku ingin jatuh

di telapak nama-Nya

sebagai dosa

yang tak sempat bertobat

karena terlalu sibuk mencinta

 

Padang, 2026

***


Iwan Setiawan lahir di Kotabumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Ia adalah penyair Indonesia yang dikenal melalui karya-karya bernapas sufistik, melankolis, dan reflektif, dengan kecenderungan mengeksplorasi tema cinta ilahiah, kehilangan, kerinduan, luka batin.

Pada tahun 2017, ia menerima Anugerah Sastra Majalah Littera sebagai pengakuan atas konsistensi dan kekhasan estetik dalam kepenyairannya. Iwan Setiawan telah menerbitkan buku puisi Sang Pencari Cinta, serta Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan), yang menegaskan posisinya sebagai penyair yang setia pada jalur spiritual dan perenungan eksistensial.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat