Tangkapan layar konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 Bank Indonesia yang digelar secara daring, Rabu (21/1/2026). | Eva Rianti

Ekonomi

BI Proyeksikan Ekonomi RI Menguat

Permintaan domestik menjadi penopang pertumbuhan.

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi global melambat pada 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian. Namun, bank sentral menilai ekonomi Indonesia justru menguat dengan dukungan permintaan domestik.

“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan sedikit lebih rendah menjadi 3,2 persen dibandingkan 2025 sebesar 3,3 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2026, Rabu (21/1/2026).

Perry menjelaskan perlambatan global dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global, meski prospek ekonomi AS membaik didorong investasi teknologi dan kecerdasan buatan.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Jepang, China, dan India pada 2026 diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor, meski investasi AI terus meningkat.

Dari sisi pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate kian terbatas di tengah tingginya yield US Treasury dan defisit fiskal AS. Kondisi tersebut menahan aliran modal ke negara berkembang dan mendorong penguatan indeks dolar AS, sehingga membutuhkan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan domestik.

Di tengah perlambatan global, BI tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi Indonesia pada 2026. Perry menyebut pertumbuhan ekonomi nasional tetap baik dan perlu terus ditingkatkan sesuai kapasitas perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 diperkirakan lebih tinggi, ditopang kenaikan permintaan domestik seiring membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan stimulus fiskal.

Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 4,7–5,5 persen dengan kinerja positif sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta informasi dan komunikasi.

“Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat dalam kisaran 4,9–5,7 persen, ditopang kenaikan permintaan domestik dan kebijakan pemerintah,” ujar Perry.

Ia menekankan efektivitas stimulus fiskal perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Investasi juga diperkirakan meningkat, didukung program prioritas pemerintah termasuk hilirisasi sumber daya alam guna memperkuat produktivitas dan kapasitas ekonomi.

Perry menegaskan BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan fiskal dan sektor riil untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

Tahan suku bunga

Sementara itu, RDG BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan/BI Rate di level 4,75 persen. Keputusan tersebut ditetapkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, dan memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1 persen. 

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20—21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen,” kata Perry.

Perry menegaskan, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yakni pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global. Juga dalam upaya mendukung capaian sasaran inflasi 2026 dan 2027, dan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menyatakan BI akan terus mencermati efektivitas transmisi pelonggaran moneter. 

Perry menuturkan, ruang penurunan suku bunga tetap terbuka ke depan. Hal itu memperhatikan stabilitas rupiah, inflasi, serta kondisi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Bank sentral juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong penurunan bunga kredit dan meningkatkan likuiditas perbankan agar penyaluran pembiayaan ke sektor riil meningkat.

Untuk mempercepat transmisi, BI memperkuat strategi operasi moneter pro-market melalui pengelolaan struktur suku bunga instrumen moneter dan swap valuta asing. Di sisi stabilisasi rupiah, BI menegaskan intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder guna meredam tekanan nilai tukar.

Diketahui, BI telah melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak lima kali sepanjang tahun 2025. Yakni pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September 2025, dengan pemangkasan masing-masing 25 bps. Dari awal tahun yang berada di level 6 persen, BI Rate telah turun 125 bps, hingga menjadi 4,75 persen di akhir 2025. Dan mengawali 2026, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat