Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saidi | Muhammad Arif Pribadi/ANTARA FOTO
16 Apr 2020, 01:09 WIB

Di Tengah Wabah Korona, MUI Mengajak Tingkatkan Solidaritas

Untuk mencegah penyebaran korona, MUI mengajak umat Islam untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.

  

JAKARTA –  Di tengah mewabahnya virus korona (Covid-19) di dunia, termasuk Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak umat Islam meningkatkan solidaritas dan saling membantu antarsesama.   

“Khususnya di antara tetangga di suatu kawasan agar menjaga kesehatan bersama dan mitigasi penyebaran Covid-19 serta saling menjaga ketertiban, keamanan, saling menanggung dan membantu kebutuhan (at-takaful wat-ta'awun),” kata Wakil Ketua Umum MUI KH Zainut Tauhid Sa'adi dalam Tausiyah MUI Menyambut Ramadhan yang disampaikan secara tertulis kepada Republika, Rabu (15/4).   

Dalam tausiyah yang disampaikan melalui surat Nomor: Kep-1065/DP-MUI/IV/2020 dan diterbitkan pada 15 April 2020 tersebut, MUI mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadhan tahun ini benar-benar sebagai momentum meningkatkan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.   

Terkait

"Serta, secara khusyuk berzikir, bermunajat, memperbanyak membaca Alquran, dan berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla agar pandemi Covid-19 dan wabah lainnya segera diangkat dan dihilangkan dari negara tercinta Indonesia dan negara-negara lain," ujar Kiai Zainut yang juga menjabat sebagai wakil menteri agama ini.   

Dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19, MUI juga mengajak umat Islam untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Apabila di suatu kawasan oleh instansi yang berwenang ditetapkan sebagai daerah yang rawan penyebaran Covid-19, umat Islam tidak boleh melaksanakan ibadah yang melibatkan berkumpulnya orang banyak.   

“Seperti shalat Jumat, jamaah shalat rawatib (shalat lima waktu), Tarawih, dan shalat Id di masjid atau tempat umum lainnya,” katanya. 

Begitu pula pengajian umum atau tabligh akbar, diimbau untuk tidak dilaksanakan karena berkumpul tidak diperbolehkan. "Ibadah-ibadah tersebut dapat dilaksanakan di kediaman masing-masing dengan tanpa mengurangi kekhusyukan dan keikhlasan. Pengajian umum atau tabligh akbar bisa dilakukan secara online (daring)," kata Kiai Zainut.  

MUI juga mengimbau umat Islam lebih meningkatkan amal saleh. Salah satunya, dengan membantu fakir miskin dan dhuafa, terutama di daerah sekitar tempat tinggal melalui penyaluran zakat, infak, dan sedekah.     

Khusus terkait zakat, lanjut Kiai Zainut, dapat dibayarkan lebih cepat dari waktunya (//ta'jil az-zakat//). Dalam hal ini, zakat fitrah dapat dibayarkan di awal Ramadhan tanpa menunggu malam Idul Fitri. Sementara, zakat mal, apabila telah mencapai nishab dapat dibayarkan lebih cepat tanpa menunggu genap satu tahun (hawalanil haul).  

Kepada pemerintah, MUI menyeru agar membatasi secara ketat pergerakan masyarakat yang akan melaksanakan mudik ke daerah lain. Hal itu karena kondisi daerah perkotaan umumnya tergolong tinggi penyebaran Covid-19. Artinya, apabila masyarakat di perkotaan mudik ke daerah lain, sangat berisiko menjadi mata rantai penyebaran Covid-19 ke daerah tujuan mudik.

 
Kepada umat Islam agar tidak melakukan mudik ke daerah lain dan silaturahim Lebaran dilakukan secara daring.
Wakil Ketua Umum MUI KH Zainut Tauhid Sa'adi 
 

   

MUI juga mendorong para pengelola media massa, khususnya TV dan radio, agar mempersiapkan berbagai program Ramadhan yang sejalan dengan nilai-nilai akhlakul karimah serta mengandung semangat gotong royong, saling membantu, dan berlomba dalam kebaikan. “Sehingga tercipta di tengah masyarakat religiusitas dan kebersamaan untuk menghadapi dampak terjadinya pendemi Covid-19,” tutur Kiai Zainut.

 

Harus menyesuaikan

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud mengatakan jika saat Ramadhan masih terjadi pandemi, tentu saja banyak kultur yang tidak bisa diterapkan. Sebut saja ibadah tarawih, sungkeman, mudik, ziarah. Akan ada sesuatu yang dirasa hilang nantinya.

Marsudi menekankan, umat Islam harus bisa menyesuaikan jika pandemi Korona masih belum selesai selama Ramadhan. Sebab dicegahnya kultur-kultur tertentu dikarenakan ada sebab yang harus dihindari.

Akan tetapi, kultur itu tetap bisa dilakukan dalam bentuk yang lain dengan akhlah yang baik. Contohnya, apabila raga atau fisik tidak bisa mudik, tapi tetap mengirim uang kepada keluarga di kampung. Apabila tidak sungkeman, bisa saling menyapa melalui sarana lain.

Jika tidak bisa beribadah berjamaah, maka manfaatkan kesempatan itu unthk berkumpul bersama keluarga. Mulai dari mengajarkan anak-anak mengaji, beribadah bersama. Saat Ramadhan masih pandemi, maka dahulukan yang lebih penting, yakni menjaga kesehatan dan jiwa yang merupakan tujuan syariah besar.

Penting untuk tetap mengikuti anjuran pemerintah dan agama, yakni menjaga kesehatan raga maupun jiwa. Bila belum ada penurunan kasus wabah secara signifikan, ambil hikmah adanya keakraban dengan keluarga.

"Ajari anak terawih, bapak jadi imam, ibu makmum, berjamaah. Syiar agama tetap bisa dilakukan, lebaran tetap kirim uang. Memang berat karena budaya bepuluh tahun jadi hilang, tapi anggap lebih enak bisa mengajari anak belajr agama," tambah Marsudi.


×