Azyumardi Azra | Dok Republika

Resonansi

16 Apr 2020, 02:05 WIB

Wabah Korona dan Filantropi

Menghadapi wabah virus korona, semangat filantropis warga perlu dipertahankan secara berkelanjutan.

Oleh Azyumardi Azra

Tidak diragukan lagi, wabah pandemi Covid-19 yang terus meningkat di Indonesia dan banyak negara lain tidak hanya mencabik-cabik kesehatan masyarakat, tetapi juga sekaligus mengancam keutuhan kohesi sosial. Terancamnya keutuhan sosial terus meningkat karena terus semakin banyak keluarga dan karib kerabat yang mereka cintai dan kasihi.

Lebih dari itu. Tenunan dan jejaring kohesi sosial kemudian menjadi rentan, rapuh, dan tercabik-cabik ketika banyak warga, terutama dari lapisan menengah bawah (lower middle class) dan kelas bawah (lower class) yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Mereka menjadi penganggur; tidak bisa lagi memberi nafkah diri sendiri, apalagi keluarga dan karib kerabat.

Mereka ini adalah para pekerja di sektor formal dan informal; pegawai kantor tengah dan rendahan, buruh pabrik, pekerja serabutan, pedagang gerobak, pedagang kaki lima, pedagang asongan, tukang parkir, ‘pak ogah’, buruh angkut, kuli, buruh tani, pekerja toko dan mal, sopir angkot, sopir Gojek dan Grab, sopir taksi, dan banyak lagi pekerja yang hidupnya bergantung dari pendapatan bulanan pas-pasan apalagi harian. 

Mereka semua blue collar, pekerja ‘berbaju kerah biru’ alias pekerja kasar. Nasib mereka payah dibandingkan white collar’, pekerja atau pegawai ‘berbaju kerah putih’ yang termasuk golongan menengah atas (middle middle class) dengan pendapatan bulanan tetap memadai (steady income).

photo
Anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta memberikan salam kepada warga seusai menyerahkan paket sembako di kawasan Panembahan, Yogyakarta, Rabu (15/4/2020). - (Antara Foto)

Mereka, kaum blue collar, sebagian besar adalah kaum miskin kota yang ketika kehilangan pekerjaan di perkotaan berbondong-bondong pulang mudik. Ada di antara mereka yang pulang mudik menyimpan virus korona; dan secara tidak sadar menginfeksi orang di kampungnya—banyak di antaranya adalah kaum miskin desa.

Sejak wabah korona menyebar ke berbagai wilayah Indonesia awal Maret, gelombang kaum blue collar yang kehilangan pekerjaan terus meningkat. Meski pemerintah pusat dan juga daerah sejak akhir Maret mengalokasikan dana untuk memberi santunan sosial-ekonomi, realisasinya masih ‘jauh panggang dari api’—jauh daripada memadai.

Mengapa bantuan pemerintah itu sedikit dan lambat? Hambatan klasik: keterbatasan APBN dan APBD yang kian sulit realisasinya karena belenggu birokratisasi dan administrasi. Kebanyakan kaum miskin kota dan warga miskin desa tidak terdata atau tidak lengkap datanya dalam daftar kependudukan atau daftar administrasi lokal.

Mereka juga misalnya perlu memiliki rekening bank untuk mendapat penyaluran bantuan keuangan yang tidak banyak: berkisar antara Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta untuk setiap keluarga terdampak virus korona. Rata-rata mereka tidak punya rekening bank akibat sistem keuangan dan perbankan Indonesia yang masih belum inklusif pada warga miskin.

Bantuan pemerintah tak seluruhnya berupa dana kontan. Sebagian besar adalah bahan pokok: beras, minyak goreng, gula, dan mi instan. Juga ada pengurangan biaya listrik atau penundaan kredit. Semua bantuan ini tidak bisa mendekati jumlah pendapatan yang sebelumnya mereka peroleh untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Menghadapi berbagai konstrain terkait bantuan pemerintah, Indonesia perlu bersyukur dan berterima kasih kepada warga individual, kumpulan masyarakat, ormas, lembaga filantropis, Baznas, Lazis, dan perusahaan. Mereka tanpa aba-aba pemerintah menggalang dan menyalurkan dana bukan hanya untuk menyantuni kaum miskin, melainkan juga membantu penyediaan sanitizers, masker, APD, dan ventilator yang jauh daripada cukup di rumah sakit milik pemerintah dan rumah sakit swasta.

Indonesia beruntung memiliki warga yang memiliki tradisi panjang dan kuat dalam hal gotong-royong dan solidaritas antarmanusia. Dalam beberapa tahun terakhir (2018 dan 2019), menurut kajian World Giving Index, Indonesia adalah negara dengan warga paling pemurah (most generous) memberi bantuan keuangan, barang (in-kind), waktu, dan tenaga.

photo
Sejumlah warga mengantre untuk pengambilan Zakat Infaq dan Shadakah (ZIS) di Aula Kantor Desa Cot Seulamat, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Ahad (12/4). - (ANTARA FOTO)

Penulis Resonansi ini pernah diwawancara CNN Internasional yang dalam surveinya menemukan, kaum Muslim Indonesia sebagai the most generous in giving and sharing—paling pemurah dalam memberi dan berbagi dibandingkan negara-negara Muslim lain. CNN menemukan, 92 persen Muslim Indonesia selalu memberikan infak, sedekah, zakat, dan wakaf (ziswaf) sesuai kemampuan ekonomi masing-masing.

Pemerintah tampak menyadari realitas ini. Menteri Agama, Fachrur Razi, misalnya, awal April mengeluarkan surat edaran yang juga berisi imbauan agar kaum Muslim dapat mengeluarkan ziswaf lebih awal; tidak menunggu Ramadhan atau menjelang Idul Fitri.

Menghadapi wabah virus korona, semangat filantropis warga perlu dipertahankan secara berkelanjutan untuk membantu mereka yang terkapar. Filantropi juga masih tetap sangat diperlukan setelah wabah korona berlalu; ketika ekonomi Indonesia mulai bergerak menuju pemulihan. n


×