Perawat membawa pasien di rumah sakit di Queens, New York, Selasa (7/4). Negara bagian itu mencatat jumlah kematian per hari paling tinggi, kemarin. | AP

Kabar Utama

09 Apr 2020, 01:50 WIB

Korban Melonjak, Trump Salahkan WHO

Warga Afrika-Amerika disebut jadi kelompok paling terdampak Covid-19.

 

NEW YORK – Penularan Covid-19 di Amerika Serikat belum menunjukkan tanda mereda dengan catatan kematian yang terus memecahkan rekor tertinggi. Kendati demikian, angka penularan diharapkan bisa segera melandai dalam beberapa waktu mendatang.

Pada Selasa (7/4), seperti dicatat pendataan John Hopkins University, hampir 2.000 kematian tercatat dalam 24 jam terakhir, membuat total korban meninggal di AS mencapai 12.857 jiwa. Jumlah itu jauh melampaui kematian terbanyak dalam sehari sebelumnya, yakni 1.330 kematian.

Jumlah kematian terbanyak dalam sehari tersebut tercatat di negara-negara bagian yang paling terdampak. Di antaranya New York (731 kematian), New Jersey (232 kematian), dan Conecticut (71 kematian).

“Di balik angka-angka itu adalah individu-individu, keluarga, seorang ibu, seorang ayah, saudari, saudara. Banyak nelangsa hari ini untuk warga New York,” kata Gubernur New York Andrew Cuomo dalam jumpa pers, seperti dilansir the New York Times, Selasa (7/4) waktu setempat.

Sedangkan, jumlah penularan kasus per hari sepanjang Selasa tersebut sebanyak 33.331. Jumlah itu adalah yang tertinggi kedua setelah jumlah penularan pada 3 April lalu sebanyak 34.196 kasus. Secara total, penularan di AS mencapai 400.549 kasus.

Angka itu jauh melampaui kasus penularan terbanyak selanjutnya sebanyak 146.690 kasus di Spanyol dan 135.586 kasus di Italia. Sedangkan, angka kematian di AS berada di posisi ketiga terbanyak di bawah Italia (17.127 kematian) dan Spanyol (14.555 kematian).

Kendati demikian, menurut data Departemen Pemadam Kebakaran New York, jumlah korban meninggal yang sebenarnya di AS bisa jadi jauh lebih banyak daripada yang dilaporkan pemerintah. Wali Kota New York City Bill de Blasio mengakui, kematian di rumah masing-masing korban memang belum sepenuhnya dihitung.

"Benar untuk berasumsi bahwa sebagian besar terkait dengan virus korona. Dan itu membuat kita semakin sadar dalam arti berapa banyak orang yang kita yang meninggal dunia, berapa banyak keluarga yang menderita, seberapa nyata krisis ini,” ujarnya dilansir Reuters, kemarin.

 

Data Departemen Pemadam Kebakaran New York didasarkan pada informasi yang dikumpulkan selama panggilan darurat yang melibatkan berhentinya jantung atau pernapasan, disertai demam dan batuk. Tanda-tanda itu adalah gejala khas dari kasus parah Covid-19. Menurut data, total 2.192 kematian di rumah dilaporkan dari 20 Maret hingga 5 April.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan dan Kesehatan Mental Kota New York mengatakan, jumlah kematian resmi hanya mencakup mereka yang menjalani tes yang mengkonfirmasi mereka terinfeksi virus. Juru bicara itu tidak tahu seberapa banyak orang yang meninggal di rumah yang telah diuji virus korona.

Persentase panggilan di mana paramedis tidak dapat menyelamatkan orang belakangan juga naik dari 48 persen menjadi 75 persen. "Seperti tidak pernah berakhir," kata seorang letnan paramedis pemadam kebakaran yang meminta untuk tidak diidentifikasi kepada Reuters. "Dan semakin buruk setiap hari,” ia melanjutkan. Sebelum wabah virus korona, menurut dia, lima unit rata-rata menerima 10 hingga 20 hari telepon yang mengakibatkan kematian.

Sedangkan, data Departemen Urusan Veteran AS menyatakan, jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di AS telah melampaui total 9.961 tentara tewas dalam perang Revolusi Amerika, Perang 1812, Perang Meksiko, Perang India, Perang Spanyol-Amerika, dan Operasi Desert Shield/Desert Storm di Irak.

Minoritas

USA Today melaporkan, pihak-pihak di AS juga mengkhawatirkan fakta bahwa tingkat kematian dari kalangan minoritas Afrika-Amerika jauh melampaui etnis lain di AS. Golongan tersebut diketahui paling rentan secara ekonomi dan masih kerap mendapatkan diskriminasi.

Sejumlah kota-kota yang paling terdampak di AS merupakan daerah dengan penduduk warga kulit hitam AS yang signifikan, seperti New Orleans, Detroit, dan New York. Selain itu, tingkat persentase kematian yang tak proporsional di kalangan Afrika-Amerika juga dicatatkan sejumlah negara bagian.

Di Louisiana, dari 512 kematian yang tercatat, sebanyak 360 atau 70 persen yang meninggal dari etnis Afrika-Amerika. Padahal, jumlah penduduk kulit hitam di wilayah itu kurang dari sepertiga total jumlah penduduk.

Di Illinois, dari 12.262 kasus, hanya 29,4 persen berasal dari golongan Afrika-Amerika. Kendati demikian, persentase tersebut meningkat hampir dua kali lipat (42 persen) saat yang dihitung adalah kematian dari kalangan kulit hitam AS. Sementara, di Michigan yang hanya 14 persen dari total penduduk merupakan warga kulit hitam, sebanyak 41 persen kematian datang dari kalangan tersebut.

Disparitas tersebut tak luput dari perhatian Gedung Putih. “Ini tantangan besar bagi bangsa kita. Kami ingin mencari apa alasan di balik hal tersebut,” kata Presiden AS Donald Trump terkait proporsi kematian Afrika-Amerika tersebut, Selasa waktu setempat.

 

Dr Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS yang menjadi juru bicara pemerintah AS terkait Covid-19, juga mengkhawatirkan hal tersebut. Ia mengatakan, disparitas kesehatan telah membuat dampak wabah Covid-19 di AS terasa paling parah pada komunitas Afrika-Amerika.

“Kami sangat risau tentang hal ini. Ini menyedihkan. Tak ada yang bisa kami lakukan saat ini kecuali memberikan mereka perawatan terbaik untuk menghindari komplikasi,” ujarnya saat mendampingi Presiden Trump. Sejauh ini, data menunjukkan bahwa kematian pada warga kulit hitam AS terkait dengan penyakit yang juga jamak pada komunitas tersebut yakni asma dan diabetes.

Berbagai pihak tengah mengkaji alasan Covid-19 bisa sedemikian merebak di AS. Beberapa pihak menyalahkan keterlambatan langkah pemerintah Presiden Trump memberlakukan pencegahan dan pengujian masif. Pihak oposisi juga menyoroti kesan meremehkan dampak Covid-19 pada masa-masa awal merebaknya di AS.

Kendati demikian, Presiden Donald Trump belakangan justru menyalahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Ia juga mengancam akan membekukan dana kontribusi untuk lembaga tersebut. AS adalah penyumbang dana terbesar untuk WHO selama ini.

Trump pun menilai WHO sangat “Cina-sentris” dalam pendekatannya. “WHO benar-benar gagal,” ujar Trump melalui akun //Twitter//-nya pada Selasa (7/4). Selain mengancam memangkas dana, Trump pun mempertimbangkan langkah untuk menarik AS dari WHO.

Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menolak kritik-kritik tersebut. Menurut dia, WHO telah melakukan pekerjaan luar biasa di bawah kepemimpinan Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus.

photo
Presiden Donald Trump saat menyampaikan keterangan terkait perkembangan Covid-19 di Washington, AS, kemarin. - (AP)

WHO membantu negara-negara dengan jutaan peralatan, membuat pelatihan, dan menyediakan pedoman global. “WHO menunjukkan kekuatan sistem kesehatan internasional,” ujar Dujarric. WHO belum memberikan komentar atas kritik yang dilayangkan Trump dan senator dari kalangan Partai Republik.

WHO menyatakan Covid-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 30 Januari, hampir sebulan sebelum Trump menyatakan bahwa penyebaran virus korona di AS sangat terkendali.

Meski begitu, WHO juga sempat mengecilkan ancaman Covid-19 dengan tidak menganjurkan penutupan perbatasan atau pembatasan perjalanan saat banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, mulai mengambil langkah-langkah tersebut. Baru pada Pada 11 Maret WHO menyatakan wabah Covid-19 sebagai pandemi.

Sejumlah pejabat di Taiwan juga belakangan mengungkapkan, mereka telah melaporkan potensi penularan Covic-19 antarmanusia ke WHO sejak akhir Januari. Namun, laporan itu tak ditindaklanjuti WHO dengan memperingatkan negara-negara lain. n 


×