Pelajar mengerjakan tugas sekolah di rumahnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (30/3/2020). | ARNAS PADDA/ANTARA FOTO

Nasional

Ujian Akhir Semester Siswa tak Boleh Tatap Muka

JAKARTA -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyusun kebijakan terkait ujian kenaikan kelas yang dilakukan selama pandemi Covid-19. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, sekolah bisa membuat ujian akhir semester (UAS) sendiri, tetapi tanpa bentuk tes yang harus mengumpulkan siswa.

Tata cara UAS dibebaskan sesuai kemampuan sekolah. Di dalam Surat Edaran (SE) Kemendikbud, diarahkan untuk kenaikan kelas dapat dilakukan dalam bentuk portofolio nilai rapor dan prestasi yang pernah diperoleh sebelumnya. Selain itu, sekolah juga bisa memberikan penugasan secara //online// atau dalam jaringan (daring). Bentuk asesmen lainnya juga diperbolehkan selama dilakukan tanpa bertatap muka secara langsung.

“Baik ujian sekolah maupun ujian akhir semester dirancang untuk mendorong aktivitas belajar yang bermakna,” kata Nadiem dalam keterangan yang diterima Republika, Selasa (31/3).

photo
Siswa SD mengerjakan tugas sekolah menggunakan aplikasi daring dari gawai sambil berjemur sinar matahari pagi di rumahnya di Laladon Gede, Desa Laladon, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/3/2020). - (ANTARA FOTO)

Dia menegaskan, ujian yang dilakukan harus menyesuaikan dengan kondisi saat ini yang cenderung tidak seefektif belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu, ia mengatakan, ujian yang dirancang tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh.

Nadiem mengatakan, fokus pembelajaran daring bukan hanya menguasai semua materi, melainkan kualitas dan esensi secara baik. “Guru-guru membimbing anaknya, bukan hanya memberikan tugas. Kami juga meminta sekolah yang muridnya belajar dari rumah, guru diperbolehkan mengajar di rumah,” kata dia.

Guru berbagi

Kemendikbud juga merilis laman ‘Guru Berbagi’. Laman ini digunakan untuk para guru berbagi konten pembelajaran daring yang semenjak masa darurat Covid-19 ini diberikan kepada para siswa.

Selama masa darurat Covid-19, sekolah-sekolah banyak yang memberlakukan belajar di rumah. Pada masa ini, banyak guru yang tidak siap dengan konten pembelajaran di rumah karena situasinya begitu tiba-tiba. Namun, di satu sisi, tidak sedikit juga guru yang siap dengan pembelajaran daring ini dan memiliki konten lebih mumpuni.

Plt Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Supriano mengatakan, sebagian besar masalah yang muncul adalah tidak siapnya konten pembelajaran daring. Terkait hal ini, untuk mendukung proses pembelajaran menggunakan teknologi, Kemendikbud meluncurkan laman Guru Berbagi.

“Di sini kita bisa mengajak partisipasi, kolaborasi, atau gotong royong kepada guru atau praktisi pendidikan, juga mungkin dari lembaga yang memang sudah melaksanakan proses ini. Menggunakan teknologi, kita berkolaborasi,” kata Supriano.

photo
Pelajar belajar dari rumah di Ambarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (23/3/2020). - (Antara Foto)

Dia menjelaskan, bagi guru yang mempunyai model pembelajaran daring yang dilakukan selama ini bisa diunggah ke laman tersebut. Dengan begitu, guru lain yang mengunjungi laman dapat melihat dan mencontoh apa yang dilakukan guru lain terkait pembelajaran daring.

“Saya rasa ini bisa menjadi kekuatan bagi guru yang belum mempunyai model sehingga mereka bisa membuka laman ini untuk melihat, misalnya tentang RPP atau proses pembelajaran yang menyenangkan,” kata dia.

Bagi guru yang tertarik bisa mengakses laman guruberbagi.kemdikbud.go.id. Setelah dibuka sekitar pukul 15.30 WIB, hingga Selasa (31/3) sore pukul 17.30 WIB tercatat sebanyak 65 RPP sudah diunggah oleh para guru.

Direktur GTK Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Praptono, mengatakan, format RPP diserahkan sepenuhnya kepada penulis. Tidak ditetapkan standar baku selama mencakup tujuan penilaian dan strategi terakhir.

“Pembelajaran dari rumah ini kan masih merupakan hal baru bagi sebagian besar guru. Kemudian, dalam dua pekan perjalanan ini, kita mendapat berbagai macam persoalan dan hambatan,” kata Praptono.

Seorang guru dari Kediri yang tergabung dalam Komunitas Guru Belajar, Devy Mariyatul Ystykomah, menilai, laman guru berbagi ini adalah hal yang positif. Sebab, guru memang harus belajar bersama-sama agar lebih terbuka pikirannya.

“Belajar sendiri saya rasa kurang. Karena, sekarang itu bukan hanya teori yang kita perlukan dalam kelas, melainkan praktik belajar dari teman lainnya, itu kita sadur atau bisa mempertemukan energi kita untuk belajar bareng,” ujar Devy. n

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat