Novelis Asma Nadia berpose untuk Harian Republika di sela-sela kegiatan Workhsop Kepenulisan pada gelaran Festival Republik 2019, di Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Ahad (29/12). | Thoudy Badai_Republika

Resonansi

28 Mar 2020, 02:00 WIB

Alih Fungsi, Moratorium, dan Percepatan menghadapi Korona

 

Oleh Asma Nadia

Insya allah kita tidak akan bernasib, seperti Italia, Spanyol, atau Iran. Saya sengaja memilih kata ?tidak? bukan ?belum? sebagai doa dan bentuk optimisme agar Indonesia segera melalui masa kritis ini tanpa harus kehilangan banyak hal.

Satu per satu berita baik atas kebijakan pemerintah, baik pusat maupun daerah mulai terdengar. Berbagai langkah yang mengembirakan, persis ketika rakyat membutuhkan lebih banyak kabar baik.

Jika pada awal merebak Covid-19 kita banyak berkutat di pengurangan sosialisasi, menghindari berkumpul atau keramaian, dan penanganan masalah darurat kesehatan, alhamdulillah kini mulai muncul ide-ide cerdas untuk mengatasi korona.

Alih fungsi wisma atlet menjadi rumah sakit darurat khusus perawatan penderita korona merupakan ide yang sangat brilian. Rumah sakit yang diprakarsai Menteri BUMN Erick Thohir ini mampu menampung ribuan pasien dan disiapkan hanya dalam hitungan minggu. Sungguh merupakan kabar luar biasa baik.

Kebijakan yang sama mungkin bisa diberlakukan di wilayah lain. Pemerintah daerah harus bergegas menyiapkan gedung-gedung yang memungkinkan untuk diubah fungsi menjadi rumah sakit darurat atau rumah karantina sementara.

Rumah karantina sementara sangat dibutuhkan untuk mengatasi migrasi besar-besaran dari Jakarta yang merupakan pusat penyebaran wabah. Pemerintah daerah bisa mewajibkan warganya yang bekerja dan datang dari Jakarta untuk dikarantina dulu selama 14 hari sebelum bertemu keluarga mereka di kampung atau setidaknya dipastikan mereka tidak membawa virus. Jika alat rapid test sudah ada, perlu segera dipercepat penyebaran ke daerah-daerah untuk digunakan sebagai antisipasi awal mencermati penyebaran virus di daerah.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan juga mengalihfungsikan beberapa gedung milik BUMD DKI sebagai tempat tinggal sementara para petugas medis. Mereka pun bisa beristirahat cukup dan membantu menghindari risiko jika tanpa disadari terkena dan membawa virus ke keluarga.

Alih fungsi juga mungkin perlu dilakukan pemerintah terhadap perusahaan atau industri yang bisa berperan untuk meminimalisasi penyebaran korona.

Produsen minuman beralkohol mungkin sementara bisa diambil alih untuk memproduksi sebanyak-banyaknya handsanitizer atau disinfektan. Di Korea justru produsen soju (minuman keras) yang bergerak langsung menyumbangkan bahan baku alkohol untuk memenuhi kebutuhan handsanitizer. Sementara pabrik sabun dan pembersih difokuskan untuk memproduksi disinfektan. Pabrik kimia bisa difokuskan untuk menyediakan zat kimia yang dibutuhkan demi mengurangi penyebaran virus.

Dengan begitu, cairan yang bisa membantu mematikan virus ini bisa diperoleh rakyat di mana-mana dan dengan mudah. Pemerintah bisa pula mendistribusikan penyebarannya ke daerah untuk menjawab kelangkaannya di pasaran. Entah dijual atau dibagikan, yang penting rakyat memiliki akses mudah mendapatkannya.

Hal lainnya, pemerintah mungkin bisa mengalihfungsikan pabik plastik agar bermutasi menjadi penyedia wadah plastik untuk cairan handsanitizer yang aman tanpa banyak disentuh. Tidak sedikit kelompok masyarakat yang sudah siap dengan materi cairannya, tapi sulit mendapatkan botol kemasan hingga untuk melemparkannya ke masyarakat. Apa lagi?

Pemerintah bisa saja mengalihfungsikan pabrik kain yang ada menjelma industri pembuatan masker dan alat pelindung diri (APD) petugas kesehatan. Dengan bahan yang ada, bisa dilakukan kajian apa yang mungkin dimodifikasi. Apa pula yang perlu ditambahkan. Pemerintah Turki sendiri mengambil alih sementara industri masker demi memenuhi kebutuhan rakyat, bukan untuk kepentingan bisnis.

Pada masa-masa seperti ini, segala sesuatu yang bisa diberdayakan harus difokuskan secara maksimal untuk meredam korona, termasuk pengambilalihan jika diperlukan, dengan pendekatan hukum sekalipun.

Ide brilian lain yang muncul dari pemerintah adalah moratorium.

Pemerintah menetapkan kebijakan keringanan kredit terbatas, ini juga melapangkan dada meski praktiknya barangkali memerlukan payung hukum. Akan lebih menarik jika pemerintah mengeluarkan kebijakan semacam moratorium tagihan kredit juga pajak, dan jika memungkinkan listrik.

Jika kredit mobil, rumah, motor, dan lainnya dberi penundaan pembayaran sementara dalam jangka waktu tertentu, banyak lapisan masyarakat bisa dengan tenang berdiam di rumah, tanpa setiap hari harus dikejar-kejar tagihan bulanan.

Masyarakat Indonesia cukup pandai meminimalisasi biaya makan, tetapi tentu berbeda dengan tagihan. Rakyat harus membayar seberapa pun sulit mencari uang. Jika tidak dibantu sungguh-sungguh, mereka terpaksa melanggar swakarantina yang diimbaukan.

Terpaksa bekerja untuk bayar cicilan, terpaksa keluar rumah, dan menjadi rentan sebagai pembawa atau korban penyebaran virus. Kebijakan moratorium keuangan jika diwujudkan dan dikawal dengan benar, akan memberi kepastian bagi masyarakat di Tanah Air untuk tinggal di rumah tanpa perasaan khawatir.

Ide yang sedikit terlambat, tetapi tetap juga harus diapresiasi adalah percepatan di segala bidang.

Upaya mendatangkan alat rapid test, obat yang dikabarkan bisa membantu mengatasi korona, juga sangat menggembirakan. Namun, mungkin sebaiknya tidak mendatangkan dari satu negara, Cina misalnya. Akan lebih bijak jika alat tersebut diperoleh dari Korea atau Singapura. Dengan begitu, kita bisa membandingkan mana alat yang bekerja dengan baik, karena tidak mustahil yang dideteksi negatif di satu alat, ternyata terdeteksi positif di alat lain yang lebih peka. Kesemuanya perlu lebih dulu diuji. Ya, bagaimanapun tetap lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sekalipun prinsip tersebut bukan pilihan yang sepenuhnya ideal. Namun setidaknya, semoga masih ada cukup waktu untuk membuat langkah- langkah agresif yang melindungi dan mengurangi risiko kematian rakyat di tanah tercinta. n


×