Ilustrasi APD | AP

Narasi

24 Mar 2020, 02:07 WIB

Gotong Royong Mengadakan APD Cegah Covid-19

Pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan APD bagi para tenaga medis untuk mencegah dan menangani covid-19.

Keterbatasan alat pelindung diri (APD) bagi para petugas medis yang menangani pasien memantik kekhawatiran berbagai pihak. Bukan hanya soal keterbatasan dana untuk pengadaan, ketersediaannya di pasaran juga menipis. Sejumlah pihak menolak berpangku tangan menghadapi keadaan tersebut.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi di Solo, misalnya, memproduksi sendiri APD bagi dokter dan perawat untuk menangani pasien yang terpapar virus korona. Setiap hari, tim RSUD dr Moewardi dapat memproduksi 100 hingga 200 unit APD. Direktur Utama RSUD dr Moewardi, Cahyono Hadi, mengatakan, produksi APD dilakukan karena sekarang sangat susah mencari APD di pasaran. Kalaupun ada, harganya mahal. "Maka, kami tim dari RSUD Moewardi mengakali bagaimana supaya kami bisa mandiri dan tidak tergantung dan kami bisa membuat suatu bahan APD yang sesuai dengan standar, tapi murah," kata dia kepada wartawan di Balai Kota Solo, Senin (23/3).

APD yang diproduksi tersebut mencakup satu set baju hazmat, termasuk masker bedahnya. Cahyono menjelaskan, APD tersebut dibuat dari bahan jenis polypropylene spunbond yang diklaim bebas dari bakteri. Bahan tersebut juga dipakai sebagai bahan APD saat RSUD dr Moewardi menangani kasus flu burung beberapa tahun lalu.

Bahan itu bisa didapatkan di toko-toko kain di Kota Solo. "Jadi, ini sudah sesuai dengan standar kami. Itu kami pakai dan ternyata itu baik," ujar dia. Proses produksi APD tersebut menggandeng penjahit-penjahit rumahan di sekitar RSUD dr Moewardi sehingga produksi harian maksimal 100-200 unit APD bisa tercapai. Ongkos produksi diperkirakan sekira Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per unit, tetapi belum termasuk PPN. "Dan, itu tidak kami komersialkan, tapi kalau ada sisa setelah kami pakai, maka kami kirimkan ke dinas kesehatan provinsi dan kami membantu rumah sakit-rumah sakit lain yang memerlukan," katanya. Produksi APD tersebut dimulai sejak Sabtu (21/3).

Tim RSUD dr Moewardi siap memproduksi lagi untuk hari-hari selanjutnya. Mereka juga siap menyuplai untuk kebutuhan rumah sakit lain, bahkan membantu rumah sakit lain agar bisa memproduksi sendiri. Produksi APD tersebut juga diklaim mampu mencukupi kebutuhan APD untuk dokter dan perawat yang menangani pasien Covid-19 di rumah sakit yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut. "Untuk kebutuhan per hari, tergantung pasiennya. Kalau pasiennya satu, berarti kami butuh sekitar 15 APD per hari, itu untuk tiga kali shift," ujarnya.

Terkait tenaga kesehatan yang menangani pasien korona, Cahyono mengatakan banyak tanpa menyebut jumlah. Tenaga kesehatan yang berjaga, termasuk satu dokter untuk semua pasien, dan satu perawat untuk satu pasien.

Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) Jawa Timur serta Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (Perdici) juga menemui Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di rumah dinasnya, Jalan Sedap Malam, Surabaya, Senin (23/3). Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk mengajukan bantuan APD terkait upaya pencegahan dan penanganan Covid-19. Adapun alat pelindung diri yang mereka butuhkan, seperti alat pelindung wajah yang terbuat dari mika, baju hazmat, masker, hingga ventilator (alat bantu pernapasan).

"Saya akan bantu ini, saya akan bantu buatkan. Insya Allah, kalau ini saya bisa. Kalau memang (kebutuhannya) itu, tak buatin. Aku minta contohnya saja,? kata Risma. Risma menyatakan akan menggandeng UMKM binaan Dinas Perdagangan (Disdag) Surabaya. ?Kami siap bantu, UMKM di eks lokalisasi Dolly juga bisa buat ini (baju overall)," ujar Risma.

Sementara untuk face shield atau alat pelindung wajah, Risma menyatakan bakal diproduksi secara mandiri oleh jajaran di Pemkot Surabaya. Risma menyanggupi pembuatan setidaknya 2.000 face shield dan baju overall untuk membantu kebutuhan tenaga medis.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan alat pelindung diri bagi para tenaga medis.

Presiden menyebutkan, sebanyak 105 ribu kit APD yang dipesan pemerintah sudah tiba di Indonesia dan siap didistribusikan ke daerah per hari ini. Perinciannya, sebanyak 45 ribu kit APD akan disalurkan ke Provinsi DKI Jakarta, Kota Bogor, dan Provinsi Banten. Kemudian, sebanyak 40 ribu kit APD akan didistribusikan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Bali.

Sebanyak 10 ribu kit APD dikirim ke seluruh provinsi di luar Jawa yang telah menetapkan status tanggap darurat korona dan sisanya sebanyak 10 ribu kit APD akan disimpan sebagai cadangan. "Masih banyak keluhan mengenai yang berkaitan dengan kelangkaan APD. Perlu saya sampaikan bahwa sekarang ini 180 negara, semuanya berebutan untuk mendapatkan, baik itu APD, baik itu masker, sanitizer, semua negara. Dan, kita alhamdulillah pada Sabtu kemarin, kita telah siap lagi 105 ribu APD," ujar Jokowi, di Jakarta, Senin (23/3).

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga menyambut bantuan alat kesehatan dari Cina seberat 12 ton yang tiba di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (23/3). Menurut dia, akan ada lebih banyak penjemputan alat kesehatan, seperti yang dilakukan oleh pesawat Hercules C130 ke Cina untuk menanggulangi penyebaran Covid-19.

Ke depan, kata dia, pesawat yang diberangkatkan kemungkinan akan lebih besar. "Pada hari-hari akan datang, akan terus lebih banyak lagi kegiatan seperti ini. Mungkin pesawat yang kami kirim lebih besar," ungkap Prabowo seusai menyerahterimakan alat kesehatan di Halim Perdanakusuma, Senin (23/3).

Alat kesehatan yang ia serah-terimakan kepada satuan kesehatan TNI tersebut nantinya akan didistribusikan ke rumah sakit yang membutuhkan. Menurut Prabowo, Menhan Cina juga menanyakan apa saja yang dibutuhkan oleh Pemerintah Indonesia. "Apa yang dibutuhkan rumah sakit di garis depan. Alat-alat itu saya kira sudah diketahui, ventilator, tes cepat, alat tes yang lengkap, APD, saya kira tidak jauh dari itu," tuturnya.


×