Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kiri), Deputi Gubernur Erwin Rijanto (kedua kanan) dan Rosmaya Hadi, memberikan keterangan pers mengenai langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas mon | ANTARA FOTO

Ekonomi

18 Mar 2020, 02:28 WIB

BI, The Fed, dan Dilema Suku Bunga

BI akan membantu menahan perlambatan ekonomi, melonggarkan likuiditas, dan menurunkan suku bunga acuan.

Penurunan suku bunga acuan bank sentral AS, the Federal Reserve (The Fed), membuka kembali ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan BI 7 Days Reverse Repo Rate. Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai, penurunan suku bunga bisa bisa tetap dilakukan meski berisiko melemahkan nilai tukar rupiah.

"Penurunan suku bunga the Fed itu memberi ruang untuk BI menurunkan suku bunga acuan, tapi kendalanya rupiah kita sedang tertekan," kata Piter kepada Republika, Selasa (17/3).

Piter meyakini, BI akan membantu menahan perlambatan ekonomi, melonggarkan likuiditas, dan menurunkan suku bunga acuan. Meski demikian, menurunkan suku bunga akan memunculkan potensi lebih memperlemah rupiah.

Pada Selasa (17/3), nilai tukar rupiah tembus di level Rp 15.083 per dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Piter mengatakan, tidak banyak pilihan kebijakan bagi BI. Intervensi juga sangat terbatas efektivitasnya.

 
"Namun, menurut saya, BI tetap saja perlu turunkan suku bunga karena rupiah tetap akan melemah walau suku bunga ditahan," katanya.
Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah
 

Penurunan suku bunga diharapkan bisa membawa stimulus pada perekonomian. BI telah menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25 persen pada Februari 2020 karena dipengaruhi oleh penyebaran wabah Covid-19. Saat ini suku bunga acuan BI sebesar 4,75 persen.

Menurut Piter, BI dapat menurunkan kembali suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sambil mengambil kebijakan moneter yang tetap akomodatif dan konsisten dengan prediksi inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran dan stabilitas eksternal yang aman. BI akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) pada 18-19 Maret 2020.

Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto, menilai, penurunan suku bunga acuan the Fed akan menjadi acuan bank sentral negara lain, termasuk BI.

"Dengan ekspektasi inflasi tahun ini masih on the target 2,5 persen kurang lebih satu persen memberikan ruang bagi BI menurunkan BI rate 25 basis poin menjadi 4,5 persen," ujarnya kepada Republika di Jakarta, Selasa (17/3).

Ryan optimistis, hal ini akan mendukung gerak perekonomian Indonesia melalui jalur perbankan. Ryan juga optimistis rupiah tidak akan tertekan dalam karena Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca dagang Februari 2020 sebesar 2 miliar dolar AS. Dia juga meyakini bank sentral negara lain akan mengikuti langkah the Fed.

Ryan berharap, penurunan suku bunga bank sentral bisa segera ditransmisikan dalam suku bunga kredit perbankan dalam negeri. "Cepat atau lambat perbankan juga akan menyesuaikan suku bunganya sesuai arah suku bunga acuan BI," katanya.


×