Seorang anak berusia tiga tahun penderita demam berdarah dangue (DBD) sedang dirawat di salah satu ruangan di RSUD Prof WZ Johanes di Kota Kupang, NTT, Jumat (7/2/2020). | Kornelis Kaha/Antara Foto

Kabar Utama

12 Mar 2020, 02:00 WIB

‘DBD Tahun Ini Paling Parah’

 

SIKKA -- Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyatakan, kasus demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten itu kali ini merupakan kasus terparah sepanjang sejarah kejadian luar biasa (KLB) DBD di sana. Sejauh ini, sebanyak 37 orang telah meninggal karena DBD di daerah itu. Sebanyak 14 anak turut menjadi korban meninggal.

Pelaksana Tugas Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus mengatakan, KLB DBD sudah pernah terjadi empat kali di kabupaten itu, termasuk tahun ini. "Empat kali KLB DBD itu terjadi pada tahun 2010, 2013, 2016, dan yang keempat adalah 2020 saat ini," kata dia di Maumere, Kabupaten Sikka, kemarin.

Ia membandingkan, pada 2016, kasus DBD yang terjadi di daerah itu mencapai kurang lebih 620 kasus dengan korban yang meninggal 13 orang. Pada 2020, terhitung sejak Januari hingga Rabu (11/3) pagi, jumlah kasus DBD di daerah itu sudah mencapai 1.216 kasus dengan korban meninggal mencapai 14 orang. "Di tahun 2020 ini, baru masuk bulan Maret saja jumlah kasusnya mencapai 1.216 kasus dengan korban yang meninggal 14 orang. Ini sudah sangat tinggi," tutur Petrus.

Status KLB ditetapkan berdasarkan perbandingan penularan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menurut Petrus, KLB di Sikka pertama kali dinyatakan pada awal Januari lalu. Sejauh ini, KLB sudah diperpanjang hingga empat kali.

Ia mengatakan, kasus DBD di kabupaten itu sudah dievaluasi dan dikatakan bahwa penyebab utama dari meningkatnya kasus DBD karena masalah drainase yang ada di wilayah perkotaan, perdesaan, serta kecamatan. Selain itu, penyebab lainnya adalah kesehatan lingkungan. "Kemudian juga terkait dengan perilaku masyarakat yang tak peduli dengan kebersihan lingkungan atau juga kebersihan rumah tak selalu dimaksimalkan," ujar dia.

Oleh karena itu, kata Petrus, perjuangan pemerintah setempat adalah menjalankan instruksi bupati, yakni melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) setiap hari dalam kurun waktu 14 hari ke depan mulai dari pukul 07.00 WITA sampai dengan 09.00 WITA.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, angka DBD di Sikka sebenarnya sudah tinggi sejak 10 tahun terakhir. Namun, kasus DBD kembali tinggi tahun ini karena faktor perilaku masyarakat setempat, seperti menimbun ban dan bercocok tanam dengan cara hidroponik yang menyebabkan genangan air.

"Jadi, kasus DBD di Kabupaten Sikka termasuk salah satu yang terbesar. Hingga 11 Maret 2020, sebanyak 1.209 kasus DBD terjadi di Sikka dan angka kematiannya hingga 14 jiwa anak berusia 14 tahun atau sekitar 30 persen dari kematian total," ujarnya di Kemenkes, Jakarta, Rabu (11/3) sore.

Nadia menambahkan, banyaknya kasus di Sikka membuat pasien di kabupaten itu mendapatkan pelayanan kesehatan tidak di ruang perawatan. Nadia mengatakan, fasilitas kesehatan di sana telah menambah ruang perawatan medis di klinik geriatri karena kapasitas tempat tidur di rumah sakit terbatas. Padahal, dia menambahkan, kalau pasien DBD yang dirawat dalam jumlah besar dan masih terkendali, mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan lebih baik.

Selain itu, ia menambahkan, pihak fasilitas pelayanan kesehatan menyiasati membeludaknya pasien dengan merujuk pasien DBD ke fasilitas kesehatan lain. "Karena bukan hanya DBD yang dirawat di rumah sakit di situ kan, melainkan juga tifus, jantung, hingga kanker. Jadi, kalau banyak pasien DBD maka kapasitas RS tidak mencukupi," kata Nadia.

Tak hanya itu, ia mengakui, tidak semua pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Sikka memiliki kemampuan tenaga kesehatan yang sama dalam mendeteksi dan merawat pasien DBD. Selain itu, ia mengakui, ada juga masyarakat yang tidak mau dirujuk hingga jadi sangat terlambat untuk ditangani.

"Begitu penderita DBD sudah memasuki fase agak tidak sadar atau syok, kemudian baru dirujuk. Padahal, di kondisi tertentu, pasien sudah tidak bisa dikembalikan kondisinya jadi lebih baik. Makanya 14 orang itu tidak tertolong," ujar Nadia. Apalagi, ia menambahkan, pasien di Sikka harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk dirujuk ke Kota Maumere.

Nadia menambahkan, mulai 1 Januari 2020 hingga pekan ke-11 tahun ini atau 11 Maret 2020, kasus dan kematian akibat DBD terus terjadi. "Total kematian 104 jiwa dan total kasus 17.781," ujarnya.

Angka kematian terbesar di NTT yaitu 37 orang, Jawa Barat 15 orang, Jawa Timur 13 orang, dan Lampung 11 orang. Sementara itu, ia menyebutkan, belasan ribu kasus DBD terjadi di 371 kabupaten/kota di 28 provinsi. Paling banyak di Lampung dengan 3.423 kasus. "Kabupaten yang menetapkan kejadian luar biasa (KLB) adalah Kabupaten Sikka dan Kabupaten Belitung," kata Nadia.

Kasus DBD di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memasuki bulan Maret 2020 juga meningkat tajam. Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung Khabib Mualim mengatakan, kasus DBD pada Januari 2020 hanya terjadi di empat kecamatan, kini menyebar di 19 kecamatan selama bulan Maret 2020.

Korban meninggal karena penyakit ini juga bertambah, dari semula satu orang kini menjadi tiga orang. Khabib menyampaikan, pada awal Januari hingga awal Februari 2020, sebaran kasus DBD terjadi di 60 desa di empat kecamatan dengan jumlah kasus 160. Namun, sejak Februari hingga awal Maret 2020, kasus DBD langsung melonjak menjadi 470 kasus yang tersebar di 115 desa di 19 kecamatan. "Hanya Kecamatan Bansari yang nihil kasus DBD," kata dia.

Khabib menyebutkan, dari 470 kasus DBD di Temanggung, 161 adalah kasus DBD, 202 kasus demam dengue (DD), 2 kasus sindrom syok dengue, dan DBD yang diiringi kasus lainnya sebanyak 105 kasus. Ia menyampaikan, dalam upaya pencegahan DBD, Dinkes Kabupaten Temanggung telah menggalakkan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). n  ';

×