Seorang korban penembakan masjid di Christchurch mengikuti acara di Selandia Baru | AAP/SNPA

X-Kisah

12 Mar 2020, 02:00 WIB

Negeri Toleran Itu Dihantui Kebangkitan Ekstrem Kanan

 

Beberapa hari sebelum peringatan pertama penembakan jamaah masjid di Christchurch, sebuah unggahan muncul di aplikasi media sosial Telegram. Unggahan itu memperlihatkan seorang pria menggunakan balaclava--penutup kepala yang hanya menampilkan mata--di luar salah satu masjid. Unggahan tersebut memperlihatkan ancaman dan emoji senjata.

Pesan itu adalah pesan terbaru dalam sejumlah ancaman terhadap minoritas di Selandia Baru. Ini menjadi bukti analisis para ahli yang menyatakan peningkatan kejahatan rasial dan xenofobia sejak penembakan yang membunuh 51 orang oleh seorang tersangka supremasi kulit putih pada 15 Maret tahun lalu di Masjid Al Noor dan Linwood.

Setelah serangan terjadi, curahan cinta dan kasih sayang bagi komunitas Muslim datang dari seluruh penjuru Selandia Baru. Terlebih, Perdana Menteri Jacinda Ardern bergerak cepat dengan mengesahkan undang-undang baru tentang senjata dan memulai gerakan global untuk membasmi kebencian secara daring. Hal ini bahkan diangkat Ardern di Sidang Umum Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Namun, serangan itu juga menginspirasi kaum nasionalis kanan dan pegiat antiimigrasi. Kelompok ini menjadi lebih aktif baik secara daring maupun di dunia nyata. "Serangan itu tentu membuat orang yang berani menyebarkan kebencian," kata Dewan Wanita Islam Selandia Baru, Anjum Rahman dilansir Reuters, kemarin.

Lembaga itu telah berulang kali memperingatkan pemerintah dalam satu tahun terakhir tentang bangkitnya sikap ekstrem. Mereka melihat telah terjadi peningkatan ancaman yang dirasakan oleh wanita Muslim di Selandia Baru.

Rahman melaporkan ancaman terbaru terhadap masjid Al Noor ke polisi setelah ditunjukkan gambar di aplikasi pesan terenkripsi Telegram. Polisi mengatakan, seorang pria berusia 19 tahun ditangkap dan akan disidang di pengadilan akhir bulan ini.

Laporan media lokal mengaitkan lelaki itu dengan kelompok nasionalis kulit putih bernama Action Zealandia. Kelompok ini dibentuk pada Juli 2019, hanya beberapa bulan setelah serangan Christchurch. Situs kelompok tersebut menyatakan membangun komunitas untuk orang Eropa bagi Selandia Baru.

Dalam pertemuan komite parlemen yang diketuai oleh Ardern bulan lalu, Direktur Jenderal Keamanan Intelijen Keamanan Selandia Baru, Rebecca Kitteridge, menyatakan persetujuan atas komentar para aktivis dan analis. Dia mengatakan, serangan yang terjadi memberikan dorongan dan inspirasi kepada beberapa orang.

"Kami mendapat lebih banyak informasi tentang lebih banyak orang yang mengekspresikan pandangan ekstremis daripada yang kami miliki sebelum 15 Maret, dan beberapa dari orang-orang itu ada sebelumnya, dan kemudian ada dampak serangan itu sendiri setelahnya," kata Kitteridge.

Antara 30 dan 50 orang sedang diselidiki secara aktif oleh agensi tersebut pada saat tertentu karena menimbulkan ancaman teror. Angka itu menjadi jumlah yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Kitteridge mengatakan, antara 15 Maret dan akhir Juni 2019 agen mata-mata menerima petunjuk tentang orang-orang yang mengekspresikan pandangan rasialis, Nazi, identik, atau supremasi kulit putih.

Selain pergerakan secara daring, di tengah masyarakat langsung muncul poster-poster supremasi kulit putih di universitas-universitas Auckland. Keberadaan poster ini makin gencar dalam beberapa pekan terakhir menjelang peringatan 15 Maret.

Paul Spoonley dari Massey University telah meneliti ekstremisme sayap kanan selama beberapa dekade. Dia menyatakan, ada sekitar 60 hingga 70 kelompok dan jumlahnya kira-kira antara 150 dan 300 orang aktivis sayap kanan di Selandia Baru

Spoonley menekankan, jumlah tersebut hampir sama dengan aktivis sayap kanan di Jerman. "Selandia Baru sekarang menjadi bagian dari ekosistem sayap kanan internasional dengan cara yang tidak dapat Anda katakan 20 tahun lalu," katanya.

Selandia Baru termasuk negara yang menjunjung tinggi toleransi. Namun, kata Spoonley, itu bukan berarti tidak ada orang-orang ekstrem kanan. Mereka ada dan makin kuat keberadaannya.

Dengan tamparan fakta-fakta berkembangnya pemikiran ekstrem kanan, Perdana Menteri pun mencoba melakukan pekerjaan lebih keras. "Kita harus kembali ke dasar mengapa orang-orang merasa bahwa mereka dapat membuat ancaman semacam itu terhadap nyawa orang lain,? kata Ardern.

Selandia Baru tidak pernah mencatat pelanggaran kejahatan rasial spesifik, seperti di AS dan Inggris. Maka kondisi kini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang mungkin terlewatkan oleh badan-badan keamanan.

Menteri Kehakiman Andrew Little menyatakan, polisi sekarang mulai merekam contoh-contoh pelanggaran yang tampaknya dimotivasi oleh kebencian. Kementerian Kehakiman juga sedang meninjau undang-undang tentang ujaran kebencian, meskipun ini ditentang oleh kelompok-kelompok yang mengatakan kebebasan berbicara akan dibatasi. n


×