Petugas Dinas Kesehatan menunjukkan nyamuk saat melakukan kegiatan pemberantasan jentik nyamuk di kawasan kota Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (6/2/2019). | ANTARA FOTO

Kabar Utama

11 Mar 2020, 02:00 WIB

Jangan Abaikan DBD

Kematian akibat demam berdarah dengue telah mencapai 104 jiwa sepanjang 2020.

 

JAKARTA – Sementara merebaknya virus korona jenis baru (Covid-19) jadi buah bibir di Tanah Air, demam berdarah dengue (DBD) sudah merenggut lebih dari 100 jiwa di Tanah Air. Meski angka penularan belum setinggi periode yang sama tahun lalu, sejumlah daerah melaporkan lonjakan kasus.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sudah sebanyak 104 jiwa meninggal dunia akibat penyakit DBD selama periode 1 Januari-10 Maret 2020. Kematian terbanyak akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan total 32 jiwa.

"Total kematian 104 jiwa dan total kasus 17.781," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi Republika, Selasa (10/3). Selain di NTT, menurut dia, kematian juga terjadi di Jawa Barat (15 orang), Jawa Timur (13), Lampung (11), Jawa Tengah (4), Bengkulu (3), dan Sulawesi Tenggara (3).



Selain itu, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara masing-masing 2 kematian. Kemudian Jambi, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumatra Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, masing-masing satu.

Ia menyebutkan kasus terbanyak terjadi di Lampung (3.423 kasus), NTT (2.711), Jawa Timur (1.761), dan Jawa Barat (1.420). Selain darah-daerah itu, penularan merentang dari 91 hingga 700 kasus. "Kabupaten yang menetapkan kejadian luar biasa (KLB) adalah Kabupaten Sikka dan Kabupaten Belitung," katanya.

Untuk menangani kasus DBD, Nadia mengaku pihaknya telah menyalurkan mesin fogging, raket nyamuk, insektisida, larvasida, dan repellent nyamuk. Kemenkes juga memantau kasus dan menganalisis data di posko DBD. "Khusus Kabupaten Sikka juga ada penambahan tenaga kesehatan, baik dari kabupaten lain atau dari TNI dan tentunya TNI yang ada di Kabupaten Sikka," katanya.

 
Kadang-kadang berita ini kalah (oleh pemberitaan virus korona) padahal fatality-nya lebih tinggi (penyakit DBD).
Ridwan Kamil
 



Sementara itu, tingginya angka penularan di Sikka, manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers, Maumere, terpaksa menggunakan ruangan perawatan bedah karena tak bisa menampung lagi pasien DBD. "Beberapa pasien DBD terpaksa kami tempatkan di ruang perawatan bedah karena memang seluruh ruangan khusus pasien yang sakit sudah penuh," kata Direktur Umum RSUD TC Hillers dr Marietha L.D Weni di Maumere, Selasa (10/3).

Selain menggunakan ruangan perawatan bedah, pihaknya juga terpaksa menambah kasur baru di klinik Giriati khusus untuk pasien DBD. Marietha mengatakan, memang di RS tersebut tak ada ruangan khusus bagi pasien DBD. "Kalau pasien DBD anak kami tempatkan di ruangan anak, kalau dewasa kami tempatkan di ruangan dewasa. Jadi memang tak ada ruangan khusus bagi pasien DBD ini," kata dia.

Sejauh ini, RS TC Hillers sudah merawat 944 pasien dengan jumlah yang meninggal mencapai 12 orang. "Yang terakhir meninggal Senin (9/3) kemarin sekitar pukul 19.00 wita, setelah dirujuk dari RS Santo Gabriel Kewapate pada pukul 15.00 Wita. Korban dirujuk sudah dalam keadaan shock sindrum dengan keadaan gusi berdarah dan ada pendarahan ketika BAB," kata dia.



Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka melaporkan hingga Selasa (10/3) malam waktu setempat, jumlah korban yang meninggal akibat DBD bertambah menjadi 14 orang. "Sebelumnya hanya 13 orang," kata Pelaksana Tugas Kadis Kesehatan Petrus Herlemus di Maumere, kemarin.

Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil mengatakan, dari Januari hingga awal Maret 2020 ada 15 warga Jabar yang meninggal dunia akibat DBD. Jumlah itu masih di bawah angka pada periode yang sama pada 2019 sebanyak 49 kematian.

"Kadang-kadang berita ini kalah (oleh pemberitaan virus korona) padahal fatality-nya lebih tinggi (penyakit DBD)," kata Ridwan Kamil di Bandung, Selasa. Ia menyatakan sudah mengingatkan kepada seluruh warga untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan menjalankan program hidup sehat dan bersih.

Angka penularan DBD di Indonesia selalu fluktuatif dari tahun ke tahun. Pada 2018, angka penularan sempat mencapai titik terendah dalam enam tahun terakhir pada 53.075 kasus (344 kematian). Namun, setahun setelahnya, pada 2019, terjadi lonjakan tiga kali lipat menjadi 137.761 dengan kematian hampir mencapai 1.000 jiwa. Namun, jumlah itu masih lebih rendah dari rekor tertinggi enam tahun belakangan pada 2016 yang mencapai 204.171 kasus dengan 1.549 kematian.


×