Importir Bawang Putih Terkendala Regulasi | Republika

Ekonomi

Bawang Putih Segera Masuk Pasar

Kementan siap melakukan operasi pasar.

 

JAKARTA – Kementerian Perdagangan memastikan harga bawang putih akan segera turun. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto mengatakan, pemerintah telah menerbitkan izin impor komoditas tersebut. Meski tidak menjelaskan detail izin impor yang diterbitkan, dia optimistis ketersediaan stok akan menekan harga di pasaran. 

“Sudah dikeluarkan izin impor bawang putih. Segera akan turun harga,” kata Suhanto kepada Republika, Senin (9/3). 

Suhanto mengatakan, saat ini tidak perlu diadakan operasi pasar (OP). Menurut dia, harga akan turun seiring dengan izin impor yang diterbitkan. Dia mengaku, Kemendag juga akan segera merespons permohonan izin importasi setelah rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) dari Kementan terbit. Selain bawang putih, kata dia, izin impor bawang bombai juga sudah diterbitkan. "Segera akan masuk itu barang," ujar Suhanto.

Harga bawang putih terpantau masih tinggi di sejumlah daerah. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga rata-rata bawang putih ukuran sedang sebesar Rp 45 ribu per kilogram (kg) pada Senin (9/3).

Harga bawang putih di retail modern pun masih berada di atas harga acuan. Berdasarkan pantauan di salah satu supermarket di Depok, Jawa Barat, bawang putih dijual seharga Rp 54.900 per kg. Kemendag menetapkan, harga acuan untuk komoditas bawang putih sebesar Rp 32 ribu per kg sementara di retail modern, dipatok maksimal Rp 35 ribu per kg. 

Sejumlah pedagang di pasar tradisional mengeluhkan harga komoditas bawang putih yang masih mahal. Selain harga yang mahal, ketersediaan pasokan juga dinilai minim. Pemerintah diminta untuk melakukan langkah intervensi sebelum memasuki Ramadhan pada April mendatang.

Yolanda (44 tahun), salah satu pedagang sembako di Pasar Anyar Bogor, mengatakan, bawang putih masih dihargai Rp 45 ribu per kilogram (kg). Menurut dia, harga sudah berangsur turun mulai awal Maret dari sebelumnya di atas Rp 60 ribu per kg.

"Ini sudah mulai turun. Tapi belum normal itu. Masih mahal. Harusnya biasa paling mahal Rp 30 ribu per kg," kata Yolanda.

Menurutnya, harga mulai mahal sejak awal tahun saat isu virus korona ramai diberitakan. Menurut Yolanda, informasi yang diterima pedagang dari pemasok akibat ada gangguan dari Cina karena mayoritas bawang putih diimpor dari sana.

Sementara itu, Eneng Nurhasanah (47), menuturkan, harga sempat menyentuh Rp 70 ribu per kg pada awal Februari lalu. Padahal, pada akhir 2019, bawang putih hanya dihargai Rp 25 ribu per kg. Senada dengan Yolanda, Eneng menuturkan, informasi yang diterima pedagang soal penyebab mahalnya bawang putih akibat virus korona.

Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) menyatakan terus melanjutkan operasi pasar bawang putih untuk terus menekan harga hingga ke level normal. Kepala Distribusi Cadangan Pangan BKP Inti Pertiwi menyatakan, khusus untuk wilayah Jakarta, pihaknya bekerja sama dengan Food Station Tjipinang Jaya untuk melakukan pemantauan di 24 pasar tradisional. Untuk di luar Jakarta, pihaknya akan langsung melakukan distribusi bawang putih jika terdapat permintaan bantuan stok.

"Operasi pasar kita terus lakukan tapi khusus di pasar yang harganya cenderung tinggi. Sejauh ini, harganya masih relatif antara Rp 35 ribu di pasar induk dan Rp 55 ribu di pasar eceran," kata Inti.

Lebih lanjut, selain memperhatikan harga komoditas, pihaknya juga mempertimbangkan keseimbangan pasar. Sebab, terdapat beberapa pasar yang konsumennya mengalami penurunan daya beli. Kendati pasokan tersedia banyak, stok tidak terjual.

"Bawang putih memang agak unik. Jadi, kalau memang dia tidak butuh kami tidak distribusikan karena akan menganggu keseimbangan pasar," ujarnya.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menyarankan, operasi pasar yang dilakukan langsung menyentuh pedagang eceran. Mansuri mengatakan, para pedagang harus mendapatkan suplai bawang putih dengan harga murah dan jumlah yang besar.

"Tapi, pedagang di pasar eceran, bukan pasar induk. Karena apa? Dari pasar induk ke eceran itu masih ada dua rantai," ujarnya.

Abdullah juga meminta pemerintah meningkatkan koordinasi dengan asosiasi untuk menyambut periode Ramadhan. "Ini sudah harus ada treatment khusus karena waktu tinggal satu bulan lagi. Ingat, kalau sekarang saja harga sudah mahal bulan puasa mahalnya lebih-lebih lagi," kata dia. n 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat