Cerpen Yang Wajib itu Shalat | Daan Yahya/Republika

Sastra

Yang Wajib Itu Shalat

Cerpen M Afin Masrija

Oleh M AFIN MASRIJA

Jaim hampir tak percaya pada apa yang dilihatnya sore itu. 

Sungai Brantas mengalir tenang, seolah tahu ada sesuatu yang sedang disaksikan manusia. Airnya tak keruh, tak pula benar-benar jernih—seperti iman kebanyakan orang: cukup untuk berjalan, tapi mudah tenggelam oleh ragu.

Di tengah sungai, seorang lelaki tua berjubah putih  melangkah pelan. Jubah putihnya tak basah. Ujung kainnya melayang tipis, disentuh angin senja yang membawa aroma dedaunan basah. Wajah lelaki itu tenang, seperti wajah orang yang sudah selesai dengan urusan dunia. Janggutnya memutih, matanya redup namun tajam, seolah menyimpan cahaya yang tak silau.

Langkahnya ringan, tak memercikkan air. Jaim mengucek matanya sekali, dua kali. Sungai itu nyata. Lelaki itu juga nyata. Tapi hukum yang ia pelajari sejak kecil seolah runtuh begitu saja.

“Masya Allah…” seseorang berbisik di belakangnya.

Lelaki itu berhenti di tengah arus. Ia menggelar sorban tipis, menghadap kiblat, lalu berdiri tegak. Tak ada gerakan yang berlebihan. Tak ada isyarat ingin dipuja. Dua rakaat shalat ia tunaikan dengan tenang, seolah dunia hanya tinggal dia dan Tuhan.

Angin sore tiba-tiba berhenti. Burung-burung yang biasa ribut di tepi sungai mendadak diam.

“Itu Syaikh Asri,” kata seorang lelaki tua di dekat Jaim. “Wali dari selatan.”

Jaim menelan ludah. Dadanya berdegup seperti kentongan dipukul tanpa irama. Kata wali yang selama ini hanya ia baca dalam kitab—kisah orang-orang yang melampaui kebiasaan manusia—kini berdiri di hadapannya.

Sejak hari itu, batin Jaim tak pernah benar-benar pulang. Ia santri di langgar kecil milik Kyai Mimbar. Ngajinya tak pernah bolong. Wiridnya ia jaga. Tapi hatinya seperti tertambat di Sungai Brantas, tepat di bawah telapak kaki orang yang berjalan di atas air.

Malam-malamnya dipenuhi rasa gelisah. Ketika santri lain terlelap, Jaim sering terjaga, menatap langit-langit bambu langgar. Kentongan di sampingnya tergantung diam, tapi dadanya ribut oleh pertanyaan.

“Kalau memang ada wali seperti itu,” gumamnya, “mengapa aku belajar pada yang biasa-biasa saja?”

Setiap kali mengambil air wudhu, ia teringat bagaimana kaki itu menapak tanpa tenggelam. Setiap kali shalat, bayangan dua rakaat di tengah sungai muncul tanpa diundang.

“Apa aku salah tempat?” gumamnya suatu malam.

Rasa penasaran itu tumbuh seperti ilalang. Makin dicabut, makin kuat akarnya. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri bercerita kepada Kyai Mimbar.

Sore itu Kyai Mimbar duduk di teras langgar, menambal sandal jepit yang talinya putus. Tangannya cekatan, kepalanya sedikit miring, kacamata tuanya melorot ke ujung hidung.

“Kyai,” kata Jaim pelan, “sampeyan pernah dengar tentang Syaikh Asri?”

Kyai Mimbar tidak langsung menjawab. Ia meniup ujung paku, lalu memukulnya pelan dengan batu.

Sing mlaku neng banyu kuwi?” tanyanya datar.

“Iya, Yai.” Mata Jaim berbinar. “Beliau wali besar. Karomahnya luar biasa. Orang-orang bilang—”

—yo wis,” potong Kyai Mimbar, tetap tanpa menoleh. “Terus piye?”

Jaim terdiam. “Sampeyan ndak tertarik, Yai?”

Kyai Mimbar akhirnya mengangkat kepala. Menatap Jaim sebentar, lalu tersenyum tipis, seperti orang dewasa yang mendengar celoteh bocah.

“Jim,” katanya pelan, “sing wajib kuwi shalat. Dudu sakti.” Lalu kembali ke sandalnya.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa tekanan, tanpa nada menggurui. Tapi justru karena itulah Jaim merasa tersinggung. Seolah ceritanya tak penting. Seolah apa yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri tak lebih dari debu di jalanan. Sejak hari itu, Jaim mulai membandingkan, meski ia sendiri tak pernah mengakuinya secara jujur.

Sejak hari itu, Jaim mulai membandingkan, meski ia sendiri tak pernah mengakuinya secara jujur.

Syaikh Asri: wali kesohor, karomahnya masyhur, didatangi orang dari berbagai kota. Kyai Mimbar: kyai kampung, bajunya itu-itu saja, kadang tak punya uang, sering cekcok dengan santri perkara sepele—cuaca, kayu bakar, atau sandal yang tak rapi—dan lebih sering dimarahi Bu Nyai daripada dimuliakan orang.

Bahkan orang-orang pasar sering menyamakan Kyai Mimbar dengan pemain ludruk.

Ngomonge sak karepe,” kata mereka.

“Yai opo pelawak, yo?” celetuk yang lain.

Jaim diam saja mendengarnya. Dalam hatinya, ia mulai mengangguk. Ia tak pernah melihat Kyai Mimbar melakukan sesuatu yang melampaui nalar. Jika maqam itu tangga, pikirnya, Kyai Mimbar jelas masih di anak tangga bawah.

Malam-malam Jaim sibuk dengan kitab tasawuf. Ia membuka Ihya’ Ulumuddin, kisah para wali dalam Hilyatul Auliya’. Semua kisah itu seolah mengarah pada satu simpulan: apa yang dilakukan Syaikh Asri adalah karomah sejati.

“Jauh sekali,” pikir Jaim. “Jauh maqamnya dari Syaikh Asri.”

Niatnya pun mengeras. Setelah istikharah, ia merasa mantap.

“Aku akan boyong,” katanya dalam hati. “Besok pagi aku pamit.”

Niat itu tumbuh diam-diam, lalu membesar. Setelah istikharah, hatinya mantap. Ia akan boyong. Besok pagi ia akan sowan dan pamit kepada Kyai Mimbar.

Malam itu, Jaim tidur di samping kentongan langgar. Angin dingin menyelinap dari celah-celah dinding bambu. Dalam tidurnya, ia bermimpi.

Ia melihat dapur langgar Kyai Mimbar. Syaikh Asri berdiri di sana, membawa nampan minuman dan hidangan sederhana. Wajahnya tunduk, tubuhnya condong hormat.

Mangga, Yai,” kata Syaikh Asri lirih.

Kyai Mimbar duduk tenang di dingklik. Ia tak langsung menyahut. Syaikh Asri berdiri lama, tak berani menyentuh makanan.

“Silakan,” kata Kyai Mimbar akhirnya.

Baru setelah itu Syaikh Asri duduk dan makan. Seperti santri di hadapan kyainya.

Kyai Mimbar lalu menoleh ke arah Jaim. Tersenyum. Tak berkata sepatah kata pun.

Jaim tersentak bangun. “Astaghfirullah,” bisiknya.

Menjelang sahur, ia terjaga lagi. Tiba-tiba terdengar suara riuh, bersahut-sahutan, datang dari segala penjuru.

“Subhanallah… subhanallah… subhanallah…”

Suara itu kencang seperti hujan angin, memenuhi langit dan dadanya. Jaim mengenal suara itu.

“Itu suara Kyai Mimbar,” katanya gemetar.

Ia terbangun lagi—dan langgar tetap hening. Santri-santri masih terlelap. Ikin dan Sueb menggaruk-garuk badan dalam tidur. Kang Alip mendengkur sambil berpose aneh, seperti orang menggoda penonton ludruk.

Jaim duduk lama. Matanya basah.

“Astaghfirullah,” katanya lirih. “Aku wis su’udzon karo Yai.”

Ia bergegas ke tempat wudhu. Air dingin menusuk kulit, seolah menampar kesadarannya. Ia shalat tahajud, lalu shalat tobat. Tangisnya pecah tanpa suara.

Pagi harinya, Kyai Mimbar menyapanya sambil menyapu halaman.

Sido boyong, ora?” tanyanya santai.

Jaim tersentak. “Nggih… mboten, Yai.”

Yo wes

Kyai Mimbar tersenyum tipis. Belum sempat berkata apa-apa, 

brukk!” tepat di depan matanya, dan ia seperti baru sadar

“waduh” matanya melotot

Lalu ia melangkah ke tempat itu buru-buru sambil berteriak,

“Alip! Ikin! Sueb! Kene sek!

Ketiganya pucat

Sampeyan iki piye!” bentaknya.

Tak suruh nebang jambu gelas, kok sing ditebang jambu dersono kesukaane bu nyai!”

Alip menunduk.

Loh beda to yai..?”

“ya bedoo!” 

Kyai Mimbar menggaruk kepala.

Iso dadi masalah dowo iki.

Wajahnya lemas.

Jaim memandang adegan itu. Dan entah kenapa, dadanya terasa hangat. 

Ia masih memandang punggung kyainya yang biasa itu. Tak berjalan di atas air. Tak bercahaya. Tapi pagi itu ia paham: Ada wali yang berjalan di atas air. Dan ada wali yang berjalan di atas tanah, menahan diri agar tak dikagumi.

Dan dari sanalah Jaim paham siapa sebenarnya Kyai Mimbar.

***

 

Mohammad Afin Masrija, lulusan S2 HTN dan S1 Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni PP Miftahul Falah Kediri dan Wahid Hasyim Yogyakarta. Guru dan pembina jurnalistik di MAN 2 Kota Kediri.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat