Suasana Ka'bah di Masjidil Haram yang hampir kosong dari jamaah. | Ganoo Essa/Reuters

Kabar Utama

06 Mar 2020, 22:45 WIB

Jamaah Umrah Diburu Waktu

Penutupan itu seturut perluasan penundaan umrah yang kini meliputi juga warga Saudi.


Oleh: Fitriyan Zamzami, Zahrotul Oktaviani

Bagi jamaah haji dan umrah dari manapun, Gua Hira di Makkah adalah salah satu destinasi wajib kunjung di Tanah Suci. Bagaimana tidak, di lokasi yang terletak di atas bukit itulah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT yang diantarkan Malaikat Jibril.

Biasanya, jamaah memanjat bukit itu pada dini hari menjelang subuh atau selepas ashar. Pada waktu-waktu itu, cuaca di Makkah tak sebegitu terik dan pendakian bisa sedikit lebih tak melelahkan.

Dengan alasan itu, pada Kamis (5/4) petang, Royhan Firdausy beserta rombongan jamaah dari Pesantren Walisongo, Situbondo, menyambangi Jabal Nur, tempat Gua Hira berlokasi. Lepas menyaksikan dengan mata kepala sendiri lokasi Rasulullah biasa beriktikaf dan kemudian menerima wahyu, mereka turun pada malam hari.

Rencananya, rombongan itu bakal menuju Masjidil Haram untuk melakukan shalat. Namun, kabar mengejutkan sudah datang sejak sore hari. Masjidil Haram tak bisa dimasuki. "Jadi, tidak langsung ke masjid karena sudah pasti tidak bisa masuk. Akhirnya, kami shalat di hotel," ujar Royhan saat dihubungi Republika, Jumat (6/3).

Rombongan dari Pesantren Walisongo yang berada di Tanah Suci tersebut totalnya kurang lebih 650 orang. Sebelum ke Makkah, mereka sudah di Madinah sejak akhir Februari lalu, beberapa hari sebelum Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan larangan ketibaan jamaah umrah dari luar negeri guna menangkal merebaknya Covid-19.



Di Makkah, mereka menginap di Hotel Zwar al-Bayt. Royhan merupakan ketua rombongan bus 12 yang beranggotakan 54 jamaah.

Pada Kamis (5/3), ia sempat membawa empat jamaah melaksanakan umrah di Masjidil Haram. Melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah, kemudian melakukan sa'i di bukit Safa dan Marwah, lalu bertahalul. Rangkaian itu diselesaikan Royhan dan empat jamaah lain sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Dari situ, balik ke hotel bersiap menuju Jabal Nur. Di hotel ia menemukan sejumlah jamaah yang sudah mengenakan pakaian ihram, tetapi belum juga berangkat ke Masjidil Haram. "Ada salah satu anggota rombongan saya yang masih mengenakan ihram mengatakan kalau masjid ditutup. Tepatnya setelah shalat Ashar," kata dia. Penutupan itu hanya berselang dua jam dari pungkasnya rangkaian umrah yang ia laksanakan sebelumnya.

Royhan belum menghitung secara pasti. Tak sedikit anggota rombongannya yang belum sempat melakukan umrah saat Masjidil Haram ditutup. Penutupan itu seturut perluasan penundaan umrah yang kini meliputi juga warga Saudi.

Pada Jumat (6/3), menurut Royhan, sebagian area Masjidil Haram sudah bisa dimasuki. Kendati demikian, wilayah di sekitar Ka'bah tetap masih terlarang. Demikian juga wilayah pelaksanaan sa'i. Artinya, rangkaian umrah belum bisa dilakukan.

 
Kami cemas dan bingung, Mas. Kalau saya pribadi, ya sedih. Karena, target ibadah yang sempurna justru terhambat.
 
 



Tak ada keramaian di sekeliling Ka'bah yang selalu terjadi saat shalat Jumat dilaksanakan di sana. Hanya pekerja-pekerja kebersihan dengan seragam hijau-hijau mereka yang tampak lalu-lalang. Menyapu dan mengepel lantai. Mengelap-ngelap tembok, dan pilar-pilar Masjidil Haram.

"Kami cemas dan bingung, Mas. Kalau saya pribadi, ya sedih. Karena, target ibadah yang sempurna justru terhambat. Akhirnya, sampai saat ini kami pasrah," kata dia.

Kecemasan itu juga dipicu mepetnya waktu. Sejak Jumat (6/3), terhitung mereka dijadwalkan harus kembali ke Tanah Air dua hari lagi. Jika sampai saat itu Masjidil Haram masih terus ditutup, banyak yang akan kehilangan kesempatan berumrah. "Ini rencana balik hari nunggu lusa. Jadi, masih menunggu keputusan karena banyaknya jamaah yang belum menuntaskan umrah," ujar Royhan.

Saat ini, doa terus mereka panjatkan agar kesempatan langka di Tanah Suci tak lepas begitu saja. Hal itu agar bisa kembali ke Tanah Air dengan tenang karena tujuan mulia mereka ke Tanah Suci terpenuhi seluruhnya.

Sementara itu, Sukarjo, seorang mukimin dari Indonesia, menuturkan, jamaah-jamaah dari Madinah sudah ditolak masuk Makkah sejak Kamis (5/3). Ketatnya pengawasan dan pelarangan di Tanah Suci juga membuat para mukimin yang biasanya mendampingi para jamaah sementara tak bekerja. "Sudah pada balik ke rumah, takut diusir-usirin," kata dia kepada Republika.

Konsul Haji Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Endang Jumali, menyebut saat ini Pemerintah Saudi sedang melakukan ta'qim atau sterilisasi di dua masjid suci. "Pengumuman resmi sudah dikeluarkan. Isinya, penutupan dua masjid, Haram (di Makkah) dan Nabawi (di Madinah), satu jam setelah melakukan shalat. Masjid dibuka kembali satu jam sebelum shalat," ujar Endang Jumali saat dihubungi Republika, kemarin.

Endang juga menyebut, dalam keterangan yang dikeluarkan Kerajaan Saudi, khusus untuk penutupan daerah mataf (tempat tawaf) dan mas’a (jalur antara Safa dan Marwah), dilakukan selama kebijakan penangguhan umrah berlaku. Bagi jamaah yang ingin menunaikan shalat, bisa dilakukan di dalam masjid. Bagi yang ingin melakukan tawaf, bisa dilakukan di lantai 2 dan 3.



Lebih lanjut, Endang juga mengklarifikasi terkait berita yang menyebut Pemerintah Saudi meminta jamaah umrah keluar dari Saudi paling lambat 8 Maret. Ia menegaskan, jamaah umrah Indonesia akan dipulangkan secara bertahap sesuai jadwal hingga 15 Maret.

Informasi ini juga sudah ia konfirmasikan kepada Direktur Urusan Travel Umrah Saudi, Ustaz Abdurrahman al-Segaf. Endang menyebut, jika kepulangan jamaah harus dimajukan dari jadwal yang ada, akan berimplikasi pada ketersediaan kursi pesawat. "Untuk pelaksanaan haji tahun ini, tidak ada masalah. Sampai saat ini belum ada keputusan terkait dibatalkannya pelaksanaan haji," ujarnya menegaskan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Firman M Nur memastikan, pelarangan aktivitas Masjidil Haram dan Nabawi itu hanya berlaku sementara. Petugas sedang melakukan sterilisasi demi menyelamatkan umat Islam dari wabah Covid-19.

Amphuri, kata Firman, berharap usaha antisipasi ini segera didukung dengan mendatangkan alat-alat teknologi canggih yang dapat memastikan kesehatan jamaah yang akan masuk ke dalam dua tempat suci tersebut. Dengan begitu, penundaan ini juga dapat segera dicabut dan jamaah dari seluruh dunia bisa kembali datang ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk beribadah.

Sementara itu, Komisaris Taqwa Tours Rafiq Jauhary mengatakan, penutupan haji ataupun umrah oleh Kerajaan Arab Saudi bukan hal baru. "Sepanjang sejarah Islam, ini sudah 40 kali penyelenggaraan haji diliburkan," kata Rafiq saat berbincang dengan Republika, Jumat (6/3).

Menurut dia, banyak faktor yang menyebabkan pihak Kerajaan Arab Saudi ketika itu terpaksa harus menutup aktivitas ibadah umrah dan rukun Islam kelima itu. Penutupan selama ini hanya sementara demi keamanan para tamu Allah yang datang dari berbagai belahan dunia. "Penyebabnya ada yang karena kondisi politik, keamanan, wabah, dan lainnya," ujarnya.

Pembatalan haji terkini, menurut dia, terjadi pada 1987 terkait kasus meningitis yang menulari 10 ribu jamaah sehingga membuat haji diliburkan. "Maka, insya Allah umat Islam dan //travel// penyelenggara umrah akan memahami dan menghormati kebijakan Arab Saudi," katanya.


×