Supir ambulans yang membawa pasien terduga corona saat tiba di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta, Selasa (3/3). | Putra M. Akbar/Republika

Kabar Utama

07 Mar 2020, 02:00 WIB

227 Pasien dalam Pengawasan

Seorang pasien dalam pengawasan di RSPI Sulianti meninggal dunia.

 

 

JAKARTA -- Jumlah pasien yang masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan (PDP) virus korona semakin bertambah. Juru Bicara Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto menyebut, jumlah pasien PDP mencapai 227 orang dari 61 rumah sakit di 25 provinsi.

Yurianto mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan data per Kamis (5/3) pukul 18.00 WIB. "Ini tentunya adalah kasus-kasus pasien dengan pengawasan," kata Yurianto di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (6/3).

Hingga saat ini, menurut Yurianto, terdapat 13 kasus //suspect// virus corona. Sebanyak 13 pasien tersebut sudah diisolasi di rumah sakit. Ia menjelaskan, ada perbedaan pasien yang masuk dalam kategori orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Seseorang dimasukkan dalam kategori ODP jika yang bersangkutan diketahui datang ke Indonesia dari negara episentrum virus korona, seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Italia. Kendati demikian, mereka yang masuk dalam kategori ini bukan berarti bahwa ia sedang sakit atau terinfeksi virus korona.

ODP akan dimasukkan ke dalam kategori PDP jika seseorang mengalami sakit dengan gejala mirip influenza, seperti batuk, demam, dan sesak napas. "Pasien dalam pengawasan inilah yang harus betul-betul kita lakukan perawatan dengan baik karena ini sudah jadi pasien," ucap Yurianto.

Pasien PDP nantinya akan ditelusuri lebih lanjut terkait riwayat kontak dengan pasien positif korona. Jika memang memiliki kontak, pasien tersebut akan ditempatkan sebagai pasien //suspect// virus korona.

Namun, pemerintah menurunkan standar terkait kategori //suspect// korona agar tak terjadi kesalahpahaman di masyarakat yang dapat meningkatkan kekhawatiran. Menurut dia, pengambilan sampel spesimen tak lagi dikategorikan sebagai pasien //suspect//, tapi pasien PDP.

Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso yang jadi RS rujukan virus korona mengumumkan, seorang pasien dalam pengawasan meninggal dunia. "Pasien yang meninggal kondisinya memang jelek, pakai ventilator," kata Direktur Utama RSPI SS Mohammad Syahril di Jakarta, Jumat (6/3).

Pasien itu diketahui memiliki riwayat hipertensi, selain indikasi sesak napas dan demam. Saat dirujuk dari Rumah Sakit Swasta ke RSPI Sulianti Saroso, kondisi pasien juga sudah menggunakan alat bantu pernapasan (ventilator).

Pasien yang meninggal tersebut merupakan seorang perempuan berusia 65 tahun dan sudah dirawat selama sepekan di RS Swasta. PDP tersebut juga diduga memiliki komplikasi penyakit lainnya.

Syahril mengatakan, pihak Penelitian dan Pengembangan (Litbang) masih melakukan pengecekan, apakah yang bersangkutan meninggal karena virus Covid-19 atau penyakit lainnya. "Hasil pengecekan akan diumumkan oleh Kementerian Kesehatan," ujar Syahril.

Pasien dalam pengawasan itu diketahui dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso pada Rabu (4/3) dan langsung dibawa ke ruang khusus isolasi berisikan ventilator karena kondisinya yang kurang baik saat dirujuk. Pasien tersebut masuk kategori PDP karena memiliki riwayat perjalanan dari Singapura, tapi Syahril mengonfirmasi sang pasien tidak mengalami kontak langsung dengan dua warga Indonesia yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19, sehingga belum kuat dugaan terpapar virus korona. "Dia memiliki anak di Singapura, tapi bukan kontak ya dengan yang positif," kata Syahril.

Jenazah pasien itu kini sudah dimakamkan oleh keluarganya setelah sebelumnya pihak medis RSPI memberikan alat-alat khusus sehingga tidak akan menularkan penyakit. Saat ini, menurut dia, pasien dalam pengawasan di RSPI Sulianti Saroso berjumlah sembilan orang. Dari sembilan orang yang dirawat, tujuh orang di antaranya adalah pasien kontak langsung dengan pasien positif kasus I dan II. n antara ed: satria kartika yudha


×