Petugas bersama peneliti berada di area Reaktor Nuklir Triga 2000 di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8/2023). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Opini

Memahami Potensi Energi Nuklir Sesungguhnya

Satu unit terkecil bahan bakar nuklir PLTN dapat menghasilkan energi setara dengan 1 ton batu bara.

OLEH Dr. Ilham Variansyah, Dosen (Asisten Profesor) Ilmu Pengetahuan dan Teknik Nuklir Oregon State University, Amerika Serikat.

Ada yang berbeda di Konferensi Tingkat Tinggi Iklim Dunia Badan PBB ke-28 (Conference of the Parties, COP 28) yang diselenggarakan pada 30 November–12 Desember 2023 di Dubai, Uni Emirat Arab. Tidak seperti COP tahun-tahun sebelumnya, kali ini teknologi energi nuklir mendapatkan sorotan yang signifikan.

Sebanyak 24 negara menandatangani deklarasi Tripling Nuclear Energy by 2050. Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Armenia, Belanda, Bulgaria, Republik Ceko, Finlandia, Ghana, Hongaria, Inggris, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Kroasia, Moldova, Mongolia, Maroko, Polandia, Prancis, Rumania, Slovakia, Slovenia, Swedia, Ukraina, dan Uni Emirat Arab.

Dalam deklarasi itu, 24 negara tersebut mengakui pentingnya peran energi nuklir dalam upaya mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim serta untuk tercapainya akses energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua lapisan masyarakat, sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) Badan PBB (SDG) nomor 7. Partisipan deklarasi pun berkomitmen untuk bekerja sama meningkatkan kapasitas global penggunaan energi nuklir menjadi tiga kali lipat pada tahun 2050.

photo
Pemandangan dari udara ini menunjukkan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi di Fukushima, Jepang utara, Kamis, (24/8/2023). - (Kyodo News via AP)

Selain penandatanganan deklarasi, diumumkan juga bahwa untuk pertama kalinya akan dilaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi Energi Nuklir (Nuclear Energy Summit) pada tahun 2024. Konferensi itu akan digelar untuk membahas peran penting energi nuklir dalam mengurangi ketergantungan penggunaan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, dan gas) serta meningkatkan ketahanan energi dan laju pertumbuhan ekonomi.

Deklarasi besar tersebut bertentangan dengan keputusan sejumlah negara yang memutuskan untuk menghentikan penggunaan energi nuklir, khususnya Jerman yang pada April 2023 mematikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terakhirnya. Akan tetapi, hal ini sesungguhnya sejalan dengan hasil studi badan-badan bereputasi seperti IEA (International Energy Agency), UNECE (United Nations Economic Commission for Europe), dan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang merekomendasikan pelipatgandaan penggunaan energi nuklir untuk tercapainya target emisi nol bersih.

Sama halnya dengan beberapa jenis energi terbarukan yang saat ini menjadi primadona, energi nuklir merupakan energi rendah karbon. Dalam proses pembangkitan energinya, energi nuklir tidak menghasilkan gas rumah kaca maupun polusi udara ke lingkungan seperti pembangkit berbahan bakar fosil. Akan tetapi, kerap diasosiasikan dengan persenjataan dan bahaya radiasi, pemanfaatan energi nuklir penuh dengan kontroversi.

Lantas apa yang membuat energi nuklir begitu menarik, sampai bahkan kedua negara yang telah mengalami kecelakaan PLTN—Ukraina (Chernobyl) dan Jepang (Fukushima Daiichi)—tetap mengakui bahwa teknologi tersebut adalah kunci penting dalam transisi energi berkelanjutan dengan keikutsertaan mereka dalam deklarasi tersebut?

Kepadatan energi dan jejak ekologi

Setiap teknologi pembangkitan energi, tanpa terkecuali, memiliki jejak ekologi dan memberikan dampak terhadap lingkungan. Sebagai gambaran, meskipun sinar matahari dan angin merupakan sumber energi terbarukan, lahan dan bahan baku yang dibutuhkan dalam perangkat panel surya dan turbin angin untuk menangkap dan mengonversi sumber energi terbarukan tersebut tidaklah terbarukan. Dibutuhkan penambangan sejumlah material strategis yang harus diolah dan kemudian pada akhir masa gunanya menjadi limbah yang perlu dikelola.

photo
Petugas bersama peneliti berada di area Reaktor Nuklir Triga 2000 di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8/2023). Reaktor nuklir Triga Mark II atau Triga 2000 yang ada di BRIN Bandung merupakan reaktor nuklir tertua di Indonesia yang dioperasikan sejak tahun 1965 dan saat ini dimatikan hingga empat tahun ke depan. Reaktor yang memiliki kapasitas 2.000 KWt tersebut digunakan untuk keperluan penelitian, pengkajian lingkungan, dan wisata edukasi. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Oleh karena itu, terbarukan atau tidaknya sumber energi suatu teknologi tidak serta-merta menjadi tolok ukur bahwa teknologi tersebut ramah lingkungan. Akan tetapi, semakin sedikit material dan lahan yang dibutuhkan sebuah teknologi untuk membangkitkan sejumlah energi, semakin sedikit pula jejak ekologi dan dampak lingkungannya.

Daya tarik utama dari energi nuklir terletak pada kepadatan energinya yang luar biasa tinggi. Sesuai dengan teori Einstein, E = mc2, setiap reaksi pembelahan (fisi) inti atom uranium menghasilkan sejumlah energi yang sangat besar, sekitar 200 juta elektronvolt.

Dengan perhitungan sederhana menggunakan data statistik dari Our World in Data, dapat ditemukan bahwa di dalam 30,8 gram logam uranium, yang mana hanya seukuran satu kacang atom (sukro), terkandung sejumlah energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi rerata satu orang Indonesia seumur hidupnya.

Hal ini membuat energi nuklir berpotensi menjadi sumber energi dengan jejak ekologi dan dampak lingkungan yang luar biasa rendah karena sangat sedikitnya bahan baku yang perlu ditambang dan limbah yang ditinggalkan.

Tentu pada praktiknya, kita tidak dapat secara sempurna “membakar” uranium dan mengekstrak seluruh energi di dalamnya. Teknologi komersial saat ini baru hanya dapat mengekstrak 0,6 persen dari potensi energi yang ada.

Meski demikian, satu unit terkecil bahan bakar nuklir PLTN generasi saat ini, yang mana berbentuk pelet uranium seukuran satu ruas jari, dapat menghasilkan energi setara dengan 1 ton batu bara. Teknologi energi nuklir masih tergolong baru dan masih sangat aktif berkembang. Diperkirakan, efisiensi pemanfaatan potensi energi yang ada dapat meningkat hingga lebih dari 100 kali lipat.

photo
Kandasnya Mimpi Nuklir Sukarno - (Republika)

Ketahanan energi dan keandalan tinggi

Nuklir menyuplai 10 persen produksi listrik dunia dan merupakan sumber energi listrik rendah karbon terbesar kedua (26 persen) setelah pembangkit listrik tenaga air. Per tahun 2022, terdapat 12 belas negara yang lebih dari seperempat listriknya diproduksi menggunakan nuklir.

Sebanyak 12 negara itu adalah Prancis (63 persen), Slovakia (59 persen), Hongaria (47 persen), Belgia (46 persen), Slovenia (43 persen), Republik Ceko (37 persen), Swiss (36 persen), Finlandia (35 persen), Bulgaria (33 persen), Armenia (31 persen), Korea Selatan (30 persen), dan Swedia (29 persen). Dahulu, Jepang masuk ke dalam kelompok tersebut dengan 30 persen nuklir. Namun, pascakecelakaan nuklir Fukushima Daiichi, Jepang secara bertahap mengaktifkan kembali sejumlah PLTN-nya dengan target pencapaian lebih dari 20 persen nuklir pada tahun 2030.

Pembangunan PLTN pada negara-negara tersebut dimulai sejak tahun 1970-an. Berbeda dengan sekarang, pada saat itu keputusan dibangunnya PLTN bukanlah untuk alasan mitigasi pemanasan global ataupun mengurangi dampak polusi udara, melainkan karena PLTN merupakan opsi paling ekonomis untuk mencapai ketahanan energi nasional.

Karena kepadatan energinya yang sangat tinggi, PLTN membutuhkan sangat sedikit bahan bakar untuk beroperasi setiap tahunnya. Sehingga, berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil, ongkos bahan bakar merupakan bagian kecil dari biaya pembangkitan listrik PLTN.

Dengan menggunakan PLTN, negara dapat menggeser paradigma pembangkitan energi, dari yang biasanya lebih bergantung pada komoditas bahan bakar, menjadi lebih bergantung pada pembangunan sumber daya manusia nasional yang dibutuhkan untuk membangun, mengoperasikan, dan mengembangkan teknologi tersebut.

Adapun keuntungan rendah emisi karbon dan polusi udara pada saat itu dipandang sebagai “efek samping” saja. Sehingga, dapat dikatakan Prancis dengan 63 persen nuklirnya “tidak sengaja” menjadi salah satu negara dengan pembangkitan listrik terbersih di Eropa dengan laju emisi rerata 85 gCO2/kWh. Hal ini berkebalikan dengan tetangganya, Jerman, yang memutuskan menghentikan penggunaan nuklir dan kini memiliki laju emisi rerata 385 gCO2/kWh, yang mana 30 persen lebih tinggi dari rata-rata negara di Eropa.

Daya tarik energi nuklir juga terletak pada keandalannya yang tinggi. Tidak seperti pembangkit tenaga angin dan surya yang bergantung pada cuaca dan pergantian waktu siang dan malam, PLTN dapat beroperasi dengan kapasitas penuh secara andal sepanjang hari. Di samping itu, karena kepadatan energinya yang tinggi, PLTN dapat beroperasi tanpa pengisian ulang bahan bakar sepanjang tahun, sehingga pemadaman berkala untuk perawatan dapat diminimalkan.

photo
Kapal induk bertenaga nuklir USS Dwight D. Eisenhower duduk di sisi dermaga di Naval Station Norfolk di Norfolk, AS, Rabu, 27 April 2016. - (AP Photo/Steve Helber)

Berdasarkan rekam jejak produktivitas relatif berbagai jenis pembangkit (atau kapasitas faktor), PLTN terbukti memiliki angka produktivitas rerata tertinggi sekitar 80 persen, sedangkan pembangkit tenaga batu bara, angin, dan surya berada di angka sekitar 57 persen, 25 persen, dan 17 persen. Keberadaan pembangkit yang tidak hanya rendah emisi karbon tetapi juga andal, seperti PLTN, sangat penting sebagai tulang punggung atau penopang beban dasar (baseload) dalam sistem energi yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga dapat menyokong pertumbuhan ekonomi dan industri yang haus akan energi.

Memahami dan menimbang potensi dan tantangan dari setiap teknologi yang ada adalah kunci dalam menetapkan kebijakan energi yang tepat. Senada dengan COP 28, terdapat perubahan pandangan yang signifikan terhadap energi nuklir di dalam kebijakan energi di Indonesia.

Pada awalnya, energi nuklir dipandang sebagai “pilihan terakhir” (PP 79, 2014). Namun kini direncanakan akan segera dibangun dan mulai beroperasi pada tahun 2032 (draf RPP Kebijakan Energi Nasional).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat