Pekerja memasukkan kemasan plastik bekas yang telah dipadatkan ke dalam kontainer di tempat pengelolaan sampah reuse, reduce, recycle (TPS3R) Perdana Plastik di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (2/12/2023). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) me | ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Sains

Nanoplastik, Lebih Bahaya daripada Makroplastik

Kemungkinan nanoplastik sudah ada lebih dari 100 tahun sejak penemuan plastik. 

Selain mikroplastik, manusia dan makhluk hidup lainnya kini tengah menghadapi ancaman yang lebih buruk dan berbahaya, yaitu nanoplastik. Penelitian awal yang dilakukan selama lima tahun terakhir menunjukkan, nanoplastik berinteraksi dengan lingkungan dan organisme hidup dengan cara yang sama sekali berbeda dengan mikroplastik. 

Mikroplastik berukuran dalam skala mikrometer, sedangkan nanoplastik hanya berukuran nanometer. Untuk memahami betapa kecilnya itu, bayangkan perbedaan antara ukuran bola basket dan sebutir beras. 

Mikroplastik juga biasanya masih terlihat oleh mata atau mikroskop biasa, sementara nanoplastik nyaris tidak terlihat. Nanoplastik terbentuk ketika potongan-potongan plastik yang lebih besar terurai karena sinar UV, gelombang, enzim alami, atau faktor lingkungan lainnya. 

photo
Siswa menunjukkan sampah plastik yang telah dicacah di SMKN 8 Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/10/2023). Siswa kelas XI jurusan Teknik Bodi Kendaraan Ringan (TBKR) SMKN 8 Bandung membuat mesin pencacah sampah anorganik yang nantinya menjadi biji plastik daur ulang. Pembuatan mesin tersebut bertujuan untuk mengurangi volume sampah dari sekolah yang dibuang ke TPS atau TPA. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Para peneliti baru-baru ini menemukan, plankton dan udang karang Antartika di lautan mengurai mikroplastik dan mengubahnya menjadi plastik berukuran nano. Namun, nanoplastik juga dapat terurai dan terlepas ke udara, misalnya ketika seseorang memperbaiki pipa saluran pembuangan. 

Setelah mengudara, nanoplastik dapat melayang sejauh ribuan kilometer, hingga kutub bumi. Ukuran nanoplastik yang sangat kecil, merupakan salah satu alasan mengapa para ilmuwan belum juga mengantongi data dan kajian lebih dalam terkait hal tersebut.

"Ada cukup banyak penelitian tentang mikroplastik karena mereka lebih mudah dideteksi, Anda hanya perlu mikroskop. Nanoplastik jauh lebih kecil sehingga Anda membutuhkan teknik khusus untuk mendeteksinya," kata ahli kimia lingkungan Eric Lichtfouse seperti dilansir Vice, Kamis (7/12/2023).

Profesor nanotoksikologi dari Oregon State University, Stacey Harper, menjelaskan, sejauh ini metode terbaik mendeteksi nanoplastik bergantung pada jumlah pengambilan sampel di air laut dan proses filterisasinya. 

Atau bisa juga dengan mengurai semua komponennya secara kimiawi dan mencari tanda kimiawi plastik. Namun, proses filter tersebut mudah tersumbat oleh ganggang atau puing-puing lainnya. Begitu pun penguraian secara kimiawi tidak memberikan gambaran tentang jumlah potongan nanoplastik.

Itu berarti, saat ini, kita tidak tahu berapa banyak jumlah nanoplastik yang mengambang atau hanyut di seluruh dunia. Kemungkinan nanoplastik sudah ada lebih dari 100 tahun sejak penemuan plastik. 

Meskipun para ilmuwan baru mulai menelitinya dengan sungguh-sungguh dalam lima tahun terakhir. “Dan tanpa penelitian yang tepat tentang nanoplastik, sulit untuk mengetahui seberapa besar risiko dari paparan dan toksisitas, serta beberapa faktor yang tidak diketahui. Saat ini, untuk nanoplastik, kami tidak tahu seperti apa eksposurnya. Dari sisi toksisitas, kami dibatasi oleh fakta bahwa sebagian besar penelitian dilakukan pada polystyrene spheres. Kami kekurangan informasi tentang produk konsumen sehari-hari yang terurai,” kata Harper.

Plastik pada dasarnya adalah rantai molekul yang panjang yang disebut monomer. Ketika monomer-monomer ini dihubungkan bersama, seperti pada PVC, mereka tidak berbahaya. Tetapi jika berdiri sendiri, seperti vinil klorida, misalnya, mereka dapat menjadi racun. 

Ditambah lagi, bahan tambahan yang digunakan untuk mengikat plastik biasanya juga beracun dan dilepaskan ketika plastik terurai. "Dibandingkan dengan polutan klasik seperti satu molekul pestisida, nanoplastik memiliki lebih banyak cara yang berbeda untuk menjadi racun," kata Lichtfouse.

photo
Sejumlah pemulung mencari barang bekas di tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kawatuna, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (3/11/2023). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mengeklaim terjadi penurunan timbulan sampah di wilayah itu sejak diberlakukannya pembatasan penggunaan kemasan plastik sekali pakai kepada para pedagang di pasar tradisional dan pelaku bisnis retail modern pada awal Agustus 2023 lalu dari rata-rata 210 ton per hari menjadi 125 ton per hari. - (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Harper mengatakan, penelitian saat ini mulai berfokus di mana dan seberapa jauh nanoplastik dapat membawa bahan kimia di dalam lingkungan. "Bahan kimia yang sangat mengkhawatirkan bagi kita adalah yang sangat hidrofobik, artinya mereka tidak suka air, sehingga mereka suka bergaul dengan nano partikel. Apa yang kita mulai pelajari adalah bagaimana hal itu mengubah nasib bahan kimia di lingkungan,” kata dia.

Ketika berbicara tentang bagaimana nanoplastik dapat memengaruhi kesehatan, sebagian besar yang diketahui para ilmuwan berasal dari penelitian yang dilakukan di cawan petri atau hewan. Meski begitu, sebagian besar hewan tersebut adalah hewan air kecil atau hewan yang menyaring air untuk dimakan. 

Bahaya Paparan Jangka Panjang

photo
Warga berada diantara tumpukan sampah yang menumpuk di Sungai Citarik, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (28/10/2023). Warga menyatakan sudah hampir seminggu sampah yang didominasi oleh plastik dan stirofom tersebut menumpuk di Sungai Citarik dan warga berharap agar dinas terkait segera mengangkut sampah tersebut karena khawatir akan penyakit yang ditimbulkan. - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Sejauh ini, peneliti juga belum mengetahui lebih banyak tentang apa yang dilakukan nanoplastik di dalam tubuh hewan, Apalagi pada manusia. Namun, karena ukurannya yang jauh lebih kecil, nanoplastik dapat masuk ke tempat-tempat yang tidak dapat dimasuki oleh mikroplastik. 

Jika mikroplastik bisa masuk ke dalam organ tubuh hewan, nanoplastik bisa masuk ke dalam sel mereka. Sebuah penelitian pada 2023 menunjukkan, nanoplastik menarik gumpalan protein tertentu, yang disebut alpha-synuclein, yang telah dikaitkan dengan penyakit Parkinson dan demensia. 

Hal ini terjadi pada sel-sel di dalam cawan dan tikus laboratorium. Penelitian sebelumnya pada ikan zebra menemukan bahwa nanoplastik dapat berpindah dari ibu ke bayi melalui plasenta.

Harper mengatakan bahwa berdasarkan penelitiannya terhadap ikan zebra, nanoplastik tidak terlalu beracun dalam jangka pendek. Namun, belum ada penelitian jangka panjang yang dapat mengungkap apa yang terjadi dengan tubuh manusia dan hewan jika terus-menerus terpapar nanoplastik.

Ia menjelaskan, ancaman terhadap paparan seumur hidup dari nanoplastik inilah yang kita semua alami. “Pada akhirnya akan menyebabkan komplikasi,” ujar Harper.

 

 
Nanoplastik jauh lebih kecil sehingga Anda membutuhkan teknik khusus untuk mendeteksinya. 
 
ERIC LICHTFOUSE, Ahli Kimia Lingkungan 
 
 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Mengolah Limbah Plastik Menjadi Wayang

Wayang Tavip mengampanyekan dan memanfaatkan limbah sebagai produk bernilai ekonomi.

SELENGKAPNYA