Pedagang menata bawang putih yang dijual di Pasar PSPT Tebet, Jakarta, Senin (2/3/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Ekonomi

Importir Minta Tambahan Izin Impor Bawang Putih

 

JAKARTA – Para importir bawang putih yang tergabung dalam Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo) meminta pemerintah segera menerbitkan rekomendasi impor dan izin impor baru. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan bawang putih saat periode Ramadhan dan Idul Fitri 2020. 

"Kami harap, Kementan sebaiknya segera terbitkan rekomendasi baru kepada perusahaan yang sudah memenuhi aturan dan perizinan impor karena kebutuhannya sudah sangat mendesak," kata Ketua Pusbarindo, Valentino, saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/3). 

Valentino menjelaskan, dari hasil pemantauan, pasokan bawang putih yang tersedia awal Maret 2020 sekitar 30 ribu hingga 35 ribu ton. Selain itu, terdapat 25,8 ribu ton bawang putih impor yang akan masuk pada akhir bulan ini sehingga diperkirakan terdapat pasokan sekitar 60 ribu ton. 

Pasokan impor tersebut sesuai Surat Persetujuan Impor (SPI) yang diterbitkan Kementerian Perdagangan dari total Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar 103 ribu ton. Dengan kata lain, terdapat sekitar 78 ribu ton yang izinnya belum terbit. 

Perkiraan kebutuhan bawang putih pada Maret sebesar 45 ribu ton. Memasuki April, kebutuhan komoditas itu diperkirakan naik 20 persen menjadi 50 ribu ton dan naik lagi hingga 40 persen menjadi sekitar 60 ribu ton. Valentino mengatakan, akumulasi kebutuhan Maret-Mei 2020 sekitar 160 ribu ton. 

"Dengan pasokan yang ada sekarang 60 ribu ton, ada kekurangan sekitar 100 ribu ton. Ini berdasarkan perkiraan kami yang berada langsung di lapangan," kata Valentino. 

Terkait dengan wacana menjajaki importasi bawang putih dari India, Pusbarindo menilai, produksi bawang putih lokal masih lebih baik. "Bawang putih kita masih lebih baik daripada India, jadi mending lokal. Beda kalau dari Cina itu memang murah dan bagus," kata Valentino.

Di sisi lain, Valentino mengungkapkan, pihaknya hingga saat ini baru menjajaki importasi bawang putih asal Mesir. Ia menyampaikan, pihak Mesir menyatakan, ekspotir siap memasok bawang putih untuk Indonesia dengan kelengkapan dokumen sesuai syarat Pemerintah Indonesia.

Di antaranya, seperti kelengkapan berkas global good agricultural practices (GAP) serta certificate of product capacity.  "Itu harus dipenuhi dahulu karena syarat pemerintah kita," tuturnya. 

Sebelumnya, Kementan menuturkan, importasi bawang putih dari India sangat terbuka bagi para importir di dalam negeri. Pemerintah menyiapkan berbagai alternatif negara sebagai antisipasi gangguan impor dari Cina imbas virus korona.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan, pelaku usaha bawang putih di India sudah menawarkan Indonesia. Hanya saja, kata Prihasto, bawang putih India kurang diminati oleh pasar Indonesia lantaran ukuran siung lebih kecil meski harga lebih murah dari produk Cina.

"Pihak India sudah menawarkan terus. Dari segi harga lebih murah, tapi ukuran lebih kecil. Ini untuk opsi kalau Cina bermasalah ya mau tidak mau India kita kasih. Ada juga negara lainnya," kata Prihasto. 

Menurut Prihasto, pada 2018 lalu bawang putih asal India pernah diimpor ke Indonesia oleh importir swasta. Tapi, bawang putih tersebut kurang laris di pasaran. Sejauh ini, ia menuturkan, belum ada yang mengajukan secara resmi rekomendasi impor bawang putih dari India meski telah banyak yang meminta informasi kepada Kementan. n

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat