Seniman menyelesaikan pembuatan mural dalam acara Jakarta Thinkcity di kawasan Kampung Nelayan Marunda, Jakarta, Sabtu (22/10/2022). Kegiatan pembuatan mural tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan isu perubahan iklim yang telah nyata | ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Sains

Kontribusi tak Proporsional Elite Global dalam Perubahan Iklim

Sekitar 12 miliarder terkaya di dunia telah menyumbangkan hampir 17 juta ton emisi.

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan, para elite global secara tidak proporsional mempercepat perubahan iklim. Satu persen orang terkaya di dunia melepaskan emisi karbon sebanyak dua pertiga dari populasi miskin.

Laporan tersebut diterbitkan oleh The Guardian, bekerja sama dengan badan amal internasional Oxfam dan Stockholm Environment Institute. Para peneliti menemukan bahwa dari seluruh emisi karbon di dunia pada 2019, 16 persen di antaranya dihasilkan oleh 1 persen orang terkaya di seluruh dunia, kelompok yang mencakup miliarder, jutawan, dan mereka yang berpenghasilan lebih dari 140 ribu dolar AS (Rp 2,1 miliar) per tahun.

Menurut analisis terbaru, kontribusi mereka sama dengan emisi dari 66 persen orang termiskin di dunia atau sekitar 5 miliar orang. Laporan tersebut juga menemukan, 10 persen orang terkaya di seluruh dunia menyumbang sekitar setengah dari emisi karbon pada 2019.

photo
Pengunjung mengamati karya foto pada pameran foto perubahan iklim di Selasar Soenaryo, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/10/2022). Greenpeace Indonesia mengadakan kegiatan tur yang bertajuk Chasing The Shadow dengan berbagai kegiatan salah satunya adalah pameran foto perubahan iklim di berbagai kota di Pulau Jawa yang merupakan perjalanan kesaksian bukti nyata krisis iklim sudah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. - (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

"Diperlukan waktu sekitar 1.500 tahun bagi seseorang yang berada di kelompok 99 persen terbawah untuk menghasilkan karbon sebanyak yang dihasilkan oleh miliarder terkaya dalam satu tahun. Hal ini pada dasarnya tidak adil," ujar Chiara Liguori, penasihat senior kebijakan keadilan iklim Oxfam, seperti dilansir CBS, Rabu (22/11/2023). 

Jumlah emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh 1 persen orang terkaya di dunia pada 2019 yakni 5,9 miliar ton. Jumlah itu cukup untuk mengubah suhu global dan menyebabkan kematian sekitar 1,3 juta orang, dengan mengutip metodologi yang digunakan secara luas yang dikenal sebagai "mortality cost of carbon”.

Laporan ini juga menyoroti bahwa hanya 12 miliarder terkaya di dunia yang telah menyumbangkan hampir 17 juta ton emisi dari rumah, transportasi, kapal pesiar, dan investasi. Jumlah itu disebut-sebut setara dengan 4,5 pembangkit listrik tenaga batu bara dalam satu tahun.

photo
Seniman menyelesaikan pembuatan mural dalam acara Jakarta Thinkcity di Rusun Marunda, Jakarta, Sabtu (22/10/2022). Kegiatan pembuatan mural tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan isu perubahan iklim yang telah nyata terjadi di Ibu Kota khususnya wilayah Jakarta Utara. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Di urutan teratas dalam daftar tersebut adalah Carlos Slim Helu yang menurut Forbes memiliki kekayaan bersih sebesar 94,7 miliar dolar As. Kemudian, diikuti oleh Bill Gates, Jeff Bezos, pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin, serta pengusaha ritel mewah Bernard Arnault.

Profesor ekologi dari Oregon State University, William Ripple, yang juga direktur Alliance of World Scientists, mengatakan bahwa metodologi dan temuan-temuan dalam laporan ini konsisten dengan beberapa literatur ilmiah yang telah ditelaah oleh rekan sejawat.

"Ketidaksetaraan karbon dan keadilan iklim merupakan isu utama. Untuk mengatasi perubahan iklim, kita harus secara dramatis mengurangi ketidaksetaraan dan memberikan dukungan serta kompensasi iklim kepada daerah-daerah yang kurang mampu,” kata Ripple.

photo
Seniman menyelesaikan pembuatan mural dalam acara Jakarta Thinkcity di kawasan pemukiman Marunda, Jakarta, Sabtu (22/10/2022). Kegiatan pembuatan mural tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan isu perubahan iklim yang telah nyata terjadi di Ibu Kota khususnya wilayah Jakarta Utara. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Bulan lalu, Ripple dan tim ilmuwan lainnya menerbitkan sebuah makalah yang menemukan bahwa Bumi berada di zona yang belum dipetakan. Mereka menemukan beberapa rekor tertinggi sepanjang masa terkait perubahan iklim dan pola bencana terkait iklim yang sangat memprihatinkan.

Mereka juga menemukan bahwa upaya untuk mengatasi masalah-masalah ini hanya mengalami kemajuan yang minim. Laporan The Guardian dan Oxfam menyerukan sejumlah langkah untuk membantu umat manusia membebaskan diri dari jebakan iklim dan ketidaksetaraan, termasuk transisi ke sumber energi terbarukan.

Laporan tersebut juga menyarankan pajak sebesar 60 persen atas pendapatan satu persen orang terkaya di dunia, yang menurut laporan tersebut akan menghasilkan pengurangan emisi global sebesar 700 juta ton. Sebelumnya, Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan, negara-negara semakin tertinggal dalam hal investasi hijau yang dibutuhkan untuk menanggapi perubahan iklim.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, jika tidak ada perubahan, pada 2030 emisi akan mencapai 22 gigaton lebih tinggi daripada batas 1,5 derajat Celsius. Diperkirakan bahwa dunia akan melampaui tingkat tersebut dalam lima tahun ke depan.

Menurut Guterres, semua ini merupakan kegagalan kepemimpinan, pengkhianatan terhadap mereka yang rentan dan kesempatan besar yang terlewatkan. Energi terbarukan tidak pernah lebih murah atau lebih mudah diakses. "Laporan ini menunjukkan bahwa kesenjangan emisi lebih mirip canyon emisi, canyon yang dipenuhi dengan janji-janji yang tidak ditepati dan pengrusakan,” ujarnya. 

 

Jika tidak ada perubahan, pada 2030 emisi akan mencapai 22 gigaton lebih tinggi daripada batas 1,5 derajat Celsius
ANTONIO GUTERRES, Sekretaris Jenderal PBB. 
 
SHARE  

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Menimbang Mana yang Lebih Ramah Lingkungan, Sedotan Platik atau Kertas?

Sama seperti sedotan plastik, sedotan kertas juga biasanya tidak dapat didaur ulang

SELENGKAPNYA

Inspirasi Ide Membuat Rumah Lebih Ramah Lingkungan

Ekonomi sirkular bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya.

SELENGKAPNYA

Sejarah Berulang Bencana Lingkungan

Saat ini telah terjadi perlambatan dramatis dalam sirkulasi ini dalam satu abad terakhir.

SELENGKAPNYA