Sejumlah peserta dengan membawa poster melakukan aksi krisis iklim di depan Gedung KPU, Jakarta, Jumat (3/11/2023). Aksi bertajuk Power Up ini digelar untuk mendesak para Calon Presiden (Capres) 2024 untuk mendeklarasikan komitmen yang kuat dalam penangan | Prayogi/Republika

Sains

Dari Petir Hingga Kemiskinan, Perubahan Iklim akan Mengubah Banyak Hal

Perubahan iklim dapat mendorong lebih dari 120 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan.

Perubahan iklim membuat planet ini menjadi tempat yang lebih sulit untuk ditinggali manusia. Hal ini kemudian mendorong lebih banyak orang ke dalam kemiskinan, membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal, dan menyebabkan wabah penyakit mematikan yang lebih sering terjadi.

Bukan hanya manusia yang terkena dampak perubahan iklim, hewan juga menderita dan dalam beberapa kasus, mereka terancam punah. Untuk lebih memahami bagaimana perubahan iklim telah berdampak pada berbagai lini, simak uraian berikut seperti dilansir Global Citizen, Kamis (9/11/2023).

1. Masuk dalam jurang kemiskinan

Diperkirakan pada 2030, perubahan iklim dapat mendorong lebih dari 120 juta orang jatuh ke dalam kemiskinan. Perubahan iklim melanda semua negara, membawa serta kekeringan yang parah, badai yang sangat kuat, dan gelombang panas yang menyengat.

Ironisnya, dampak perubahan iklim paling dirasakan oleh negara-negara yang berkembang-miskin. Tidak hanya memperburuk ketidaksetaraan di suatu negara, bencana-bencana ini juga menyebabkan orang-orang yang sudah hidup dalam kemiskinan memiliki sumber daya yang lebih sedikit untuk mengatasinya.

Sebagai contoh, ketika badai Maria menghantam Puerto Rico, masyarakat termiskin terkena dampak yang paling parah dan paling sulit pulih. Sementara banyak orang kaya meninggalkan pulau itu atau menggunakan sumber daya mereka untuk membangun kembali kehidupannya.

2. Meningkatkan jumlah pengungsi

Ketika bencana lebih sering terjadi dengan intensitas lebih ekstrem, akan semakin banyak orang yang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Keadaan itu juga memaksa orang-orang untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.

Menurut UNHCR, badan PBB untuk urusan pengungsi, rata-rata 21,5 juta orang telah mengungsi secara paksa akibat perubahan iklim sejak 2008. Bahkan, diperkirakan akan ada 1,2 miliar pengungsi iklim pada 2050.

3. Meningkatkan risiko wabah penyakit

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia dapat membunuh 12 kali lebih banyak orang pada 2050 dibandingkan dengan 2020. Para peneliti dari Ginkgo Bioworks menilai, perubahan iklim menjadi salah satu katalisator dari fenomena kesehatan tersebut.

Peneliti memperingatkan bahwa epidemi yang disebabkan oleh penyakit zoonosis dapat menjadi lebih sering terjadi pada masa depan karena perubahan iklim dan deforestasi. Selain itu, banjir dan badai dapat menyebabkan meluapnya air limbah yang menyebabkan peningkatan penyakit yang ditularkan melalui air seperti kolera.

4. Rumah semakin mahal

Bagi banyak orang, membeli rumah adalah salah satu mimpi yang jauh dari kenyataan karena krisis biaya hidup dan biaya pembelian rumah yang terus meningkat. Dan perubahan iklim yang semakin parah tampaknya semakin membuat mimpi tersebut menjadi mustahil.

Karena, konstruksi sekarang juga memperhitungkan peningkatan dampak iklim yang merugikan dan bencana. Sementara biaya yang terkait dengan konstruksi dan bahkan asuransi rumah meningkat.

5. Mengancam produksi kopi

photo
Nespresso memperkuat komitmen iklimnya dengan menyajikan varian kopi yang ditanam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan melalui program AAA Sustainability. - (Republika/ Gumanti)

Tanaman kopi juga terpengaruh oleh perubahan iklim. Para petani di Brasil, eksportir kopi terbesar di dunia, menghadapi hasil panen biji kopi Arabika yang jauh lebih rendah tahun ini karena embun beku dan kekeringan, demikian menurut Bloomberg.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Plos One memodelkan kondisi pertumbuhan kopi, kacang mete dan alpukat selama 30 tahun ke depan dan menemukan bahwa kopi adalah yang paling rentan, dengan dampak iklim negatif yang mendominasi di semua daerah penghasil utama. Dikatakan bahwa akan terjadi penurunan 50 persen dalam jumlah wilayah yang paling cocok untuk menanam kopi pada 2050, dan penurunan 31-41 persen di wilayah yang cukup cocok.

6. Perjalanan udara akan lebih sering turbulensi

photo
Bepergian dengan pesawat (ilustrasi) - (Setyanavidita Livikacansera/Republika)

World Economic Forum mencatat bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan turbulensi dalam perjalanan pesawat. Pola sirkulasi udara menjadi kurang dapat diprediksi karena perubahan iklim menyebabkan penerbangan menjadi lebih bergelombang sedemikian rupa sehingga turbulensi telah menjadi penyebab paling umum dari kecelakaan penerbangan.

Pada 2021, lebih dari 65 persen cedera parah pada pesawat yang dicatat oleh penyelidik kecelakaan AS adalah akibat dari pesawat yang memasuki langit bergelombang.

7. Gunung berapi meletus

Banyak gletser yang menutupi sisi gunung berapi aktif. Ketika gletser mencair, penurunan tekanan di permukaan bumi dapat mengubah pergerakan magma gunung berapi dan menyebabkan lebih banyak letusan.

Para ilmuwan yang telah membandingkan catatan sejarah gunung berapi dengan cakupan glasial melihat bahwa jumlah letusan menurun secara signifikan ketika iklim mendingin dan tingkat es meluas. Lebih banyak penelitian sedang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara gletser dan aktivitas gunung berapi. Namun, bahkan di daerah yang lebih dingin sekalipun, pergeseran pola cuaca berpotensi memicu letusan.

8. Koneksi internet terganggu

Sesuatu yang sangat diandalkan oleh sebagian besar masyarakat global saat ini adalah internet. Namun, pemadaman internet bisa jadi akan terus meningkat karena perubahan iklim.

Menurut penelitian baru, aliran informasi digital melalui kabel serat optik yang melapisi dasar laut dapat terganggu oleh naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa gangguan di laut dan dekat pantai yang disebabkan oleh peristiwa cuaca ekstrem telah mengekspos "titik panas" di sepanjang jaringan kabel transglobal sehingga meningkatkan risiko pemadaman internet.

9. Lebih banyak petir

Sambaran petir menghantam Bumi sekitar delapan juta kali dalam sehari, tetapi jumlah tersebut dapat meningkat secara signifikan seiring dengan percepatan pemanasan global. Sebuah penelitian memperkirakan bahwa setiap kenaikan suhu sebesar satu derajat Celsius dapat menyebabkan peningkatan sambaran petir sebesar 12 persen.

 
Pemadaman internet bisa jadi akan terus meningkat karena perubahan iklim.
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Lesatan Kepunahan Satwa Akibat Perubahan Iklim

Amfibi merupakan kelompok yang paling terancam punah.

SELENGKAPNYA

Waspada, Dampak Perubahan Iklim Kian Terasa

Perubahan gaya hidup menjadi kunci dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim.

SELENGKAPNYA

Dampak Perubahan Iklim di Indonesia Makin Gawat

Sebanyak 3,46 juta keluarga di Indonesia berpotensi tinggi mengalami kerawanan kekeringan.

SELENGKAPNYA