Direktur Teknologi & Chief Teknologi Officer XL Axiata I Gede Darmayusa (kiri) bersama Direktur & Chief Commercial Officer XL Axiata David Arcelus Oses (kanan) memeriksa jaringan 5G XL Axiata saat peluncuran di Badung, Bali, Rabu (13/10/2021). Kegiatan te | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Inovasi

Sektor Telekomunikasi, Jadi Andalan tapi tak Berkelanjutan

Jumlah operator ynag lebih sedikit tentu alokasi frekuensinya akan jadi lebih optimal.

 

Industri telekomunikasi telah menjadi salah satu sektor tumpuan pertumbuhan ekonomi. Hadirnya era digital, kemudian pandemi yang menghantam, membuat sektor yang satu ini kian jadi andalan. 

Sayangnya, ada banyak dinamika dan lika-liku dalam menggarap sektor yang satu ini. Anggota Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Rudi Purwanto memaparkan kondisi industri seluler saat ini.

Poin pertama, angka regulatory charge biaya hak penyelenggaraan (BHP) lebih besar dari 10 persen sehingga kondisi ini berada pada kondisi tidak berkelanjutan. “Besarannya dapat kita sampaikan adalah bahwa angka regulatory charge dari BHP frekuensi itu sudah di atas 10 persen sehingga menurut riset daripada Coleago angka ini berada pada kondisi tidak sustain atau tidak sehat,” ujar Rudi dalam acara Selular Business Forum 2023: Sustainability Operator Telekomunikasi Kunci Tangguhnya Ekosistem Digital Indonesia, Senin (2/10/2023). 

photo
Telkomsel melakukan upgrade jaringan dari 3G ke 4G secara terukur sepanjang tahun ini. - (Dok Telkomsel )

Poin-poin lainnya, yakni pendapatan pertumbuhan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) lebih kecil dari growth regulatory charge BHP frequency. Selain itu, pertumbuhan trafik data yang signifikan tidak berbanding lurus pada pertumbuhan revenue seluler, average revenue per user (ARPU) gabungan per H-1 masih di bawah Rp 50 ribu, sementara pertumbuhan pendapatan dari layanan pesan singkat (SMS) ditambah layanan suara juga sudah minus, digerus dengan layanan substitusi dari over-the-top (OTT). 

Saat ini di Indonesia, ada empat operator telekomunikasi yang beroperasi. Yaitu, Telkomsel, XL Axiata, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Smartfren. Namun, Menkominfo RI Budi Arie Setiadi baru-baru ini mendorong konsolidasi dari empat operator telekomunikasi menjadi tiga operator telekomunikasi.

Dorongan ini untuk mewujudkan industri telekomunikasi yang lebih efisien dan sehat. Mengenai hal ini, Direktur Penataan Sumber Daya Ditjen SDPPI Kemkominfo Denny Setiawan mengatakan, merger operator telekomunikasi masing-masing negara berbeda-beda.

Serba-Serbi 5G - (republika)

  

Namun, memang kalau dilihat dari operator yang ada di Indonesia, masing-masing tidak sama, baik dari sisi bandwidth maupun sisi coverage-nya. Sehingga maksud dari Menkominfo RI Budi Arie Setiadi adalah bagaimana kompetisinya bisa lebih adil dan baik. 

“Tapi, tadi kan namanya restrukturisasi itu kan enggak bisa kawin paksa ya. Tapi, kami ya tadi, sebenarnya dari segi regulasi, infrastruktur sharing mendorong spectrum sharing juga bisa gitu ya. Ini mungkin yang perlu dieksplor ya,” ujar Denny. Pada intinya, Denny melanjutkan, Kemenkominfo memfasilitasi. 

Sementara itu, Rudi menyebut apa yang disampaikan Denny bisa menjadi solusi, tapi tidak bisa dilakukan dengan paksa. Menurut Rudi, kejadian itu pasti ada latar belakang alasan konsolidasi dalam konstruksi perlu dibuat. 

“Pada intinya tentu bahwa sebuah operator itu berharap kinerjanya itu bagus. Tapi, karena mungkin di background-nya ada suatu kompetisi yang memang termasuk tinggi, pada akhirnya ada batasan pada operator harus mendapatkan solusi yang terbaik, salah satunya melalui merger dan akuisisi,” kata Rudi.  

Meski begitu, Rudi menyebutkan, menurut ATSI, operator telekomunikasi yang jumlahnya empat itu masih bisa sehat. Sebab kalau pelaku usaha tentu berharap bahwa beban operasionalnya wajar tidak terlalu tinggi.

Sehingga ia dapat cekatan memberikan layanan yang lebih baik dan sehat untuk membangun infrastruktur. “Seperti yang kami sampaikan tadi bahwa kalau regulatory kita ukur sudah di atas 10 persen riset di negara-negara manapun, di negara-negara dunia, itu kalau sudah lebih 10 persen. Artinya, kita sudah mau masuk ke area yang tidak sehat, tidak sustain," ujar Rudi. 

Di situlah ATSI berharap empat operator telekomunikasi ini masih bisa sehat. Selain itu, ATSI juga berharap ada ruang yang dapat mereka dapatkan melalui insentif, kemudian melalui relaksasi dan melalui transformasi regulasi. "Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bersama," ujar Rudi. 

Mencapai Efisiensi

photo
Pengunjung bermain game virtual reality menggunakan jaringan 5G di booth Telkomsel 5G di Sirkuit Mandalika, KEK Mandalika Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (19/3/2022). Telkomsel menghadirkan pengalaman akses konektivitas digital berteknologi terdepan Hyper 5G di perhelatan balap motor internasional MotoGP 2022 di Mandalika pada 18-20 Maret 2022 dengan dukungan 16 BTS 5G yang menjangkau sejumlah titik di kawasan Sirkuit Mandalika dan Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid. - (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz)

Oleh karena itu, ATSI bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan lain-lain untuk membuat satu kajian yang tujuannya membantu pemerintah merumuskan regulasi yang ramah terhadap industri dan tentunya ramah terhadap masyarakat. “Nah, di situlah yang mungkin bisa menjadi tolak ukur bagaimana mungkin kita bisa lebih sehat atau bisa lebih sustain,” ujar Rudi. 

Di sisi lain, ia mengatakan, jika jumlah operator telekomunikasi yang ada di Indonesia menjadi tiga operator saja, tentu akan menjadi lebih baik untuk pengalaman penggunanya. Korelasinya adalah jika membandingkan di negara-negara lain, kalau jumlah operatornya lebih sedikit tentu alokasi frekuensinya akan jadi lebih optimal. 

Ini karena masing-masing operator memiliki pita frekuensi atau bandwidth yang lebih besar. Semakin besar pita frekuensi kemudian diadopsi terhadap teknologi, itu akan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar pula. “Jadi, di situ tentu akan men-generate sesuatu yang lebih baik, kapasitasnya otomatis jadi lebih besar,” ujar Rudi. 

photo
Penggunaan teknologi 5G - (Istimewa/onlinelibrary.wiley)

Kemudian, mengenai pentingnya frekuensi. Bagi operator untuk mendapatkan kapasitas lebih besar hanya ada dua pilihan. Yaitu, ekstensifikasi dari frekuensi dan densifikasi site

Dia mengungkapkan saat berbicara densifikasi site, berarti kita harus membangun site baru. “Padahal kalau kita ekstensifikasi dari frekuensi, makin lebar pitanya atau bandwidth-nya itu akan men-generate kapasitas yang lebih besar pula,” kata Rudi. 

Dia selanjutnya menjelaskan konversi daripada kapasitas yang lebih besar untuk menjadi throughput per user juga menjadi lebih besar. Sehingga apa yang dijanjikan oleh jaringan 5G, misalkan, bahwa 5G hadir itu adalah untuk memperbaiki 4G yang sama-sama ada di level mobile broadband. Namun, ditambahkan peningkatan. 

“Di situlah artinya bahwa yang tadinya 10 mbps itu bisa menjadi 100 mbps per user. Nah, itu kalau kita baru ngomong user, kemudian usernya itu sekarang tidak hanya orang, tapi anything,” ujarnya. 

Rudi juga menjelaskan, ke depan sektor telekomunikasi di Indonesia butuh teknologi yang kapasitas kecepatannya mumpuni dan latensinya pun singkat. Karena dengan tercapainya dua hal tersebut, akan men-generate produktivitas, dan otomasi.  

 

 
Makin lebar pitanya atau bandwidth-nya itu akan men-generate kapasitas yang lebih besar pula. 
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Harap-Harap Cemas Implementasi 5G Secara Luas

Nyawa 5G ada di ketersediaan spektrum.

SELENGKAPNYA