Ekonomi
Konsumsi Rakyat Jadi Penopang Ekonomi RI
Indonesia diyakini segera lepas dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5 persen.
JAKARTA — Perekonomian Indonesia membuka tahun 2026 dengan lonjakan pertumbuhan yang melampaui ekspektasi. Produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan, memberi sinyal kuat bahwa ekonomi nasional mulai keluar dari pola stagnasi di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai capaian tersebut sebagai titik balik penting bagi ekonomi Indonesia. “Sudah jelas kita bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Purbaya mengaku sempat menunggu dengan tegang sebelum data resmi diumumkan. Hasil pertumbuhan yang melampaui proyeksi pemerintah membuat optimisme terhadap arah ekonomi meningkat. “Begitu target tercapai, saya jadi lebih tenang,” katanya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama pertumbuhan dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB. Stabilnya aktivitas belanja masyarakat menjaga ekonomi tetap bergerak di tengah tekanan global dan ketidakpastian eksternal.
Kepala BPS Amalia Adhininggar mengatakan, konsumsi masyarakat menyumbang pertumbuhan terbesar, yakni 2,94 persen. Momentum libur nasional, Nyepi dan Idulfitri, peningkatan mobilitas penduduk, serta berbagai stimulus pemerintah menjadi faktor pendorong utama.
Menurut Amalia, jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat 13,14 persen secara tahunan. Mobilitas ini diikuti lonjakan jumlah penumpang berbagai moda transportasi, bahkan angkutan darat tumbuh hingga 20,20 persen.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen pengeluaran lain yang menopang pertumbuhan adalah investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 5,96 persen. Peningkatan investasi menunjukkan aktivitas pembangunan dan ekspansi usaha tetap berlangsung di tengah dinamika ekonomi global.
Kinerja paling mencolok datang dari konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81 persen. Amalia menjelaskan lonjakan tersebut dipicu pembayaran gaji ke-14 atau tunjangan hari raya, peningkatan belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis yang memperkuat perputaran ekonomi masyarakat.
Dari sisi lapangan usaha, lima sektor utama penyumbang PDB tetap menjadi penopang ekonomi nasional. Industri pengolahan berkontribusi 19,07 persen, diikuti perdagangan 13,28 persen, pertanian 12,67 persen, konstruksi 9,81 persen, dan pertambangan 8,69 persen.
Sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan perluasan program pemerintah. Sektor jasa lainnya tumbuh 9,91 persen, sementara transportasi dan pergudangan meningkat 8,04 persen.
Industri pengolahan sendiri tumbuh 5,04 persen, terutama ditopang industri makanan dan minuman, barang elektronik, logam, kimia, farmasi, dan obat tradisional. Sektor perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,26 persen karena meningkatnya produksi domestik serta impor barang konsumsi dan bahan baku.
Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan solid 5,49 persen, didorong proyek pemerintah dan swasta, sedangkan sektor pertanian tumbuh stabil sebesar 4,97 persen.
Secara regional, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen, diikuti Sulawesi 6,95 persen serta Jawa 5,79 persen. Kinerja wilayah tersebut mencerminkan aktivitas pariwisata, industri, dan investasi yang semakin merata.
Meski capaian awal tahun tergolong kuat, pemerintah mulai mewaspadai potensi perlambatan pada kuartal II 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan, pertumbuhan kuartal I banyak dipengaruhi faktor musiman Ramadan dan Idulfitri yang biasanya mendorong konsumsi tinggi.
“Untuk kuartal II, salah satu yang akan kita genjot adalah belanja pemerintah,” ujar Airlangga dalam Taklimat Media di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Tanpa momentum musiman tersebut, konsumsi masyarakat berpotensi melandai. Karena itu, pemerintah menyiapkan belanja negara sebagai bantalan pertumbuhan, termasuk melalui penyaluran gaji ke-13 aparatur sipil negara pada Juni guna menjaga daya beli.
Pemerintah juga menghadapi tekanan eksternal berupa perlambatan ekspor dan dinamika industri manufaktur global. Meski demikian, indikator manufaktur domestik masih berada di zona ekspansi dan investasi pada kuartal I tercatat tumbuh sekitar 7 persen.
Sejumlah komitmen investasi baru terus dikejar agar segera terealisasi dan menjadi sumber pertumbuhan berikutnya. Pemerintah menilai keberlanjutan pertumbuhan di atas 5 persen sangat bergantung pada konsistensi belanja negara, realisasi investasi, serta kemampuan menjaga konsumsi masyarakat.
Capaian pertumbuhan 5,61 persen pada awal tahun memberi sinyal bahwa ekonomi Indonesia memiliki ruang untuk naik ke level yang lebih tinggi. Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum tersebut agar tidak kembali terjebak pada pola pertumbuhan moderat yang selama ini dikenal sebagai “kutukan 5 persen”.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
