PLN Nusantara Power menggunakan pelet biomassa dari kayu pohon kaliandra merah sebagai substitusi batu bara di PLTU Indramayu, Jawa Barat. | PLN Nusantara Power

Ekonomi

Menghijaukan PLTU Sambil Memberdayakan Masyarakat

Pengembangan biomassa pada PLTU tak hanya berfokus untuk rantai pasok energi.

JAKARTA -- Pengembangan ekosistem biomassa sebagai bahan baku alternatif pengganti batu bara terus digencarkan. Selain digadang-gadang menjadi upaya untuk menghijaukan PLTU, pemanfaatan biomassa juga bertujuan memberdayakan masyarakat setempat.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan, PLN bertekad memimpin program-program inisiatif transisi energi demi mendukung pemerintah mencapai net zero emissions (NZE) 2060. Salah satu upayanya, PLN memulai implementasi program co-firing di puluhan pembangkit PLN sejak 2021.

Co-firing merupakan substitusi batu bara pada rasio tertentu dengan bahan biomassa, seperti pelet kayu, sampah, cangkang sawit, dan serbuk gergaji. PLN menyatakan telah menerapkan program co-firing di 40 PLTU.

photo
Petugas PLN Indonesia Power melakukan pengecekan terhadap biomassa sawdust yang akan digunakan sebagai substitusi bahan bakar batu bara atau co-firing di PLTU Suralaya, Cilegon, Banten. - (PLN Indonesia Power)

Melalui teknologi co-firing, PLN mengaku mampu menurunkan emisi karbon hingga 429 ribu ton CO2 sepanjang semester I tahun 2023. Dalam masa transisi energi, PLN menggunakan teknologi co-firing di PLTU sebagai upaya menekan penggunaan batu bara.

Dalam proses co-firing tersebut, PLN melalui subholding PLN Energi Primer Indonesia (EPI) memenuhi kebutuhan biomassa melalui keterlibatan masyarakat.

"Komitmen PLN dalam transisi energi melalui program co-firing ini, tidak hanya untuk menekan emisi tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai upaya membangun ekosistem energi berbasis ekonomi kerakyatan,” ucap Darmawan, Jumat (22/9/2023).

Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Antonius Aris Sudjatmiko mengatakan, strategi pemenuhan volume rantai pasokan biomassa saat ini mengoptimalkan sumber daya setempat dan keterlibatan masyarakat. Hal ini untuk menggali besarnya potensi biomassa Indonesia mencapai 500 juta ton per tahun yang tersebar di berbagai wilayah. Adapun pemenuhan target pasokan biomassa PLN EPI sekitar 10,2 juta ton per tahun pada 2025.

"Jadi, pemberdayaan masyarakat itu suatu keharusan. Bahkan, kita tidak menyebutnya pemberdayaan masyarakat, tapi memang keterlibatan masyarakat. Sekarang kita menjadikan masyarakat sebagai objek, sebagai pengguna energi, tapi sekarang mereka menjadi produsen energi, mereka sebagai pengelola energi. Itulah yang menjadi mitra utama kami untuk biomassa," ujar Aris.

Selain itu, PLN EPI dalam pengembangan biomassa tak hanya berfokus untuk rantai pasok energi, tetapi juga bertujuan menyerap lapangan kerja selaras dengan prinsip environmental, social and governance (ESG). Aris menyebutkan, pengembangan biomassa untuk co-firing PLTU terbukti mampu menyerap tenaga kerja, baik di wilayah sekitar pembangkit maupun dari kaum marginal di berbagai daerah. Menurut dia, 1 ton biomassa mampu menyerap sekitar 10 orang tenaga kerja.

"Contoh di Aceh, kami menggerakkan masyarakat lokal, kebanyakan yang direkrut adalah warga dan petani lokal setempat. Lalu, di Lampung, dari petani-petani karet itu yang mengumpulkan biomassa, termasuk bonggol jagung untuk di Sumbawa, di Jawa Barat itu adalah sekam. Di Kupang itu per bulan 100 ton mampu menyerap 530 orang, mulai dari pengumpulan, pemrosesan, transportasi, loading on loading," kata Aris.

photo
Pekerja melintas di depan tempat penguapan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya di Nagan Raya, Aceh, Senin (28/9/2020). PLTU Nagan Raya memproduksi sekitar 220 megawatt yang didistribusikan ke sejumlah unit transmisi untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di seluruh Aceh. - (IRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO)

Kepala Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menilai pengembangan biomassa atau bioenergi tidak hanya berfokus untuk energi semata, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat. Karena itu, pengembangan biomassa sebagai salah satu upaya mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan harus dirasakan seluruh pihak.

"Jangan kita bicara biomassa atau bioenergi hanya untuk kepentingan energi, tetapi kita harus melihat kepentingan yang lebih luas, kepentingan pembangunan yang dampaknya buat masyarakat, baik masyarakat sekitar maupun masyarakat dalam arti luas," ujar Bambang 

Transisi Energi Melalui EBT - (Republika)

  ​

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), total kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis energi baru-terbarukan hingga semester pertama 2023 telah mencapai 12.736,7 megawatt (MW). Besaran angka itu merupakan hasil kontribusi dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 6.738,3 MW, pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBio) 3.118,3 MW, dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 2.373,1 MW. Kemudian, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 322,6 MW, pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) 154,3 MW, serta pembangkit listrik gasifikasi batu bara 30,0 MW.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat