CEO Mookie, Rahma Putri | dok pribadi
26 Feb 2020, 02:00 WIB

Mewujudkan Impian Masa Kecil

Mookie bisa dikudap sebagai MPASI maupun camilan bagi ibu hamil.

 

 

Bagi kebanyakan orang, cookies atau kue kering hanya dilihat sebagai camilan pengganjal perut. Tapi, tidak bagi Rahma Putri, yang akrab disapa Uti. Menurut perempuan berusia 27 tahun tersebut, cookies  merupakan bagian dari memori masa kecil yang sulit terlepas dari kehidupannya sampai sekarang.

Sejak dulu, Uti gemar membuat cookies  bersama ibu di rumah. Meski sekadar membantu menuangkan bahan-bahan kue ke wadah, pengalaman itu cukup membekas bagi Uti.

Terkait

Cookies  juga menjadi comfort food bagi Uti, terutama kue dengan tekstur kenyal (chewy) dan lembut (soft baked). Pada saat sedang pusing dengan pendidikan, cookies  juga kerap digunakan Uti sebagai 'pelarian’. "Saya sampat kuliah di luar negeri, ngemilnya itu terus," ujar Uti ketika ditemui Republika di Jakarta Selatan, awal Februari 2020 ini.

Namun, saat itu Uti masih sulit menemukan cookies dengan tekstur yang digemarinya di Indonesia. Kue kering di sana kebanyakan bertekstur renyah (crunchy). Kalaupun ada, hanya satu merek dengan rasa yang terbatas.

Berangkat dari kondisi itu, Uti mencoba menawarkan racikan resep cookies favoritnya ke pasaran pada 2016. Mengangkat jenama (brand) Mookie, ia ingin memberikan varian kue kering baru kepada masyarakat sekaligus berbagi memori masa kecilnya ke banyak orang.

Awal-awal menjalankan Mookie, Uti hanya menganggapnya sebagai hobi. Sebab, saat itu, ia masih bekerja penuh untuk desainer fesyen. Karena itu, Mookie baru dikenalkan melalui platform daring dengan total tiga pegawai.

 
photo
Produk Mookie - (dok pribadi)

Tidak sulit bagi Uti untuk mengembangkan bisnis Mookie. Maklum, sejak masih sekolah, ia sudah terbiasa berdagang untuk menghasilkan lebih banyak uang jajan dan tabungan. "Dari kecil sampai SMP dan kuliah, sudah jadi habit untuk jualan. Makanya, pas gede, jiwanya jualan banget," kata Uti sembari tertawa.

Seiring berjalannya waktu, Mookie semakin dikenal masyarakat. Sampai pada 2018, Uti mendapatkan rekan bisnis baru untuk mengembangkan Mookie. Partner itu tidak lain adalah sang suami yang memutuskan berhenti dari pekerjaan tetap untuk bersama-sama membesarkan Mookie.

Setelah dua tahun lebih hanya terbatas di platform daring, Mookie pun beranjak ke penjualan luring. Pada awal 2019, Mookie sudah masuk ke mal di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Sampai saat ini, Mookie sudah ditemukan di tiga gerai yang tersebar di Jakarta Barat hingga Tangerang Selatan.

Selain itu, Uti menuturkan, Mookie memperluas jaringannya ke lokapasar. hingga ke fitur layanan pesan-antar di aplikasi transportasi daring. Mookie juga mulai masuk ke kanal bisnis antarinstansi. "Kami kerja sama dengan restoran dan gerai kopi," kata perempuan lulusan Lasalla College, Jakarta, itu.

Tahun ini, Mookie kembali berencana melakukan ekspansi besar. Uti menargetkan, gerai Mookie dapat bertambah tiga hingga empat buah dengan konsep utama pop up store. Fokus utama ekspansi adalah di Jakarta Selatan, daerah dengan pangsa pasar terbesar untuk Mookie.

Dua kolaborasi besar untuk momentum Lebaran dan Natal pun masuk dalam daftar perencanaan bisnis Mookie. "Kami sudah siapkan dari sekarang," ujar Uti.

Berbicara pasar, Uti menjelaskan, konsumen Mookie cenderung beragam. Dari usia 16 tahun hingga 45 tahun dapat menikmati varian kue kering yang disajikan Mookie. Bahkan, racikan Mookie dapat dinikmati sebagai makanan pendamping ASI (MPASI) dan camilan para balita.

Dalam tiap meracik resep, Uti menyebutkan, Mookie selalu berupaya memberikan pengalaman beragam kepada banyak orang. Oleh karena itu, ia juga menyediakan cookies  untuk vegan dan mereka yang sedang diet dengan kandungan bebas gluten. "Anak bayi, ibu hamil, dan ibu menyusui juga bisa mengonsumsinya karena kami masukkan almond, oat, dan bahan pangan sumber serat yang bisa bantu ASI lebih lancar," kata Uti.

Sejak awal, Mookie rutin menawarkan beragam rasa. Setiap bulan, Uti mengganti varian rasa yang dihadirkan, sesuai dengan tema besar yang dibawa Mookie. Meski sempat membuat beberapa orang ragu untuk mencoba, kini konsep Mookie sudah dapat diterima. Generasi milenial sebagai pasar utama Mookie menjadi pendorong utama penerimaan ini.

Tiap hari, Uti mencatat, Mookie setidaknya dapat terjual 12 hingga 15 lusin dengan rata-rata belanja per konsumen adalah Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu tiap hari. Kebanyakan konsumen mereka adalah perempuan dengan latar belakang pekerja.

Kolaborasi bisnis

Berbeda dengan kondisi 2016, kini bisnis kue kering sudah semakin kerap ditemui. Uti menilai, booming cookies mulai terjadi pada 2018. Saat itu, banyak merek kue kering lokal ataupun internasional yang bermunculan.

Keberadaan kompetitor dipandang Uti sebagai sebuah kesempatan. Orang Indonesia, khususnya Jakarta, kini semakin ngeh dengan kue kering. "Saya menganggap keberadaan mereka dapat memperkuat industri cookies , terutama kue yang chewy," ujarnya.

Tapi, tak pelak, kompetisi semakin terasa. Memperkuat jenama Mookie menjadi salah satu cara yang Uti lakukan untuk mempertahankan Mookie di tengah kompetisi tersebut. Tidak hanya sebagai jenama yang menjual kue kering, juga jenama untuk membangun rasa kepedulian dan kemawasan diri.

Kolaborasi juga menjadi upaya lain yang dilakukan. Baik itu dengan jenama makanan lokal, fesyen, hingga bekerja sama dengan influencer. Bentuk kolaborasi yang dilakukan beragam, mulai dari menciptakan satu resep bersama-sama sampai dengan menyosialisasikan cerita Mookie.

Kolaborasi sudah dilakukan Mookie sejak pertama kali berdiri. Menurut Uti, terlepas dari tren kolaborasi yang semakin kuat saat ini, kerja sama dengan jenama lokal lain merupakan kunci untuk menciptakan bisnis berjangka panjang dan berkelanjutan.

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan kolaborasi. Kesadaran konsumen semakin tinggi, termasuk konsumen dari produk yang menjadi teman kolaborasi. "Branding suatu produk pun kian kuat. Message yang kami sampaikan juga dapat lebih masuk ke masyarakat dengan kolaborasi itu," tutur Uti.

Namun, bukan berarti Uti sembarang memilih teman kolaborasi. Menurutnya, kesamaan nilai dan visi misi menjadi poin pertimbangan utama untuk memilih rekan kolaborasi. Apabila poin ini tidak dimiliki sedari awal, kerja sama tersebut justru terkesan sebagai paksaan dan tidak menghasilkan dampak positif.  

Poin ini yang menjadi alasan Mookie kemarin memutuskan bekerja sama dengan figur publik, Ayla Dimitri, untuk menyosialisasikan gaya hidup holistik dan mindfullness. Kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan peningkatan penjualan kue kering, juga menguatkan jenama Mookie. "Masyarakat sangat menerima," kata Uti. n

photo
produk Mookie - (dok pribadi)

 

Selalu Punya Cerita

Cerita di balik setiap rasa menjadi ciri khas Mookie yang membedakannya dengan jenama cookies  pada umumnya. Sering kali, Uti juga menyelipkan pesan untuk para konsumen maupun masyarakat luas. Khususnya mengenai kepedulian terhadap diri sendiri dan kesadaran diri.

Misalnya, pada Februari ini, Mookie mengangkat tema comfort food. Menu-menu yang disajikan adalah cookies  yang dapat membuat karakter Mookie senang dan relaks. Sebut saja, White Macadamia Slide, kue kering chewy dengan perpaduan kacang makadamia yang garing dan chocolate chips putih. Kolaborasi klasik yang tidak pernah gagal disukai orang-orang.

Dari situ, Uti menjelaskan, Mookie ingin memberi tahu kepada banyak orang bahwa karakter Mookie memiliki comfort food sebagai bagian dari self care. "Kita ingin sampaikan dan lanjutkan itu ke audiens, bagaimana sih kamu menikmati self care kamu?" ujarnya.

Bahkan, karakter Mookie yang diilustrasikan dengan panda merah pun memiliki ceritanya sendiri. Uti menceritakan, Mookie merupakan karakter yang tinggal sendiri di sebuah planet kecil. Ia tinggal di rumah kue dan gemar membuat kue basah maupun kue kering setiap hari.

Suatu hari, Mookie memantau planet lain lewat teleskop dan melihat sebuah planet bernama Bumi dengan penduduknya yang tidak terlihat bahagia. Dari situ, ia memiliki visi untuk membahagiakan manusia Bumi dengan cara membagikan kue racikannya.

Dengan pesawat kue, Mookie berangkat ke Bumi. Secara diam-diam, ia meletakkan cookies  racikannya di depan rumah tiap penduduk Bumi. Tidak disangka, kue Mookie disenangi banyak orang. Sejak itu, Mookie selalu membuat kue dengan tujuan membuat banyak orang bahagia.

Dari awal, Uti selalu menekankan Mookie bukan sekadar berjualan kue kering dan mencari peruntungan. Lebih dari itu, Mookie merupakan jenama yang berjualan cerita, konsep, dan ide. Dengan begitu, Mookie diharapkan dapat memberikan pengalaman premium tentang dunia //cookies//, di samping produk premium dengan berkualitas tinggi.

Tidak kalah penting, Uti menambahkan, Mookie juga berupaya memberikan dampak positif ke masyarakat sekitar. Salah satunya mengenai self awareness melalui cerita Mookie. "Makanya, kita suka kolaborasi dengan brand lokal dan charity. Itu yang membuat Mookie berbeda secara branding keseluruhan," tuturnya.

Uti menyebutkan, kekuatan branding ini yang membuat banyak orang menjadi konsumen loyal Mookie. Mereka tidak hanya tertarik dari segi rasa, juga sisi cerita Mookie yang dinilai telah berdampak bagi mereka.

Cerita yang disampaikan Uti melalui Mookie pun memiliki alur agar lebih mudah dicerna oleh masyarakat. Ke depannya, ia berencana membuat story book yang dapat menjelaskan dunia Mookie. Di dalamnya, Uti juga akan menyertakan resep dari tiap menu Mookie dengan pesan di baliknya secara interaktif dan menyenangkan.

 

Mookie

Berdiri : 2016

Founder : Rahma Putri (CEO)

Instagram : @mookie.id

Penghargaan :   Winner Young Founder dalam Creativepreneur Corner 2019.

Gerai : Gandaria City, Foodhall Neo Soho dan Co Working Space di Bintaro 


×