Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Nostalgia

Hukum Pancung di Batavia

Tiang gantungan dipasang secara permanen di halaman gedung Balai Kota.

Oleh ALWI SHAHAB

Hukuman mati, termasuk dalam bentuk hukum pancung, bukan barang baru di Indonesia. Di Jakarta ketika masih bernama Batavia yang sampai tahun 1809 dikelilingi tembok pertahanan berdiri sebuah gedung dari abad ke-18 yang merupakan Balai Kota Batavia yang kini masih berdiri dengan megah, yaitu yang kini Museum Sejarah DKI Jakarta atau dikenal dengan Museum Fatahillah.

Di tempat ini sampai 1896 dijadikan tempat eksekusi para narapidana dengan didirikannya tiang gantungan di depan pintu gerbangnya yang kini sudah tidak ada lagi.

Di lantai dua dari gedung ini, yaitu di salah satu pojoknya kita akan mendapati “Pedang Keadilan”, yang sayangnya sekarang ini sudah tidak ada lagi. Eksekusi terakhir di tiang gantungan dilakukan terhadap seorang perampok bernama Tjoen Bunceng pada tahun 1896.

Sejak itu tidak ada lagi hukuman mati di Jakarta. Tapi kita masih mendapati penjara bawah tanah yang gelap dan menakutkan yang banyak menarik perhatian pengunjung museum. Sebelum eksekusi mati, mereka yang dipenjarakan terlebih dulu diinterogasi di “kamar penyiksaan” yang masih berada di gedung museum.

Berdasarkan hukum ketika itu, seorang narapidana baru dinyatakan bersalah setelah mengakui perbuatannya. Tapi, orang yang tidak bersalah pun akan mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak mereka buat karena tidak tahan terhadap penyiksaan. 

Berdasarkan hukum ketika itu, seorang narapidana baru dinyatakan bersalah setelah mengakui perbuatannya.
   

Sejarawan Belanda, F de Haan, dalam buku Oud Batavia menuturkan bahwa tiang gantungan dipasang secara permanen di halaman gedung Balai Kota. Konyolnya, pelaksanaan hukuman mati tak jarang dilakukan oleh seorang algojo yang tidak berpengalaman. Akibatnya sungguh mengerikan. Algojo harus berkali-kali mengayunkan pedangnya sampai si terhukum diyakini benar-benar telah mati. Apa yang disebut “Pedang Keadilan”, yang beberapa tahun lalu masih dipamerkan di museum ini, panjangnya sekitar 1,20 meter.

Seorang Jerman yang bekerja dalam dinas VOC memaparkan bahwa pada 29 Juli 1676, empat orang dipancung karena dakwaan membunuh. Masih banyak lagi mereka yang dihabisi nyawanya, termasuk seorang Indo-Belanda digantung dengan tuduhan mencuri. Enam budak belian dipatahkan tubuhnya dengan roda karena dituduh mencekik majikannya.

Disebutkan pula beberapa orang Belanda dihabisi di tiang gantungan hanya lantaran selama dua malam meninggalkan pos penjagaan. Delapan pelaut yang melakukan desersi didera dan dicap dengan lambang VOC dari besi panas. Seorang wanita Belanda, isteri seorang guru, dikalungi besi dan ditahan dalam penjara wanita yang letaknya berdampingan dengan penjara pria. Wanita ini ditahan selama 12 tahun karena dituduh berzina.

Menurut salah seorang staf museum yang saya wawancarai menyatakan, "Pengadilan kolonial berpegang pada prinsip: tidak ada maling yang mengakui perbuatannya." 

Disebutkan pula beberapa orang Belanda dihabisi di tiang gantungan hanya lantaran selama dua malam meninggalkan pos penjagaan.
   

Inilah yang membuat prinsip bahwa pengadilan kala itu tidak dapat menjatuhkan hukuman kepada seseorang sebelum mengakui perbuatannya. Akibatnya pun dapat ditebak, banyak tahanan yang mengakui apa yang dituduhkan kepadanya karena tidak tahan terhadap penyiksaan saat interogasi.

Menurut petugas museum, penjara bawah tanah selalu terisi penuh. Yang paling banyak dipenjarakan adalah para budak. Pernah dari 373 tahanan yang dipenjarakan di sana, 333 di antaranya adalah budak.

Kala itu, perbudakan dilegalkan dan jumlahnya hampir setengah dari jumlah penduduk Batavia. Mereka diperlakukan semena-mena dan hanya masalah kecil dihukum oleh majikannya. Waktu itu, di salah satu tempat di Kali Besar, termasuk gedung yang kini menjadi Gedung Merah, adalah salah satu tempat jual beli dan lelang budak.

Rupanya kala itu orang yang tidak dapat membayar utang bisa dijadikan narapidana dan dipenjarakan. Pada pertengahan abad ke-18, tulis De Haan, tercatat 436 orang yang ditahan di penjara Balai Kota. Dari jumlah itu, 64 orang ditahan karena tidak dapat membayar utang. 

Rupanya kala itu orang yang tidak dapat membayar utang bisa dijadikan narapidana dan dipenjarakan.
   

Di antara mereka yang dieksekusi mati terdapat nama Oey Tambahsia, seorang petinggi masyarakat Tionghoa. Tapi, dia lebih dikenal sebagai seorang playboy karena kesukaannya terhadap wanita, tidak peduli istri orang.

Orang itu terkenal karena kekayaannya. Tiap pagi saat dia buang air besar, belasan orang menungguinya. Karena saat dia membasuh, dia menggunakan uang kertas untuk membersihkannya. Mereka yang menungguinya saling rebutan hingga ada yang luka-luka.

Disadur dari Harian Republika edisi 19 Januari 2015. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman. Beliau meninggal pada 2020.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Sejarah Panjang Bisnis Seks di Jakarta

Bisnis esek-esek telah menjamur di Jakarta sejak masa kolonial.

SELENGKAPNYA

Sejarah Pajak Judi Warisan Kumpeni

Pajak tak pernah berhasil menghambat penyebaran judi di masyarakat.

SELENGKAPNYA

Saat Kumpeni Awasi Ulama

Kekhawatiran yang paling utama adalah apabila nilai agama yang ditanamkan ini menjadi kekuatan politik.

SELENGKAPNYA