Ilustrasi banjir di Jakarta | ANTARA FOTO

Jakarta

Terdampak Banjir, Ratusan Siswa Terpaksa Belajar di Kelas Lain

Banjir menghambat aktivitas belajar para siswa.

Atap dari salah satu bangunan sekolah SMK Negeri 24 yang terletak di Bambu Apus, Jakarta Timur, roboh, Jumat (21/2), sekira pukul 02.45 WIB. Bangunan yang terdiri atas dua lantai itu diketahui baru saja direnovasi pada 2018 lalu.

Berdasarkan pantauan Republika pada Senin (24/2), kondisi kerusakan pada bangunan itu tidak terlalu terlihat dari depan sekolah. Hanya terdapat beberapa plafon yang rusak dan tiang-tiang baja ringan yang menjadi penyangga atap bengkok, bahkan ada pula yang patah.

Di sekitar lokasi kejadian, telah dipasang garis kuning-hitam untuk menghindari para siswa melintas di dekat sana. Beberapa petugas bangunan pun tampak mulai bekerja membersihkan sisa-sisa atap yang roboh di lantai dua itu. Seluruh meja dan kursi yang terdapat di ruang kelas itu pun telah dievakuasi ke lantai satu dan ditata di lorong sekolah.

Saat berjalan menuju ke belakang bangunan, pemandangan yang berbeda sangat terlihat jelas. Puing-puing pecahan genteng masih berserakan. Tidak ada kegiatan belajar-mengajar (KBM) di ruang kelas yang atapnya roboh itu.

Sementara itu, di lantai dasar bangunan, terdapat beberapa ruangan lainnya yang terdiri atas ruang jahit dan unit produksi bagi para siswa, ruang guru umum, dan sebuah minimarket (pusat bisnis). Sebagian besar ruangan itu tampak kosong, hanya terlihat beberapa guru dan siswa yang sesekali keluar-masuk ke minimarket. Bahkan, terdapat dua orang guru yang berjaga di lorong tersebut untuk mengingatkan para siswa tidak mendekat ke sekitar bangunan sekolah.

Kepala SMK Negeri 24, Tri Eriyani, mengatakan, tidak ada korban jiwa saat atap gedung itu roboh. Meski demikian, Tri belum dapat memastikan penyebab robohnya atap tersebut. Dia menduga, hal itu disebabkan oleh hujan deras yang mengguyur.

"Kalau di sekolah, tahunya memang karena faktor alam, ya. Kebetulan malam Jumat itu kan hujannya lebat banget ya disertai angin, jadinya runtuh. Kalau secara spesifik, kita kurang tahu," kata Tri .

Tri menuturkan, sehari setelah kejadian pihak kontraktor dan pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab sudah mengadakan rapat dan melakukan koordinasi. Bahkan, kata dia, hari itu juga puing-puing runtuhan telah dibersihikan agar tidak membahayakan para siswa ataupun guru.

Menurut Tri, pada 2018, atap gedung itu selesai direnovasi. Sebelum renovasi, atap gedung sekolah juga menggunakan genteng, tetapi tidak memakai baja ringan sebagai penopangnya.

Meski tidak ada korban jiwa, Tri menjelaskan, akibat atap roboh itu, sebanyak 600 siswa pun harus melakukan KBM di ruang kelas lain. Sebab, sebanyak 17 ruangan yang terdiri atas ruang kelas dan laboratorium sementara ini tidak bisa digunakan. Tiap-tiap kelas itu diisi oleh sekira 36 siswa kelas 10.

"Yang terdampak itu ada delapan (kelas) itu runtuh betul. Kemudian, ada empat (ruangan) tidak runtuh, tapi tidak bisa kami gunakan dan berdampak lagi ada lima kelas sehingga total semuanya ada 17 ruangan," papar Tri.

Salah seorang siswi kelas 10 di SMKN 24, Putri, mengatakan, ia tidak merasa terganggu meskipun saat ini belajar di ruang kelas yang lain. Dia pun berharap agar proses perbaikan pada atap roboh itu dapat segera selesai. "Semoga saja perbaikan atapnya bisa segera selesai dan hal yang sama tidak terulang lagi ke depannya," kata Putri berharap.

 

Diinvestigasi

Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur akan melibatkan kepolisian bila pihak kontraktor tidak berkitikad baik memperbaiki kerusakan atap SMKN 24 Jakarta yang ambruk. Kepala Bidang Prasarana Suku Dinas Pendidikan JakartaTimur Budi Sulistiono mengatakan, seusai kejadian, pihaknya telah menerima instruksi Wali Kota Jakarta Timur M Anwar untuk melakukan investigasi.

Investigasi itu dilakukan mengingat sebanyak delapan dari total 17 ruang kelas 10 yang ambruk di bagian atap baru setahun selesai direhabilitasi kategori berat dengan anggaran berkisar Rp 600 juta. Langkah awal yang akan dilakukan adalah memanggil pihak kontraktor, PT Daudos Manuli, pengawas pekerjaan, beserta pejabat pembuat komitmen (PPK) untuk menggali informasi seputar pelaksanaan pekerjaan.

"Waktu pelaksanaan kan ada pengawasnya. Kalau material dan struktur bangunan itu kan di mana-mana seperti itu, tinggal pengerjaan dan pengawasannya bagaimana," kata Budi.

Hasil penelusuran awal pihaknya diketahui proyek rehabilitasi konstruksi atap yang ambruk itu belum ada proses serah terima tahap dua. Ditanya terkait adanya indikasi gratifikasi yang berpotensi pada pengurangan bestek material bangunan, kata Budi, kecil kemungkinan hal itu terjadi.

"Secara fisik kita sudah jelas tidak ada pembayaran tunai. Uang negara harus ada 'statement' pengawas, dilakukan Asda bayar ke kontraktor. Kalau ada dugaan seperti itu, misalnya, gratifikasi, adukan secara jelas," ujar dia menegaskan.