Masjid Hassan II berada di Kasablanka, Maroko. Kota Kasablanka memiliki sejarah panjang yang merentang sejak ratusan tahun silam. | dok wikipedia

Dunia Islam

Sejarah Kota Kasablanka Pra-Islam

Kota Kasablanka di Maroko memiliki sejarah panjang yang merentang sejak ratusan tahun silam.

Kerajaan Maroko beribu kota di Rabat. Namun, kota terbesarnya bukanlah itu, melainkan Kasablanka. Menurut sensus pemerintah setempat pada 2014, daerah permukiman yang berbatasan dengan Samudra Atlantik itu memiliki populasi 3.359.818 jiwa atau sekitar lima kali lipat daripada Rabat.

Keunggulan Kasablanka bukan pada sisi demografis saja, melainkan juga sejarahnya yang merentang panjang. Kota tersebut didirikan bangsa Berber sekitar abad 10 sebelum Masehi (SM). Mereka menamakannya Anaffa atau Anfa, yang berarti ‘kota bukit.’

Kemasyhurannya menarik ambisi kerajaan di sekitarnya. Bangsa Fenisia kemudian merebut Anfa dari orang-orang Berber. Selama ratusan tahun, kota itu dibangun sebagai salah satu bandar yang ramai di pesisir Afrika Utara.

Antara abad kesembilan dan kedua SM, bangsa maritim itu mengendalikan jalur perdagangan maritim di Mediterania selatan. Saingan terbesarnya adalah Romawi. Sejak 264 SM, kedua belah pihak terlibat dalam berbagai pertempuran besar. Kerajaan yang berpusat di Roma, Italia, itu akhirnya berhasil membumihanguskan pusat pemerintahan bangsa Fenisia di Kartago pada 146 SM setelah pengepungan tiga tahun lamanya. Mulai saat itu, Romawi dapat mencaplok satu per satu wilayah strategis di pantai Afrika Utara, termasuk Anfa.

photo
Kota Kasablanka di Maroko dahulunya bernama Anfa. Dibangun sejak abad ke-10 sebelum Masehi, kota itu kian berkembang pada zaman Imperium Romawi - (DOK WIKIPEDIA)

Sejak abad pertama SM, Anfa dikuasai Roma. Namanya diubah menjadi Anfus. Octavianus Augustus mengembangkannya sebagai salah satu kota perdagangan termaju pada masanya. Hal itu sesuai dengan visi besar dari kaisar pertama Imperium Roma tersebut, yakni Pax Romana, ‘Romawi Raya.’ Untuk diketahui, pada era kekuasaannya seluruh pesisir Mediterania—yang terhampar di dataran Eropa, Asia, maupun Afrika—berada dalam kendali Roma. Hingga abad kelima Masehi, orang-orang Romawi sering menyebut Laut Tengah sebagai Mare Nostrum, ‘Laut Kita.’

Kaisar Romawi membangun sejumlah infrastruktur pendukung untuk menghubungkan Anfus dengan Iles Purpuraires. Kepulauan itu terletak sekitar 350 kilometer arah barat daya Anfus. Pulau terbesarnya bernama Magador. Dari sana, orang-orang Roma mendapatkan pasokan bahan baku pewarna ungu alami. Ungu merupakan warna utama untuk pakaian kebesaran mereka, toga picta. Toga ungu awalnya dipakai para jenderal hanya pada momen-momen tertentu, semisal kemenangan Roma atas musuh-musuhnya. Belakangan, baju tersebut menjadi busana resmi seorang kaisar.

Konsolidasi kekuasaan Roma atas Anfus terus dilakukan terutama dalam masa pemerintahan Kaisar Tiberius (14-37 M) dan Caligula (37-41 M). Menurut sejarawan yang juga penulis buku Descrittione dell’Africa (Deskripsi Afrika) Joannes Leo Africanus (1494-1554 M), para kaisar Roma membangun benteng hingga ke kawasan kota pelabuhan tersebut. Benteng itu tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga tapal batas wilayah Mauretania Tingitana, salah satu provinsi Romawi di pesisir Afrika Utara.

Potret pentingnya Anfus bagi perekonomian imperium tersebut antara lain tampak dari sebuah temuan arkeologis, yakni rongsokan kapal karam di lepas pantai Kasablanka. Di antara puing-puing kapal itu, terdapat 169 keping koin perak yang diyakini berasal dari abad kedua Masehi.

Ajaran Kristen mungkin belum sampai ke seluruh kawasan Maghribi pada abad ketiga. Namun, sejak Kaisar Konstantinus Agung mengakui Kristen pada 312 M penyampaian agama itu pun kian terasa. Barulah pada abad kelima atau keenam, beberapa komunitas Kristen mulai terbentuk di Anfus.

Romulus Augustulus menjadi kaisar terakhir yang bertakhta di Roma. Pada September 476 M, ia dikalahkan oleh Raja Odovacar dari Germania. Kekalahan itu sekaligus menandakan tamatnya riwayat Kekaisaran Romawi Barat setelah eksis lima abad lamanya. Untuk selanjutnya, sentra Imperium Romawi pun bergeser ke timur, tepatnya di kota yang dibangun Konstantinus Agung sejak 324, Konstantinopel. Dari sana, Kerajaan Romawi Timur atau Bizantium terus berdiri hingga kelak ditaklukkan Muslimin pada 29 Mei 1453 M.

photo
Mozaik pada menara Masjid Hassan II, Kota Kasablanka, Maroko - (PIXABAY)

Sejak abad kelima, beberapa provinsi Romawi di barat Laut Tengah jatuh ke tangan bangsa Vandal. Mereka mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Kartago. Keadaannya berubah begitu Perang Vandal meletus pada 534. Melalui palagan tersebut, Kaisar Yustinianus yang Agung mengawali upaya perebutan kembali wilayah Romawi Barat yang hilang di pesisir Afrika Utara. Pertempuran itu akhirnya dimenangkan Bizantium.

Tatkala Kaisar Maurikius mulai memimpin Bizantium pada akhir 580-an, wilayah-wilayah di sana diperintah para wali raja atau ekskarkat. Di antara pelbagai kota dan daerah yang berhasil direbut kembali Romawi Timur ialah Anfus. Para ekskarkat setempat dari generasi ke generasi terus berkhidmat pada Konstantinopel.

Brazil Menang Tipis Atas Peru

Brazil bertengger pada peringkat pertama klasemen sementara Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Conmebol.

SELENGKAPNYA

Mendampingi Para Entrepreneur Muda Berkarya

Dalam kompetisi ini, dewan juri akan mengevaluasi kinerja bisnis para peserta secara komprehensif.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya