Karyawan berjalan di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (13/12/2019). | RENO ESNIR/ANTARA FOTO

Kabar Utama

24 Feb 2020, 02:00 WIB

Transmisi Penurunan Suku Bunga tak Mudah

Kondisi likuiditas di pasar dinilai masih ketat.

 

 

JAKARTA – Transmisi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7-Day Reverse Repo Rate ke suku bunga kredit perbankan butuh waktu. Direktur Finance, Planning, and Treasury Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon Napitupulu mengatakan, perbankan tidak dapat serta-merta menurunkan suku bunga kredit. 

"Kan tidak bisa serta-merta suku bunganya disesuaikan, harus sesuai perjanjian dan jatuh temponya," kata Nixon ketika dihubungi Republika, Ahad (23/2).

Meski begitu, Nixon berharap penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan segera berdampak pada penurunan biaya dana atau cost of fund. Dengan begitu, kebijakan moneter itu dapat ditransmisikan juga ke suku bunga kredit. 

Terlepas dari itu, BTN menyambut baik kebijakan bank sentral. Nixon mengungkapkan, penurunan suku bunga akan berdampak positif terhadap perbankan Indonesia. Namun, ia menjelaskan, suku bunga kredit bank pelat merah kepada nasabah subsidi sudah relatif rendah, yaitu 5 persen. 

Nixon menyampaikan, kebijakan penurunan suku bunga kredit bank tetap harus melihat likuiditas pasar. Menurut dia, kondisi likuiditas masing-masing bank akan menentukan persaingan suku bunga.

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Anggoro Eko Cahyo menyebutkan, transmisi penurunan suku bunga acuan BI ke suku bunga perbankan tidak dapat digeneralisasi. 

Anggoro menuturkan, posisi suku bunga acuan yang sebesar 4,75 persen hanya sebagai jangkar penetapan bunga moneter antara perbankan dan bank sentral. Jangkar ini dilengkapi dengan suku bunga deposit facility dan lending facility. "Sedangkan, referensi suku bunga berlaku sesuai ketentuan adalah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) rate yang di tingkat 6 persen," katanya.

Anggoro menjelaskan, bank dengan likuiditas sekarang dan ke depannya yang cukup solid akan memiliki ruang lebih untuk menurunkan suku bunga. Sebaliknya, bank dengan likuiditas pas-pasan saat ini dan ke depannya memiliki peluang terbatas untuk menurunkan suku bunga. Sebab, mereka harus berebut dana murah di tengah sengitnya persaingan. 

Anggoro mengakui, BNI akan segera meninjau ulang posisi suku bunga sesuai pedoman dari posisi suku bunga BI yang bergerak turun. "Keputusan lebih lanjut akan kami tetapkan melalui rapat assets and liabilities committee (ALCO) level direksi," tuturnya. 

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga masih mempertimbangkan penyesuaian suku bunga kredit ke depan. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja masih akan memantau kondisi pendanaan.

Berbeda dengan deposito, Jahja menjelaskan, penurunan tidak bisa langsung dilakukan pada bunga kredit. "Masalahnya, kredit tidak seperti deposito. Kalau deposito turun 25 bps, itu merata semua. Kalau kredit, banyak faktor pertimbangan," tutur Jahja.

Jahja mengungkapkan, sepanjang 2019, BCA telah menurunkan bunga kredit di kisaran 0,25 hingga 100 bps. Menurut dia, BCA masih memerlukan waktu untuk melakukan penyesuaian bunga kredit.

Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai penurunan suku bunga akan sulit ditransmisikan ke perbankan pada tahun ini. Sebab, kondisi likuiditas di pasaran masih ketat. 

Piter menyampaikan, kondisi tersebut sudah terjadi pada tahun lalu. Dia mengatakan, BI sudah menurunkan suku bunga empat kali berturut-turut hingga 100 basis poin (bps). Namun, suku bunga kredit tidak banyak mengikuti. "Secara historis, memang suku bunga kredit cenderung kaku, tidak mau turun. Apalagi, pada tahun ini, kondisi likuiditas masih dirasakan ketat," tuturnya.

Namun, Piter mengatakan, bukan berarti BI maupun otoritas dapat berpangku tangan menantikan perubahan suku bunga perbankan. BI diharapkan tidak hanya menurunkan suku bunga acuan, tetapi juga meningkatkan operasi moneter yang lebih bersifat ekspansif. 

Di sisi lain, Piter menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan kredit, dibutuhkan permintaan kredit konsumsi maupun kredit produktif. Artinya, efektivitas kebijakan moneter longgar dalam bentuk penurunan suku bunga acuan akan sangat bergantung juga kepada kebijakan lain dari otoritas fiskal. 

"Yaitu dalam bentuk insentif fiskal seperti pelonggaran pajak sehingga bisa mendorong konsumsi maupun investasi yang membutuhkan kredit bank," katanya. n 


×