Pembela Islam, salah satu media massa atau pers Islam yang tumbuh sebelum Indonesia merdeka. | dok wikipedia

Dunia Islam

Pers Islam Indonesia Sejak Era Kolonial

Sebelum Indonesia merdeka, telah tumbuh sejumlah media massa atau entitas pers yang mengusung semangat Islam.

Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Karena itu, wajarlah bila pers Islam hidup dan berkembang di negeri ini. Bahkan, media-media massa yang memihak kaum Muslimin telah lahir lebih dahulu daripada republik ini.

Secara historis, pers Islam di Indonesia telah melewati perjalanan panjang. Tak sekadar sebagai penyampai kabar, pers Islam juga berperan sebagai sarana dakwah agama. Penyebaran ajaran Islam di Nusantara sangat dipengaruhi oleh pers Islam.

Pers secara bahasa berasal dari kata press yang berarti 'tekan' atau 'cetak.' Istilah pers mengacu pada media massa, baik cetak, seperti surat kabar, tabloid, dan majalah, maupun media elektronik, seperti radio, televisi, dan internet. Dalam Ensiklopedi Indonesia, pers mengandung pengertian perusahaan penerbitan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan.

Dari pengertian tersebut, pers Islam diartikan sebagai percetakan atau media massa yang menggunakan prinsip Islam dalam pengelolaan redaksional. Dalam proses penulisan, biasanya pers Islam menggunakan konsep jurnalistik bernapaskan nilai Islam.

Lebih jelasnya, pers Islam berbeda dengan pers pada umumnya. Dakwah menjadi karakteristik pers Islam. Selain menaati kode etik jurnalistik, pers Islam juga menaati ajaran Islam, seperti menghindari pornografi, memublikasikan data dan fakta secara jujur, dan lain sebagainya yang menjadi nilai-nilai Islam.

 
Dakwah menjadi karakteristik pers Islam.

Sekilas sejarah

Kemunculan pers Islam di Indonesia tidak berjangka waktu lama dari lahirnya media massa umum. Sejak abad ke-18 M, masyarakat Tanah Air telah mengenal pers dari sejumlah surat kabar yang diterbitkan Belanda. Di antaranya adalah, Kort Beiricht Eropa, Bataviase Nouvelles, Vendu Nieuws, dan Bataviasche Koloniale Courant.

Namun, rakyat Indonesia (pribumi) baru terlibat langsung dalam geliat penerbitan media massa pada pertengahan abad ke-19 M. Pada waktu itu, surat kabar ataupun majalah, baik dalam bahasa Melayu maupun Jawa terbitan pribumi, mulai bermunculan. Beberapa di antaranya adalah surat kabar pekanan Bromartani yang terbit pada 1855 di Surakarta serta Djawi Kanda pada 1891.

Kemudian, pada 1910 organisasi Boedi Oetomo pun memiliki surat kabar bertajuk Darmokondo di Surakarta. Serikat Indonesia juga menerbitkan Sarotomo di Yogyakarta. Terbit pula Oetoesan Hindia, Halilintar dan Nyala, Guntur Bergerak, Hindia Bergerak, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Suara Rakyat Indonesia, Sinar Merdeka, dan Sinar Indonesia.

Dalam perkembangannya kemudian, media massa umum terus bermunculan hingga era pendudukan Jepang. Pada masa itu, tampak bahwa penerbitan dikontrol oleh pemerintah Nippon dengan tujuan menggalang perhatian pada upaya memenangkan Negeri Matahari Terbit di kancah Perang Dunia II. Maka, muncul beberapa media, semisal Djawa Shimbun, Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.

Kemudian, pada awal abad ke-20 dimulailah era media massa Islam. Surat kabar di Sumatra memelopori era tersebut. Alam Minangkabau terbit pertama kali pada 9 Januari 1904. Ia menjadi surat kabar Islam pertama dengan menggunakan bahasa Melayu dan huruf Arab Jawi. Sayangnya, distribusi surat kabar ini terbatas pada Muslimin di Minangkabau, Mandailing, dan Angkola.

Kemudian, pada 1911 muncul Al-Munir di Padang. Dua surat kabar inilah yang menjadi pelopor sekaligus cikal bakal munculnya media massa Islam di Indonesia yang begitu banyak jumlahnya pada masa penjajahan. Di antaranya, Soera Muhammadijah pada 1912 yang diterbitkan organisasi Muhammadiyah serta Fadjar Asia pada 1920 diterbitkan oleh Serikat Islam.

photo
Majalah Suara Muhammadiyah - (DOK smamuhpleret)

Imas Emalia dalam Suara-suara Pembaharuan Islam, sebuah buku yang merupakan hasil penelitian Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama, mengatakan, Al-Munir dan Alam Minangkabau selalu menganjurkan pemikiran Islam melalui penolakan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Alquran dan hadis.

Sementara, Syahruddin El-Fikri dalam makalah berjudul Media Massa dan Islam yang disampaikan pada Simposium Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA), mengatakan, Al-Munir merupakan media yang menjadi media gerakan kaum muda di Minangkabau. Majalah tersebut dikelola oleh para ulama Minangkabau yang dipimpin Abdullah Ahmad, murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Sejumlah tokoh dan ulama Minangkabau pun menjadi pengelola majalah tersebut.

Di antara mereka adalah Haji Marah Muhammad bin Abdul Hamid, Haji Abdul Karim Amrullah Danau, Haji Sultan Jalaluddin Abu Bakar, Sutan Lembak Tuah, Haji Muhammad Thaib Umar Batusangkar, serta Sutan Muhammad Salim yang merupakan ayah Haji Agus Salim. Majalah ini sangat dipengaruhi oleh majalah Al-Imam yang terbit di Singapura serta majalah Al-Manar di Mesir.

photo
Majalah al-Manar tahun 1899. Media massa itu dirintis tokoh modernis Muslim, Rasyid Ridha. - (DOK WIKIPEDIA)

Pendaftaran Capres-Cawapres Dimajukan

KPU juga hendak memperpendek durasi pendaftaran menjadi hanya tujuh hari.

SELENGKAPNYA

Apa Bahasa Penduduk Surga?

Ada beragam pendapat mengenai bahasa yang dipakai penduduk surga.

SELENGKAPNYA

Tiga Ahli Amal Terjerumus Neraka

Ketiga orang ini rajin beramal selama di dunia, tetapi tidak dilandasi niat karena Allah.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya