Ilustrasi Ibu Menyusui | dok. Freepik

Gaya Hidup

Jalan Berliku Ibu Bekerja yang Menyusui

Sekitar 45 persen ibu menyusui yang kembali bekerja memilih berhenti memberikan ASI kepada bayi mereka.

Ibu menyusui yang memutuskan kembali bekerja setelah cuti melahirkan perlu didukung melanjutkan pemberian ASI kepada bayi mereka. Setidaknya sampai dua tahun. Namun, terkadang di tempat bekerja, si ibu menghadapi kendala sehingga tak jarang harus melakukan perah ASI (pumping) di toilet.

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr dr Naomi Esthernita SpA(K) mengatakan sangat tidak dianjurkan melakukan kegiatan yang seharusnya steril, seperti memompa ASI, di toilet. Terdapat panduan tentang idealnya ruang laktasi di tempat bekerja.

“Harusnya ada wastafel, sabun, tisu, penerangan yang cukup, berusahalah mendekati itu, seideal mungkin walaupun disesuaikan kondisi masing-masing, yang penting bersih tidak harus mewah,” kata dr Naomi dalam seminar Zoom bertema “Persiapan Menyusui Bagi Orang Tua yang Bekerja”, Senin (7/8/2023).

photo
Ibu-ibu dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Bantul menggunakan payung putih berkampanye tentang pentingnya tahapan menyusui di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Ahad (7/8/2022). Mereka berkampanye dengan berjalan berpayung putih yang digambar, seperti payudara dalan rangka pekan menyusui dunia. Selain itu, juga berbincang kepada pengunjung Malioboro yang membawa balita tentang pentingnya ASI serta dukungan kepada ibu menyusui. - (Republika/Wihdan Hidayat)

Naomi menjelaskan, perihal ruang laktasi yang ideal berdasar panduan UNICEF, syaratnya antara lain harus bersih, nyaman, aman, dan privat. Ruangannya layak dan mudah dijangkau ibu menyusui.

Ruang laktasi dianjurkan menyediakan kursi yang nyaman, ada setop kontak untuk perangkat pumping, meja, lampu penerangan yang baik. Selain itu, ada refrigerator untuk menyimpan ASI sekaligus tempat sampah, wastafel, dan pintunya harus bisa dikunci.

Kemudian ruang laktasi juga dianjurkan memiliki furnitur dan ventilasi yang cukup. Menurut dia, banyak laporan pekerja wanita harus memerah ASI di toilet dan itu sebenarnya tidak manusiawi karena harus bekerja di tempat tidak layak.

photo
Anggota Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) berfoto bersama saat berlangsung hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (7/8/2022). Kegiatan tersebut dalam rangka peringatan pekan menyusui sedunia atau “World Breastfeeding Week” yang dirayakan setiap 1-7 Agustus sebagai bentuk apresiasi dan dukungan untuk ibu menyusui di seluruh dunia. - (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/nym.)

Dia melanjutkan, untuk memerah ASI, bisa dilakukan kira-kira 30 menit atau setengah jam untuk pompa double. Jika satu-satu, bisa dilakukan sekitar lima sampai 10 menit bergantian payudara kanan dan kiri.

Ibu yang kembali bekerja harus menyiapkan perlengkapan yang sangat berhubungan dengan kegiatan perah ASI. Dianjurkan pula agar ibu menyiapkan stok ASI di kulkas tidak terlalu lama sebelum kembali bekerja. “Misalnya dua minggu sebelum kerja, nabung jadi jangan terlalu lama. Di kantor juga disiplin setiap tiga jam misalnya,” ujar dia.

Jika ibu selalu menunda memerah ASI di tempat bekerja, risikonya bisa mengurangi stok ASIP (ASI perah) dari yang seharusnya membawa tiga botol. Misalnya, menjadi satu botol saja. Sebaiknya ibu juga menyiapkan cool box atau tas khusus untuk menyimpan ASIP.

Naomi juga tidak menyarankan ibu mudah tergiur oleh donor ASI yang kian marak di media sosial. Sebab, menurut dia, hal itu juga belum jelas asal-usul dan pemeriksaan keamanannya.

Keberhasilan menyusui, Naomi menegaskan, merupakan kerja sama tim, bukan hanya tugas ibu. Sang ibu perlu didukung, baik dari pihak keluarga, pekerjaan, sektor kesehatan, maupun komunitas.  

Dilema Sufor

Sebanyak 45 persen ibu menyusui yang kembali bekerja memilih berhenti memberikan ASI kepada bayi mereka. Alasannya beragam, baik mulai dari faktor diri sendiri, kurangnya dukungan keluarga hingga lingkungan pekerjaan.

Tetapi, masih ada juga anggapan terkait anak yang diberi susu formula (sufor) bisa lebih gemuk. Sehingga ibu bekerja memilih sufor karena takut anaknya kekurangan gizi.

Terlebih, ada saja tenaga kesehatan yang memang mudah memberikan sufor bahkan menyebut kalau itu tidak ‘haram’. Naomi menegaskan, tentu saja sufor tidak haram, tetapi kebaikan dari ASI yang hendak dikampanyekan adalah bukan perihal nutrisinya saja.

“Memang tidak haram tapi kalau kita bandingkan lagi sufor sama ASI kan bukan cuma nutrisinya, mungkin anak lebih gemuk tapi dalam ASI ada zat antiinfeksi, ada hormon pertumbuhan. Nah, itu tidak ada di sufor,” katanya. 

Tampilan gemuk juga bukan penanda anak lebih sehat. Karena biasanya, menurut  Naomi, bagi bayi yang diberikan ASI, memiliki hormon yang dapat mengatur rasa kenyang.

Sehingga bayi dengan ASI bisa mengetahui bahwa asupannya sudah cukup. Maka dia akan berhenti menyusu. Sedangkan, bayi yang disusui lewat botol akan menghabiskan sampai selesai. “Ada riset yang menyebutkan bahwa memang kalau diberikan botol dihabiskan, kalau ASI langsung tahu kapan harus berhenti, ada hormon yang mengatur kenyang dan lapar si bayi dan gizi ASI tetap nomor satu,” ujar Naomi.

Ia menambahkan bahwa pemberian ASI juga dapat mencegah kondisi obesitas anak maupun underweight. Dia menekankan selama pertumbuhan anak sesuai kurva normal atau ideal, ibu tidak perlu khawatir karena gemuk bukan satu-satunya tolok ukur perkembangan anak. Selain itu, ada pula riset tentang IQ anak dengan ASI yang lebih baik.

Naomi juga menekankan pemberian ASI memang masih banyak menghadapi tantangan, baik bagi ibu bekerja maupun yang tidak bekerja. Diperlukan dari berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga, lingkungan kerja, yang sering kali menjatuhkan mental si ibu.

Menurut Naomi, sampai saat ini banyak yang beranggapan kalau hari pertama dan kedua ASI belum keluar banyak, merasa takut, langsung dikasih sufor. Saat ini, Satgas ASI telah membuat modul untuk melatih spesialis menghadapi masalah menyusui, terutama pada dua pekan pertama kelahiran anak. 

 

 
Pemberian ASI memang masih banyak menghadapi tantangan. 
 
DR NAOMI ESTHERNITA SPA(K), Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia. 
 
 

 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat