Islam Digest
Kesalehan Negarawan
Kesalehan itu berasal dari agama, bukan aturan negara.
Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi
Pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations
Ketika para agamawan memiliki kesalehan yang tinggi, jabatan politik diberikan kepada mereka. Tapi ketika kesalehan itu telah tiada, agama menjadi alat politik untuk menindas. Masyarakat pun marah dan jabatan politik diharamkan untuk agamawan. Itulah sejarah singkat sekularisasi politik di Eropa. Max Weber kemudian menyimpulkan desacralization of politic adalah salah satu ciri sekularisme.
Sejarah negeri ini tidak demikian. Negeri ini berdiri dan dibangun oleh para agamawan dan politisi yang saleh dan visioner. Maka tidak aneh jika founding fathers meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu elemen worldview bangsa. Mestinya, jika seseorang itu percaya kepada Tuhan, moralitasnya bersumber dari ajaran Tuhan, demikian kata Thomas Wall, penulis buku Worldview.
Maka di negeri ini agama dilindungi oleh negara secara konstitusional. Secara individual kenegarawanan dibalut dengan nilai-nilai agama. Tidak ada indikasi sekuler ataupun sekularitas di sini. “Berpolitik di negeri ini adalah perjuangan,” kata Kasman Singodimedjo. Hatta mengembalikan uang kesehatan pribadinya karena negara sedang memerlukan. M Natsir adalah menteri yang hidup sederhana. Dia ke kantor memakai jas bertambal. Tidak ada bau-bau korupsi.
Itulah contoh bahwa politisi yang berketuhanan adalah negarawan yang saleh. Kesalehan itu berasal dari agama, bukan aturan negara. Maka bernegara dengan semangat nasionalisme tidak cukup kuat kecuali dilengkapi moral agama. Keduanya tidak bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan. KH Hasyim Asy’ari menyatakan, “Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan, nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan”.
Pernyataan bahwa “nasionalisme adalah bagian dari agama” menunjukkan keluasan ilmu agama Hadratusyaikh. Agama, khususnya Islam, dipahami lebih luas dari politik, nasionalisme dan hidup bernegara. Muslim sejati akan berpolitik dan bernegara dengan saleh. Sebaliknya, membuang agama keluar dari negara, meletakkan Alquran di bawah konstitusi hanya menunjukkan sempitnya pemahaman tentang apa itu din. Ulama sekaliber KH Hasyim Asy’ari tidak memandang keduanya berseberangan secara diametris. Banyak hal yang tidak diatur negara justru diajarkan oleh agama.
Buktinya, negara mengatur kehidupan rakyatnya, tapi tidak mengatur jalan hidup mereka. Negara memikirkan rumah rakyatnya, tapi tidak mengatur rumah tangga mereka. Negara mengurusi keamanan rakyatnya, tapi tidak menjamin ketenangan batin mereka. Negara mengatur kesejahteraan rakyatnya, tapi tidak mengatur kebahagiaan mereka. Negara membuat Undang-Undang anti-Korupsi, tapi tidak memiliki ajaran kesalehan, kejujuran, amanah, dan keikhlasan agar tidak terhindar dari korupsi.
Membuang, merendahkan, dan mengesampingkan agama, bahkan mempertentangkan agama dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah ahistoris dan salah haluan. Dalam bahasa AH Nasution itu adalah pikiran komunis.
Tidak ada salahnya memperkuat negara dengan agama. Di Korea, gerakan yang disebut "Donghak" yang dipimpin oleh Choe Je-u terinspirasi oleh pemikiran keagamaan misionaris Katolik. Kelahiran Pakistan dipicu oleh kesadaran keagamaan umat Islam yang tinggi.
Kita serasa malu ketika Ronald Reagan menyatakan, kebebasan akan tumbuh ketika agama hidup dan hukum aturan Tuhan diakui (Freedom prospers when religion is vibrant and the rule of law under God is acknowledged). Meski ini obsesi pribadinya, setidaknya pandangan religius ini pernah terbesik dari pikiran seorang Presiden.
Sebab, ketika agama dan negara diceraikan maka kesalehan dan moralitas politisi serta negarawan akan dengan mudah menghilang. Harry S Truman, presiden Amerika Serikat mengingatkan, “If we don’t have a proper fundamental moral background, we will finally end up with a totalitarian government which does not believe in rights for anybody except the State.”
Sejalan dengan Truman, Syauqi Bey, sastrawan Mesir kontemporer, menulis bait-bait syair yang jadi hafalan para santri. Innamal umamul akhlaqu ma baqiyat wa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu (Hidup dan bangunnya suatu bangsa bergantung pada akhlaknya, jika akhlak itu menghilang, bangsa itu hilang bersamaannya). Maka kita yakin bahwa negara ini akan maju jika dipimpin oleh negarawan yang tinggi akhlaknya dan saleh amalnya. Wallahu-l-musta’an. n
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
