Pencari kerja saat mencari informasi lowongan kerja di Bogor Career Center, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/12/2019). Bogor Career Center didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengikis kemiskinan melalui upaya mengurangi peng | Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Geni

Jempol, Medsos, dan Karier yang Terhambat

Medsos checking saat ini, memang kerap menjadi salah satu tahapan seleksi untuk rekrutmen pekerjaan.

Belakangan beberapa konten yang melibatkan remaja menuai kontroversi. Mulai dari yang mengolok kampus, tempat kuliah kerja nyata (KKN) hingga unggahan menenggak minuman keras (miras) bersama. Fenomena demikian turut dilihat dari sisi perekrut perusahaan human resources (HR).

“Gen-Z model begini udah kutandain karena aku bagian recruitment, ga akan kuizinin masuk di kantorku. Kalau ada teman HR yang nanyain soal medsos checking, akan kusodorin thread ini. Oh ya, tentu kuscreenshot dulu dong, misal diapus. Alasannya? Here I tell you,” tulis seorang warganet Twitter, dikutip Rabu (28/6/2023).

Pemeriksaan media sosial atau medsos checking kerap menjadi salah satu tahapan rekrutmen di sejumlah perusahaan baik BUMN ataupun swasta. Sebab perilaku seseorang dan jejak digital dapat terlihat dari media sosial mereka.

Sosmed checking juga juga bertujuan agar HRD mendapatkan informasi lebih mengenai kandidat pelamar kerja. Lalu, seberapa signifikan jejak digital saat kita mencari kerja?

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by LinkedIn Indonesia (@linkedinid)

Menurut Vina Muliana, seorang konten kreator yang kerap berbagi tip dunia kerja dan profesional, jejak digital memang sering kali dijadikan catatan. Sebenarnya untuk jejak digital ini seringnya dijadikan poin perhatian. “Poin utama yang dinilai paling signifikan balik lagi ke kompetensi si pelamar,” kata Vina kepada Republika.

Namun, Vina melanjutkan, konten media sosial juga akan jadi sangat berpengaruh apabila jejak digitalnya sangat destruktif. Misalnya, dijadikan provokasi kegiatan negatif atau postingan yang berbau SARA.

Vina juga berbagi tip agar konten media sosial kita tidak menjadi bumerang buat diri sendiri.

 

photo
Budayakan bijak bermedsos. - (Dok Antara/Ekho Ardiyanto)

1. Berpikir sebelum posting

Pertama, jika ingin mengunggah sesuatu di media sosial, harus berpikir jangka panjang. Karena jejak digital itu sulit untuk dihilangkan.

2. Akun privat

Jika memang dirasa belum bisa filter konten yang diunggah, akan lebih baik media sosialnya diprivat saja.

3. Segera mitigasi

Kalau tiba-riba telanjur membuat konten yang kontroversial, harus langsung mitigasi dengan minta maaf dan janji tidak akan mengulangi hal yang sama.

Agar Karier tak Terhambat 

photo
Penyandang disabilitas memindai kode batang untuk melihat platform Rumah Digital Untuk Disabilitas di Jakarta, Jumat (4/11/2022). Rumah Digital merupakan platform wadah penyandang disabilitas di seluruh Indonesia untuk berkarya dan mendapatkan akses informasi, seperti forum digital, agenda acara, pelatihan kerja dan UMKM, hingga lowongan pekerjaan. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Belakangan muncul konten remaja yang menuai kontroversi dan dicap sebagai ‘nakal’. Sebut saja konten mencerca kampus, tempat kuliah kerja nyata (KKN), hingga unggahan remaja berhijab meminum minuman keras (miras).

Warganet menganggap konten Gen Z tersebut seolah bangga menunjukkan kenakalan. Padahal, konten media sosial juga bisa menjadi bumerang ke depannya, seperti halnya menghambat saat mencari pekerjaan.

Pemeriksaan media sosial atau medsos checking saat ini memang kerap menjadi salah satu tahapan seleksi untuk rekrutmen pekerjaan. Sosmed checking juga juga bertujuan agar HRD mendapatkan informasi lebih mengenai kandidat pelamar kerja.

Lidya Angela, HR recruitment lead dari PT Gaweku Human Technology, berbagi tip agar pencari kerja lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Salah satu poin yang harus diperhatikan juga tentang konten media sosial, sebagai berikut.

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by LinkedIn Indonesia (@linkedinid)

1. Persiapkan CV yang menarik dan relevan dengan posisi yang dilamar.

2. Persiapkan wawancara dengan mencari informasi terkait dengan posisi pekerjaan, tugas, dan keterampilan yang dibutuhkan, serta perusahaan terkait.

3. Manfaatkan sosial media untuk mencari iklan lowongan kerja dan kirimkan lamaran di berbagai portal.

4. Update profile di LinkedIn dan akun di job portal agar Anda dilirik oleh recruiter.

5. Tingkatkan keahlian dan keterampilan Anda dengan mengikuti berbagai pelatihan sambil menunggu panggilan kerja.

6. Perhatikan konten dan interaksi Anda di akun media sosial karena hal tersebut merupakan salah satu bahan pertimbangan bagi recruiter yang sedang melakukan background checking, apakah kalian profesional atau tidak dalam menggunakan media sosial.

 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat