ILUSTRASI Peradaban Islam turut mengembangkan dunia musik melalui kontribusi sejumlah ilmuwan Muslim. | DOK WIKIPEDIA

Dunia Islam

Kontribusi Peradaban Islam untuk Seni Musik

Melalui Dewan Hisbah, pemerintah mengontrol klub-klub musik agar terhindar dari perkara maksiat.

Perluasan wilayah berdampak besar bagi peradaban Islam. Khususnya sejak era Khulafaur rasyidin, terjadilah dialektika antarperadaban yang memicu transformasi sains dan budaya, termasuk musik.

Abdurrahman al-Baghdadi dalam buku Seni Dalam Pandangan Islam menjelaskan, para khalifah--Umayyah dan Abbasiyah--umumnya tidak pernah melarang rakyatnya mempelajari seni suara dan musik. Mereka dibiarkan mendirikan sekolah-sekolah musik dan membangun industri (rumahan) alat-alat musik.

Mereka diberikan gairah untuk mengarang buku-buku tentang seni suara, musik, dan tari. Negara juga tidak pernah mengambil tindakan hukum terhadap biduan atau biduanita yang bernyanyi di rumah-rumah individu.

Bahkan, mereka diberi izin untuk bernyanyi di istana dan di rumah penguasa.
Di bawah Kekhalifahan Umayyah (661-750), gaya klasik musik Islam dikembangkan lebih lanjut.

 
Banyak musisi terkemuka kelahiran Arab. Namun, unsur-unsur non-Arab terus memainkan peran dominan dalam musik Islam.

Banyak musisi terkemuka kelahiran Arab. Namun, unsur-unsur non-Arab terus memainkan peran dominan dalam musik Islam. Musisi terbesar dan pertama dari era Umayyah adalah Ibnu Misjah, yang sering dihormati sebagai Bapak musik Islam. Ia lahir di Makkah dari keluarga Persia.

Ibnu Misjah adalah seorang ahli teori musik dan terampil menyanyi dan bermain kecapi. Ibn Misjah melakukan perjalanan ke Suriah dan Persia untuk belajar teori dan praktik musik Bizantium dan Persia serta menggabungkan banyak pengetahuan yang diperoleh dalam lagu seni Arab.

Meskipun mengadopsi unsur-unsur baru seperti mode musik asing, ia menolak sifat-sifat musik lainnya karena tidak cocok untuk musik Arab. Pengetahuan tentang kontribusi dan informasi penting tentang musik dan kehidupan musik telah ada sejak tiga abad pertama Islam.

Masa Abbasiyah dijuluki era keemasan dalam musik Islam. Musik wajib bagi setiap orang belajar, ditangani dengan beragam aspek-seperti keahlian, teori estetika, tujuan etika, dan terapi, pengalaman mistik, dan spekulasi matematika.

Artis diharuskan memiliki kemampuan teknis, daya kreatif, dan pengetahuan. Di antara seniman terbaik periode ini adalah Ibrahim al-Mawsili. Ia berasal dari keturunan Persia yang mulia. Pekerjaannya, antara lain, kepala musisi di Istana serta dekat dengan khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Ma'mun.

Abdurrahman al-Baghdadi menambahkan, sekolah musik yang paling sempurna dan teratur adalah yang didirkan oleh Said Abdul Mukmin. Sejarah telah mencatat bahwa pusat pabrik pembuatan alat-alat musik yang sangat terkenal ada di Kota Sevilla (Andalusia atau Spanyol).

Pada masa itu, cakrawala umat Islam juga diramaikan oleh biduan dan biduanita yang status umumnya adalah pelayan. Mereka ini bukan penyanyi bayaran yang disewa untuk setiap pertunjukannya. Merekalah yang bernyanyi untuk menghibur khalifah dan para penguasa lainnya di istana dan rumah mereka masing-masing. Setiap pelayan menghibur tuannya sendiri-sendiri.

Hasmy dalam Sejarah Kebudayaan Islam menyebutkan salah satu sebab mengapa selama Dinasti Abbasiyah banyak berdiri sekolah musik adalah karena keahlian menyanyi dan bermusik menjadi salah satu syarat bagi pelayan (budak) pengasuh, dayang-dayang di Istana dan di rumah pejabat negara ata pun di rumah para hartawan untuk mendapatkan pekerjaan.

Di antara pelayan (jawari) atau biduan dan biduanita yang menjadi penyanyi di istana, yaitu Na'bad, al-Kharid, dua bersaudara Hakam dan Umar al-Wady, Fulaih bin Abi 'Auraa', Siyath, Nasyith, Ibrahim Al Muasully, dan putranya, Ishaq al-Mausilly.

photo
ILUSTRASI Lukisan yang menggambarkan para pemain musik berkumpul di taman istana Utsmaniyah abad ke-18. - (DOK WIKIPEDIA)

Inspirasi

Islam turut berkontribusi terhadap konstruksi seni musik dunia. Masih menurut Abdurrahman al-Baghdadi, di antara pengarang teori musik Islam yang terkenal dan menginspirasi Barat adalah Yunus bin Sulaiman Al Khatib (wafat 785 M).

Ia adalah pengarang musik pertama dalam Islam. Kitab-kitab karangannya dalam musik sangat bernilai tinggi sehingga pengarang-pengarang teori musik Eropa banyak yang merujuk ke ahli musik ini.

Ada pula Khalil bin Ahmad (wafat 791 M) yang mengarang buku teori musik mengenai not dan irama. Ishak bin Ibrahim Al Mausully (Wafat 850 M) telah berhasil memperbaiki musik Arab jahiliyah dengan sistem baru. Buku musiknya yang terkenal adalah kitab Alhan wa al-Angham (buku not dan irama). Beliau sangat terkenal dalam musik sehingga mendapat julukan Imam al-Mughanniyin (Raja Penyanyi).

Pada abad ke-10, Al-Aghani (Kitab Lagu-lagu) karya Abu al-Faraj al-Isbahani diterbitkan. Musisi terkenal lainnya, yaitu Ibnu Muhriz yang merupakan keturunan Persia; Ibnu Surayj, anak seorang budak Persia dan memiliki gaya khusus dalam bermain musik dan menyanyi.

Lalu pada abad ke-19 teori Arab modern juga telah menghasilkan risalah yang berharga. Misalnya, teori abad ke-19 Michel Muchaqa dari Damaskus dan Mohammed Chehab ad-Din dari Cairo memperkenalkan divisi teoritis skala ke-24 nada kuartal. Pada 1932, Kongres Internasional Musik Arab diselenggarakan di Kairo menyediakan forum untuk analisis, seperti skala musik, mode, irama, dan bentuk-bentuk musik.

photo
ILUSTRASI Keahlian menyanyi dan bermusik menjadi salah satu syarat bagi pelayan atau dayang-dayang di Istana era Abbasiyah. - (DOK WIkipedia)

Kontrol

Oemar Amin Hoesein dalam Kultur Islam menjelaskan, berkembang kesenian di seluruh negeri Islam tidak menyebabkan berkembanganya seni yang dicampuri oleh maksiat dan hal-hal yang dilarang syariat.

Kalau ada hal-hal tersebut, biasanya pemerintah saat itu akan mengambil tindakan keras. Pelakunya akan ditangkap. Otoritas juga akan menutup tempat-tempat hiburan yang berselubung kemaksiatan.

Tindakan seperti itu dilakukan melalui para hakim Hisbah. Bahkan, khalifah memerintahkan dan membiarkan qadhi (hakim) memusnahkan alat-alat musik apabila negara berpendapat bahwa memainkan alat-alat musik dan bernyanyi dengan diiringi musik adalah haram.

Namun, qadhi dari Dewan Hisbah tidak akan bertindak langsung bila suara musik dan nyanyian tersebut muncul dari rumah-rumah penduduk.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Tikus di Paris dan Nostalgia Ratatouille

Paris dan tikus memiliki sejarah yang panjang.

SELENGKAPNYA

Teladan Khusyuknya Shalat

Tokoh dari generasi tabiin ini tetap bisa shalat dengan khusyuk walau keadaan mencekam.

SELENGKAPNYA

Titik Balik Kehidupan Sang Musisi

Yusuf Islam alias Cat Stevens menemukan hidayah Illahi sesudah membaca terjemahan Alquran.

SELENGKAPNYA