Mayoritas WNI Tinggalkan Cina | Republika

Pro-Kontra

Mayoritas WNI Tinggalkan Cina

WNI di Natuna disebut khawatirkan perkuliahan.

 

BEIJING - Sebagian besar warga negara Indonesia (WNI) disebut sudah meninggalkan Cina terkait merebaknya virus korona baru (2019-nCoV) dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei, di negara tersebut. Kepulangan itu juga menyusul adanya imbauan dari Kedutaan Besar RI di Beijing, pekan lalu. "Sudah. Sebagian besar sudah pada pulang, apalagi libur sekolah diperpanjang," kata Duta Besar RI untuk Cina Djauhari Oratmangun saat dihubungi dari Jakarta, Ahad (9/2).

 

Sebelumnya, KBRI di Beijing mengimbau kepada WNI yang masih berada di beberapa daerah di Cina selain Provinsi Hubei untuk pulang ke Tanah Air agar terhindar dari segala kemungkinan terpapar 2019-nCoV.

 

"Menyikapi merebaknya wabah virus korona di Cina akhir-akhir ini, bagi warga negara Indonesia di seluruh Cina sekiranya tidak ada kepentingan yang mendesak, kami mengimbau untuk kembali ke Indonesia sampai situasi normal kembali," demikian surat keterangan yang ditandatangani Koordinator Fungsi Protokol dan Kekonsuleran KBRI Beijing Ichsan Firdaus tertanggal 29 Januari 2019 itu.

 

Jumlah WNI di seluruh wilayah di Cina sekitar 15.800 orang yang mayoritas berstatus pelajar. Sampai kemarin, diperkirakan 1.500 orang memilih bertahan di negara berpenduduk terbesar di dunia itu.

 

Selain imbauan dari KBRI, kepulangan WNI tersebut juga disebabkan adanya pengumuman dari Kementerian Pendidikan Cina (MoE) mengenai perpanjangan masa libur semester Tahun Baru Imlek hingga batas waktu yang belum ditentukan.

 

Dubes Djauhari juga mengungkapkan bahwa tujuh WNI yang masih berada di Provinsi Hubei sebagai episentrum wabah korona dalam kondisi sehat. "Setiap hari saya video call dengan mereka untuk memantau kondisi kesehatannya. Syukur alhamdulillah, mereka sehat semua," ujar mantan Dubes RI untuk Rusia tersebut.

 

photo

 

Sebanyak empat WNI yang sampai saat ini berada di Hubei itu sejak awal memang tidak ikut bergabung bersama rekan-rekannya yang dievakuasi dengan menggunakan pesawat carter Batik Air pada 1 Februari 2020. Sementara, tiga lainnya batal berangkat karena tidak memenuhi syarat protokol kesehatan setelah tiba-tiba suhu badannya naik.

 

Sayangnya, kenaikan suhu badan ketiga mahasiswa itu hanya berlangsung sementara karena begitu pesawat Batik Air bertolak dari Wuhan menuju Batam berangsur stabil sehingga harus kembali ke asrama kampus masing-masing tanpa mendapatkan perawatan khusus.

 

Semua maskapai penerbangan dari Indonesia tidak beroperasi di jalur penerbangan Indonesia-Cina setelah ada surat imbauan Kementerian Perhubungan RI per 5 Februari 2020 untuk mencegah penularan 2019-nCoV. Meski demikian, beberapa WNI bisa pulang ke Tanah Air setelah tanggal tersebut dengan menggunakan maskapai asing yang masih beroperasi.

 

Sampai saat ini, tidak ada WNI yang masih tinggal di Cina atau yang sudah pulang ke Indonesia terpapar virus tersebut. Situasi di Kota Beijing masih sepi, apalagi setelah tiga hari terakhir diguyur hujan salju. Hanya perkantoran pemerintahan yang sudah beroperasi, meskipun secara terbatas, sedangkan kantor-kantor perusahaan swasta diperkirakan baru akan mulai beroperasi pada Senin (10/2). Pemerintah Kota Beijing mewajibkan warganya mengenakan masker saat keluar dari rumah untuk meminimalkan peluang penularan virus yang pertama kali berjangkit di Wuhan.

 

Mahasiswa di Natuna

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Ditjen P2P Kemenkes) Achmad Yurianto mengatakan, keadaan mahasiswa Indonesia yang dikarantina di Natuna mengkhawatirkan perkuliahannya di Cina. Sebab, proses belajar di perguruan tinggi sudah dimulai, tetapi mereka hanya belajar melalui online karena wabah virus korona.

 

"Jadi, itu yang mereka sering cerita bahwa `saya (mahasiswa) sudah mulai perkuliahan, tapi cuma online.' Jadi, intinya, `kuliah saya (mahasiswa) bisa molor nih,'" ujar Achmad saat dihubungi Republika, Ahad (9/2).

 

Ia mengatakan, Kemenkes masih terus memantau kesehatan para WNI yang dikarantina di pangkalan militer di Pulau Natuna, Kepulauan Riau, sejak Ahad (2/2) lalu selama 14 hari. Namun, para petugas tak bisa begitu saja memeriksa kesehatan tanpa ada gejala-gejala virus korona.

 

Petugas kesehatan melakukan komunikasi dengan mereka, seperti menanyakan keluhan-keluhan selama di karantina. Menurut Achmad, sebagian besar dari mereka merupakan mahasiswa Indonesia yang memang belajar di Negeri Tirai Bambu.

 

Mahasiswa-mahasiswa itu dievakuasi sementara ke Indonesia untuk menghindari virus korona yang sedang mewabah di Wuhan, Cina. Keluhan mengenai terhambatnya perkuliahan itu kemudian dilontarkan para mahasiswa seiring kembali dimulainya proses belajar-mengajar di perguruan tinggi.

 

"Mereka mulai khawatir karena beberapa perguruan tinggi sudah mulai perkuliahan di sana, dan mereka akhirnya cuma bisa online saja. Ya, kuliah secara online dan kemudian di sana pun belum dimulai, jadi perkuliahan dibuka tetapi dengan cara online," kata Achmad.

 

Di antara para mahasiswa yang dika rantina di Natuna, sekitar 10 orang merupakan mahasiswa kedokteran. Ketika waktu senggang pada siang atau malam hari, mereka berkumpul untuk berdiskusi dan belajar bersama.

 

Achmad mengeklaim kesehatan WNI di dalam karantina itu baik-baik saja. Selain pemeriksaan kesehatan rutin, mereka juga melakukan kegiatan sehari-hari, seperti olahraga pagi, bahkan mereka mengadakan pertandingan futsal di antara para WNI di karantina itu.

 

"Ya, sampai hari ini baik, enggak ada masalah. Rutin pagi olahraga, setelah itu makan, pemeriksaan kesehatan. Cuma kayaknya olahraganya agak panjang karena sedang semifinal futsal di antara mereka. Iya, mau mereka sendiri, mereka bikin lomba pertandingan futsal. Kita kasih alat saja dan sebagainya," kata Achmad.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat