Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Nusantara

Kekerasan di Demo UU Ciptaker Dikecam

Kepolisian didesak segera membebaskan mahasiswa.

JAKARTA -- Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid memprotes keras penangkapan dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat kepolisian terhadap ratusan mahasiswa yang berunjuk rasa menolak Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di Bandar Lampung. 

Dalam setiap penggunaan kekuatan, aparat keamanan wajib berpegang teguh pada prinsip-prinsip umum yang diakui secara internasional yang dituangkan dalam Code of Conduct Law Enforcement (CCLEO) dan UN Basic Principle on the Use of Force and Firearms by Law Enforcement Officials (BPUFF). 

Secara domestik, terdapat ketentuan yang mengadopsi prinsip-prinsip penggunaan kekuatan yang diakui secara internasional, seperti Perkap Nomor 1/2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian dan Perkap Nomor 8/2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian. 

"Penanganan protes mahasiswa yang menolak UU Cipta Kerja di Lampung kembali menunjukkan kesewenang-wenangan polisi dalam menghadapi unjuk rasa," kata Usman kepada wartawan, Jumat (31/3). 

Usman menyinggung penggunaan kekerasan, gas air mata, dan water cannon kali ini mengulang kekerasan polisi yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Misalnya kekerasan selama unjuk rasa terhadap UU Cipta Kerja pada Oktober 2020 lalu dan penggunaan gas air mata saat tragedi Kanjuruhan pada 2022. 

"Ini sekaligus menjadi sinyal bahwa perbaikan di tubuh Polri tidak kunjung muncul, antara lain karena tidak tuntasnya pengusutan berbagai kasus kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai," ujar Usman. 

Usman mengingatkan, polisi seharusnya memberi ruang bagi aksi penyampaian pendapat secara damai. Ia menegaskan, masyarakat berhak mengungkapkan kekecewaan mereka secara damai. 

Selain itu, Usman mendesak kepolisian di Bandar Lampung untuk segera membebaskan semua mahasiswa yang ditangkap secara sewenang-wenang dari demo itu. Ia juga meminta Kapolri menindak tegas pejabat kepolisian yang lalai mematuhi peraturan dalam mengendalikan massa dan menghadapi penyampaian pendapat di muka umum.  

photo
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bengkulu saling dorong dengan anggota polisi saat unjuk rasa penolakan Undang-Undang Cipta Kerja di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bengkulu di Kota Bengkulu, Kamis (30/3/2023). - (Antara/Muhammad Izfaldi )

"Kami mendesak Presiden Jokowi untuk mengevaluasi kinerja kepolisian dalam menangani aksi unjuk rasa damai. Represi terhadap unjuk rasa damai tidak boleh berulang terus-menerus," ucap Usman. 

Berdasarkan informasi yang diterima Amnesty International Indonesia, gabungan elemen mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Lampung Memanggil menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Lampung di Bandar Lampung Kamis (30/3) untuk menuntut pencabutan Undang-undang Cipta Kerja. Para peserta aksi bergantian melakukan orasi politik.

Sekitar pukul 15.30 WIB, massa aksi dipukul mundur aparat keamanan dengan menggunakan water canon dan tembakan gas air mata yang mengakibatkan kericuhan. Sedangkan, kepada media, polisi mengeklaim tembakan water canon itu sesuai prosedur karena adanya tindakan yang tergolong anarkistis saat aksi protes.  

Dalam rekaman video yang diperoleh Amnesty International Indonesia, selain menembakkan water canon dan melakukan penangkapan, polisi juga tampak menembakkan gas air mata ke arah para mahasiswa peserta aksi saat sedang berjalan dengan relatif tenang di suatu jalan, yang membuat mereka berlarian dan menambah kericuhan. 

Kekerasan Kepolisian - (Republika)  ​

Pada saat yang bersamaan, 48 orang, yang terdiri dari 45 mahasiswa dan 3 pedagang, digiring ke Polres Bandar Lampung dan hingga Jumat siang (31/3) masih belum dibebaskan. 

Jalannya aksi

Setelah setahun lebih, mahasiswa berunjuk rasa lagi menolak UU Ciptaker di DPRD Lampung, Kamis (30/3). Aksi pada bulan Ramadhan ini menimbulkan kericuhan antara polisi dan mahasiswa. Puluhan mahasiswa pun diamankan polisi.

Aksi bernama Aliansi Lampung Memanggil semakin panas tatkala mahasiswa bertekad untuk menemui perwakilan anggota DPRD Lampung yang sebelumnya pernah membuat pernyataan tertulis menolak UU Ciptaker setahun lalu. Pertemuan tersebut tidak menemukan titik temu hingga terjadi kericuhan.

photo
Mahasiswa berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Selasa (28/2/2023). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Saat kericuhan itu hujan turun lebat, polisi mendesak para mahasiswa mundur dari depan pintu gerbang DPRD Lampung. Namun, terjadi aksi perlawanan mahasiswa terhadap petugas yang telah memasang kawat berduri di pintu gerbang gedung wakil rakyat tersebut.

Terhitung puluhan mahasiswa diciduk polisi dan dibawa ke Polresta Bandar Lampung untuk dimintai pertanggungjawaban. Sampai Kamis petang, nama dan asal perguruan tinggi mahasiswa yang diamankan polisi tersebut belum bisa dikonfirmasi.

“Saat ini (terhadap para mahasiswa yang diamankan, Red) belum bisa menentukan statusnya karena pemeriksaan masih berlangsung,” kata Kapolresta Bandar Lampung Kombes Pol Ino Harianto kepada pers, Kamis (30/3) petang.

Menurut dia, petugas sudah melakukan pengamanan agar aksi berlangsung tertib, lancar, dan aman. Kericuhan terjadi, saat mahasiswa mendesak ingin masuk halaman gedung DPRD Lampung. Namun, petugas sudah memasang kawat berduri agar kondisi keamanan tetap kondusif.

photo
Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas bersama aktivis berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Selasa (28/2/2023). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Petugas menembakkan gas air mata ke arah para pendemo, karena aksi mahasiswa dinilai dapat merangsek masuk halaman gedung. Mahasiswa tetap tidak diizinkan masuk area DPRD Lampung, dan kesepakatan pendemo dengan petugas juga DPRD tidak membuahkan hasil.

Mahasiswa berusaha menyingkirkan kawat berduri agar bisa masuk halaman DPRD. Setelah gas air mata ditembakkan ke arah pendemo, mahasiswa terlihat kocar-kacir, dan berusaha untuk bertahan dengan melemparkan benda keras ke arah petugas.

Hujan deras di area unjuk rasa membuat aparat keamanan yang telah membentuk barikade bergerak maju mendesak mundur pendemo. Sebagian pendemo yang dinilai sebagai penggerak aksi dibawa polisi ke mobil untuk diperiksa di Polresta Bandar Lampung.

“Sekitar 40 lebih mahasiswa yang ditangkap petugas. Kami belum tahu persis,” kata Irwan, mahasiswa perwakilan Aliansi Lampung Memanggil. Para mahasiswa saat ini sedang berkonsolidasi untuk melepaskan sebagian rekan mereka yang dibawa polisi tersebut agar bisa dipulangkan. 

Israel Serang Stadion, Mana Sanksinya FIFA?

Pasukan Israel menembakkan gas air mata ke tengah pertandingan final Piala Liga Palestina.

SELENGKAPNYA

Sabar, Puasa, dan Takwa

Puasa di bulan Ramadhan juga melatih diri untuk sabar melakukan ketaatan.

SELENGKAPNYA

Menjadikan Ekspor Sebagai Penyangga Ekonomi

Indonesia harus menggencarkan diversifikasi produk ekspor.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya