Asma Nadia | Republika

Resonansi

Debt Collector dan Tanggung Jawab Pemberi Jasa

Supaya mereka tidak terkesan menutup mata atas kelakuan debt collector.

Oleh ASMA NADIA

Mendengar kasus debt collector yang berani menekan polisi, seorang rekan penulis menceritakan pengalamannya beberapa tahun lalu ketika ia panik karena terlambat satu hari membayar cicilan mobil.

Segera ia ke ATM melakukan pembayaran, ternyata akun yang dituju seolah tidak menerima uang masuk. Seperti error. Mengingat saat itu Jumat sore, sang penulis berniat segera mendatangi lembaga pembiayaan untuk melunasi satu cicilan terakhir.

Sabtunya, rumah sang penulis disatroni seorang yang tak dikenal dengan perawakan seperti preman. Ia membawa surat dan mengatakan akan menyita mobil rekan saya. Kebetulan kendaraan yang disengketakan sedang tak di rumah, jadi sang tamu tak bisa berbuat banyak.

 
Sabtunya, rumah sang penulis disatroni seorang yang tak dikenal dengan perawakan seperti preman.
 
 

Sebelum pergi ia menyuruh si penulis datang ke lembaga pembiayaan untuk menyelesaikan kewajiban. Lelaki itu juga mengingatkan, ada biaya penarikan sekitar Rp 4 juta yang harus dibayar karena sudah melibatkan pihak ketiga, yaitu pihak penagih.

Seninnya, pagi-pagi sang penulis sudah datang ke kantor lembaga pembiayaan yang terlihat sangat megah. Maklum, ini bukan lembaga kaleng-kaleng, melainkan milik bank terkenal.

Awalnya, teman saya tidak punya pikiran perusahaan yang merupakan perpanjangan tangan bank ternama akan bermain kotor. Tiba di lokasi, sang penulis diminta langsung naik ke lantai empat, khusus bagian penagihan.

Namun, alih-alih menuju lantai 4, teman saya ini justru memilih ke lantai 3 untuk mengantre di bagian customer service di sana. Anehnya saat menuju lantai 3, satu dua debt collector melarang. “Bapak langsung lantai empat saja jangan ke lantai tiga.”

Pengamatan cermat ini terasa mencengangkan. Debt collector yang tidak pernah ditemui bisa mengenali wajah customer-nya. Padahal, saat itu belum ada Instagram, baru Facebook dan itu pun belum terlalu populer.

 
Rekan saya menjelaskan kesimpulannya tentang teknik teror pertama: saya tahu kamu, tetapi kamu tidak mengetahui saya.
 
 

Dia langsung menyimpulkan fotonya sudah tersebar luas di antara debt collector sehingga dengan cepat dikenali. Saat menceritakan hal ini, rekan saya menjelaskan kesimpulannya tentang teknik teror pertama: saya tahu kamu, tetapi kamu tidak mengetahui saya.

Karuan saja teman saya menolak, dan berkeras ingin ke customer service. Walau begitu debt collector terus mencoba melarang, “Percuma ke lantai tiga nanti juga urusannya diselesaikan di lantai empat!”

Namun, teman saya mengambil sikap tak peduli. Ia tetap bertahan mengantre di lantai tiga dan akhirnya bertemu customer service perempuan.

Di depan staf CS, ia menceritakan keterlambatan yang baru satu hari, tetapi ketika mencoba menyusulkan pembayaran tidak bisa-bisa. Dia menyesalkan debt collector yang tiba-tiba saja datang dan menyatakan ingin mengambil mobil.

Rekan saya menolak membayar uang penarikan, tetapi tidak keberatan membayar denda sehari. Customer service karena dilatih untuk melayani mencoba menjelaskan demikianlah aturan mereka.

Rekan saya tidak menyerah. Ia membuka media sosial dan menunjukkan jumlah pengikut di fanpage yang puluhan ribu, fenomena yang ketika itu masih jarang.

“Saya terserah Mbak, yang penting kalau di media sosial kasus ini terangkat dan nama perusahaan Anda tercemar, Mbak yang tanggung jawab.”

Saat itu, UU ITE juga belum ada, tapi citra perusahaan sangat penting. Kalau sekarang menjelek-jelekkan perusahaan sekalipun menyampaikan kebenaran, bisa kena pasal pencemaran UU ITE.

Mendengar itu, sang customer service tidak mau ambil risiko. Ia menelepon bagian penagihan dan minta mereka menemui sang penulis. Tidak lama, seorang manajer datang dan mengajak bertemu di ruang tertutup.

Sambil mengeluarkan ponsel, rekan saya memulai percakapan dengan kalimat sederhana. “Saya rekam pertemuan ini, jadi kita tahu siapa yang berbicara dan jika dibawa ke pengadilan mereka bisa menentukan siapa yang bersalah.”

Sang manajer tidak mau kalah gertak, dia mengeluarkan handphone lalu berkata, “Saya juga merekam.” Perdebatan dan adu argumentasi mengalir. “Jadi, Anda sebenarnya mau menagih utang atau mengambil mobil?”

“Menagih utang,” respons sang manajer. “Jika ingin menagih utang, kenapa akun saya justru diblokir ketika hendak membayar?”

“Karena sudah terlambat,” jawab sang manajer. “Ya tetapi kan baru satu hari telat. Seharusnya aksesnya tetap dibuka, sehingga pelanggan bisa membayarkan. Kalau ditutup apalagi dengan sengaja, berarti kalian memang tidak mau kami membayar, dan ini hanya alasan untuk mengambil alih mobil dan membayar para debt collector.”

 
Sempat bertukar kata, pihak manajer kemudian membebaskan sang penulis dari biaya penarikan, bahkan menghapuskan denda.
 
 

Mendengar perkataan itu, sang manajer sadar strateginya terbongkar. Sepertinya memang ada agenda terselubung. Sempat bertukar kata, pihak manajer kemudian membebaskan sang penulis dari biaya penarikan, bahkan menghapuskan denda.

Hanya sambil berbisik, dia meminta rekan saya memberi pengganti ongkos. Sang penulis mengiyakan, lalu mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah untuk debt collector, sebelum pulang.

Ini bukan pertama kali teman saya berhadapan dengan debt collector hingga lambat laun dia mulai mampu membaca pola mereka.

Pertama, menurut dia, jika kita meminjam uang di bank atau lembaga keuangan, tidak perlu khawatir bila terlambat melakukan pembayaran cicilan pada bulan-bulan di tahun pertama. Mobil atau motor kita tidak akan diambil.

Jika ditarik, lembaga keuangan tersebut yang rugi. Pelanggan baru membayar sedikit, tetapi mereka harus menjual barang.

Hal sebaliknya terjadi, begitu masuk tahun terakhir atau bulan-bulan terakhir alias utang pokok sudah lunas, harus ekstra hati-hati karena terlambat sedikit akan menempatkan pelanggan sebagai mangsa.

Debt collector tidak memperoleh gaji bulanan, tetapi mereka memiliki peran penting bagi lembaga keuangan. Agar penagih utang betah, harus ada insentif.

Agar debt collector dapat penghasilan, lembaga keuangan harus membuat sistem yang merugikan kreditor lengah. Seperti peristiwa di awal. Sehari terlambat, akun diblokir sehingga tidak bisa membayar dan dikenakan biaya penarikan mobil.

Kalau kreditor lemah, daripada ribut atau kehilangan mobil dan motor lebih baik bayar uang penarikan.

Maka itu, jika hukum mau ditegakkan, agar para debt collector bergaya preman bisa ditertibkan, tidak cukup hanya mengatur para penagih utang tanpa mengawal dan mengoreksi lembaga keuangannya.

Semata supaya mereka tidak terkesan menutup mata atas kelakuan debt collector, yang melakukan pekerjaan kotor untuk mendapatkan pembayaran.

Kalau tindakan menagih utang senilai Rp 10 juta dengan cara kasar, dianggap melanggar hukum dan lembaga tersebut lalu dikenai denda oleh pengadilan senilai ratusan juta atau Rp 1 miliar --misalnya, tentu tidak ada lagi lembaga keuangan yang akan sembarangan mengerahkan debt collector.

 
Supaya mereka tidak terkesan menutup mata atas kelakuan debt collector, yang melakukan pekerjaan kotor untuk mendapatkan pembayaran.
 
 

Satu lagi, teman saya juga menekankan, cedera janji dalam bisnis adalah perdata dan penarikan kendaraan secara paksa harus di bawah keputusan pengadilan. Jadi bukan keputusan perusahaan pembiayaan.

Pertanyaan umum setelah itu biasanya, bagaimana dengan kartu kredit? Kalau kita berutang dan sempat mencicil walau sekali, ia ranah perdata, bukan pidana. Jadi pengutang tak perlu takut mendapat tekanan penagih utang. Bank tidak bisa memaksa bayar.

Lalu bagaimana penyelesaiannya? Ajak pihak bank menyelesaikan di pengadilan perdata. Anda bisa meminta keringanan di sana, lalu mengajukan cicilan sesuai kemampuan. Intinya, payung hukum sudah ada tinggal seberapa berani kita bersandar pada hukum.

Tentu saja tidak semua lembaga keuangan menyisakan pengalaman buruk. Setiap kita, dituntut bijak memilih dan memilah termasuk pada lembaga mana akan berutang.

“Walau demikian, kalau bisa tidak berutang dengan pihak mana pun tentu lebih baik, apalagi bila riba pula,” tutur teman saya mengakhiri percakapan.

Masa Kekhalifahan Utsman

Dinamika terjadi pada era ketika umat dipimpin Sang Dzun Nurain.

SELENGKAPNYA

Guna Ulang dan Diet Plastik untuk Upaya Kelestarian

Gaya hidup guna ulang adalah gaya hidup yang menjalankan prinsip pakai-habiskan-kembalikan.

SELENGKAPNYA

Kiai NU Minta Megawati Dirikan Pengajian Ibu-Ibu

Megawati bisa mengajak anggota DPR RI yang perempuan maupun istri anggota dewan untuk ikut dalam pengajian.

SELENGKAPNYA