Petugas menyuntikan vaksin campak rubella di kawasan Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta, Selasa (9/8/2022). Layanan jemput bola vaksin campak rubella dalam rangka Bulan Imunisasi Anak Nasional 2022 tersebut sebagai upaya untuk memenuhi target imunisasi seba | Republika/Putra M. Akbar

Sehat

Kontak dengan Pasien Campak? Lakukan Lima Hal Ini

Anak yang sakit campak bainya diisolasi dan tidak bertemu dengan orang lain setidaknya 14 hari.

Campak merupakan penyakit yang berbahaya bagi anak karena dapat memicu komplikasi berat, bahkan kematian. Tak hanya itu, campak juga dikenal sebagai penyakit yang sangat menular.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), satu pasien campak bisa membuat sembilan dari 10 orang di sekitarnya, yang memiliki usia beragam, terinfeksi campak bila mereka tak mendapatkan perlindungan. Oleh karena itu, bila ada satu anak di rumah yang terkena campak, beragam upaya pencegahan perlu dilakukan agar anak-anak lain di rumah tersebut tak ikut tertular.

"Campak itu penyakit yang ditularkan melalui droplet, droplet itu percikan air liur atau dahak dari anak yang mengandung virus campak," kata dokter spesialis anak subspesialis syaraf anak dr Arifianto SpA(K) kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Menurut dokter yang akrab disapa sebagai Dokter Apin ini, ada setidaknya lima hal yang perlu dilakukan bila ada satu anggota keluarga di rumah yang terkena campak. Berikut ini adalah kelima hal tersebut.

Kenali gejala

Bila ada satu anggota keluarga di rumah yang terkena campak, waspadai pula kemunculan gejala campak pada anggota keluarga lainnya. Beberapa gejala campak adalah demam selama beberapa hari, muncul ruam di kulit, yang disertai dengan batuk-pilek, serta mata merah.

Periksa ke Dokter

Bila menemui gejala yang dicurigai campak pada anak, bawa anak ke dokter untuk mendapatkan diagnosis pasti. Terkadang, orang tua menganggap campak sebagai penyakit yang ringan sehingga merasa tak perlu pergi ke dokter. Padahal, penyakit yang mereka anggap ringan tersebut sebenarnya adalah roseola.

Kedua penyakit ini memiliki gejala yang mirip, yaitu memunculkan demam serta ruam. Akan tetapi, roseola bersifat ringan, sedangkan campak bisa memicu terjadinya beragam komplikasi, seperti pneumonia, diare dengan dehidrasi, gangguan penglihatan dan pendengaran, bahkan Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) yang mematikan.

Isolasi

Penderita campak perlu diisolasi agar tak menularkan penyakit kepada orang lain. Dokter Apin menganjurkan anak yang sakit campak untuk diisolasi dan tidak bertemu dengan orang lain setidaknya 14 hari.

Isolasi bisa dilakukan di rumah bila anak mengalami campak tanpa komplikasi. Bila menjalani isolasi di rumah, orang tua dianjurkan untuk memberikan makanan bergizi, minum yang cukup, serta kondisi yang nyaman untuk anak selama pemulihan.

Campak juga bisa disertai dengan komplikasi. Anak dengan campak yang disertai komplikasi perlu menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit. Di rumah sakit, anak bisa mendapatkan perawatan lebih lanjut untuk komplikasi yang mereka alami. Sebagai contoh, anak dapat diberikan bantuan oksigen bila sesak napas atau diberikan infus bila mengalami diare dengan dehidrasi.

Dokter Apin mengatakan, ada beberapa kelompok anak yang berisiko lebih besar terhadap komplikasi berat akibat campak. Kelompok tersebut adalah usia balita, anak dengan penyakit yang menekan daya tahan tubuh, anak dengan status gizi kurang baik, seperti malanutrisi, gizi kurang, dan gizi buruk, serta anak yang belum diimunisasi campak.

Tak perlu pemeriksaan laboratorium

Saat ada satu anggota keluarga yang terkena campak, anggota keluarga lainnya tak perlu berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan IgM Campak. Dokter Apin mengatakan, pemeriksaan serologi semacam ini merupakan hal yang sama sekali tak perlu dilakukan secara rutin.

"Campak itu penyakit yang kalau saya bilang, hampir 100 persen bisa didagnosis dengan melihat tanda dan gejala yang ada, jadi cukup dengan pemeriksaan fisik saja, tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium, itu secara umum," kata Dokter Apin.

Selain itu, Dokter Apin mengatakan, pemeriksaan semacam ini tidak mudah diakses atau didapatkan. Sekali pun tersedia di laboratorium komersial, tes tersebut kemungkinan dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. "Jadi, tidak sebanding," ujar Dokter Apin.

Pemeriksaan IgM campak, lanjut Dokter Apin, umumnya dilakukan untuk keperluan tertentu. Sebagai contoh, untuk keperluan penelitian atau keperluan surveilans epidemiologi.

Dapatkan profilaksis pascapajanan

Anak-anak yang belum diimunisasi campak atau baru mendapatkan dosis pertama imunisasi campak, memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular bila berkontak dengan pasien campak. Hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan pada kelompok ini adalah mendapatkan profilaksis pascapajanan berupa imunisasi.

"Jadi ada imunisasi segera yang bisa menjadi upaya untuk mencegah mereka yang kontak erat dengan anak yang sakit campak dan belum pernah diimunisasi atau belum mendapatkan pengulangan (imunisasi) agar tidak kena campak," ujar Dokter Apin. 

 

 
Anak-anak yang belum diimunisasi campak atau baru mendapatkan dosis pertama, memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular.
DR ARIFIANTO, SPAK
 
 

Kasus Campak Kian Meluas

Masyarakat untuk segera melengkapi vaksinasi campak rubella (MR) pada anak.

SELENGKAPNYA

Gejalanya Mirip, Ini Cara Bedakan Campak dan Roseola

Ruam pada kasus campak umumnya muncul secara bertahap.

SELENGKAPNYA

Ancaman Campak yang Melonjak 32 Kali Lipat

Salah satu pemicu naiknya kasus diyakini karena cakupan vaksinasi campak yang rendah.

SELENGKAPNYA