Petugas kesehatan melakukan vaksinasi kepada anak di halaman Masjid At Taqwa, Sukajadi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Pemprov Jawa Barat menargetkan 3,4 juta balita mendapatkan imunisasi campak rubella serta 4,09 juta balita mendapatkan imunisasi pol | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

Kasus Campak Kian Meluas

Masyarakat untuk segera melengkapi vaksinasi campak rubella (MR) pada anak.

SURABAYA – Kasus campak yang terjadi di Tanah Air dilaporkan terus meluas. Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyebut, kasus campak di delapan daerah di Jatim mengalami peningkatan.

Khofifah meminta masyarakat untuk segera melengkapi vaksinasi campak rubella (MR) pada anak. “Segera lengkapi vaksinasi campak rubella (MR) anak, karena saat ini tengah terjadi peningkatan kasus campak di beberapa daerah di Jawa Timur,” kata Khofifah, Senin (23/1).

Delapan daerah di Jatim yang mengalami peningkatan kasus campak adalah Kota Batu, Kabupaten Bangkalan, Magetan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Pasuruan, dan Probolinggo. Khofifah pun mengimbau seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan terkait peningkatan tersebut.

Khofifah menjelaskan, terjadinya peningkatan kasus campak ini disebabkan penurunan cakupan imunisasi yang signifikan saat pandemi Covid-19. Ketakutan akan penyebaran Covid-19 mangakibatkan banyaknya anak yang tidak mendapatkan imunisasi rutin lengkap.

photo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin campak rubella kepada anak di halaman Masjid At Taqwa, Sukajadi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Mantan menteri sosial ini mengatakan, Pemprov Jatim akan berkoordinasi dengan jajaran pemkab/pemkot untuk mengidentifikasi setiap perkembangan kasus campak pada anak. Khofifah berpesan kepada masyarakat ketika anaknya mengalami gejala demam dan ruam atau bintik kemerahan, agar segera dibawa ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

“Penyakit ini sangat mudah menular, jika ditemukan satu kasus, bisa menularkan ke 12-18 orang di sekitarnya. Namun, campak sangat mudah dicegah dengan imunisasi. Mohon dipastikan semua anak-anak mendapatkan tiga kali imunisasi campak, yaitu pada saat umur sembilan bulan, 18 bulan, dan kelas I SD,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Erwin Astha mengaku, telah melakukan beberapa upaya untuk mengendalikan kasus campak di Jatim. Di antaranya dengan melakukan pendampingan kepada kabupaten/kota terdampak mulai dari melakukan penyelidikan epidemiologi hingga memberikan rekomendasi pelaksanaan outbreak respons immunization (ORI) atau pemberian tambahan imunisasi MR untuk melindungi kelompok masyarakat yang berisiko.

Dinkes Jatim juga diakuinya menyediakan logistik berupa vaksin MR untuk pelaksanaan ORI di kabupaten/kota yang membutuhkan. Erwin memastikan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan pelaksanaan ORI di kabupaten/kota terdampak. “Kami juga mendorong dinkes kabupaten/kota dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi rutin yang tinggi dan merata,” kata dia.

photo
Petugas medis menyuntikkan imunisasi campak rubella kepada anak di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, beberapa waktu lalu. - (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

Di Garut, Jawa Barat, sebanyak enam orang anak diduga tertular penyakit campak selama Januari 2023. Namun, kepastian mereka tertular penyakit itu masih harus menunggu hasil uji laboratorium.

“(Tahun ini) sudah ada suspek (campak) enam orang. Kami masih menunggu hasil lab dari Biofarma Bandung,” kata Sekretaris Dinkes Garut, Leli Yuliani.

Menurut dia, Dinkes Garut akan lebih mengantisipasi penularan campak, khususnya di kalangan anak-anak. Pasalnya, saat ini penyakit itu sedang banyak menular di berbagai daerah. 

Leli menambahkan, angka kasus campak di Kabupaten Garut pada tahun lalu juga cukup tinggi. Berdasarkan pendataan Dinkes Garut, sepanjang 2022 terdapat 173 kasus campak, yang 55 anak di antaranya dinyatakan positif. Kendati demikian, semua anak yang tertular campak di Kabupaten Garut sembuh. “Semua sehat lagi,” ujar dia.

 
Mohon dipastikan semua anak-anak mendapatkan tiga kali imunisasi campak yaitu pada saat umur 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD.
KHOFIFAH INDAR PARAWANSA, Gubernur Jawa Timur.
 

Leli mengatakan, pihaknya akan lebih menggencarkan imunisasi terhadap anak. Apalagi, cakupan imunisasi terhadap anak di Kabupaten Garut dinilai belum melampaui target. “Cakupan imunisasinya minimal harus 98 persen. Kami baru 90,2 persen,” kata dia.

Dinkes Kota Bandung menegaskan, Kota Bandung tidak terjadi kejadian luar biasa (KLB) kasus campak. Pada 2022 lalu, terdapat 72 laporan suspek campak dan hanya delapan kasus yang positif campak. 

Kepala Dinkes Kota Bandung Anhar Hadian mengatakan, kasus yang ada berdasarkan hasil penyelidikan tidak berkaitan dari sisi waktu dan tempat. Penyelidikan lanjutan perlu dilakukan untuk melihat potensi penularan lokal yang mengarah ke KLB. “Kota Bandung berkesimpulan tidak bisa dinyatakan atau tidak terjadi KLB campak,” katanya.

Anhar melanjutkan, antisipasi yang dilakukan, yaitu menguatkan surveilans. Tiap ditemukan anak yang bergejala campak seperti demam dan ruam akan diambil sampel dan tindak lanjuti sesuai prosedur. “Ada dua gejala itu laporkan berobat ke puskesmas nanti puskesmas akan lapor ke kami kalau anak dilakukan tindakan,” katanya.

photo
Petugas bersiap menyuntikkan vaksin campak rubella di Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta, beberapa waktu lalu. - (Republika/Putra M. Akbar)

Anhar memastikan, kondisi kasus campak di Kota Bandung relatif aman dan terkendali. Namun, secara umum di Jawa Barat kasus mengalami peningkatan oleh karena itu perlu ditingkatkan kewaspadaan. “Secara umum Jabar ada peningkatan dan harus waspada,” ujar dia.

Kementerian Kesehatan mencatat, kasus campak di Indonesia sepanjang 2022 meningkat signifikan. Sebanyak 3.341 infeksi dilaporkan pada 2022, jumlah ini melonjak 32 kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni sekitar 200 kasus.

Pakar kesehatan Unpad menilai, kasus campak di Indonesia yang tinggi dan ditetapkan sebagai KLB campak oleh Kemenkes, disebabkan oleh pandemi Covid-19. Pada masa tersebut terjadi penurunan imunisasi campak kepada anak-anak.

“Karena pandemi Covid-19 awal-awal, maka sekarang ‘panennya’ (campak),” ujar Kepala Staf Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak Unpad, Djatnika Setiabudi.

 
Tidak ada istilah terlambat untuk diimunisasi, bagi yang belum divaksin segera divaksin.
 

Sebelum pandemi, Djatnika mengatakan, penyebaran kasus campak dapat dikendalikan. Kasus tersebut relatif bersifat sporadis dan bukan wabah atau KLB. Ia pun menduga, kenaikan kasus campak juga dipengaruhi oleh banyaknya yang menolak diimunisasi campak. Campak diketahui sebagai penyakit menular dan jika tidak memiliki ketahanan tubuh bisa terinfeksi sebesar 90 persen.

Menurut dia, mereka yang belum divaksin pun rentan terkena campak. Bahkan dampaknya bagi yang belum diimunisasi rentan mengalami penyakit lain seperti pneumonia, radang otak, hingga gizi buruk. Djatnika mengatakan pemberikan vaksin campak penting untuk meningkatkan kekebalan kembali. “Tidak ada istilah terlambat untuk diimunisasi, bagi yang belum divaksin segera divaksin,” ujar dia.

Gejalanya Mirip, Ini Cara Bedakan Campak dan Roseola

Ruam pada kasus campak umumnya muncul secara bertahap.

SELENGKAPNYA

Ancaman Campak yang Melonjak 32 Kali Lipat

Salah satu pemicu naiknya kasus diyakini karena cakupan vaksinasi campak yang rendah.

SELENGKAPNYA

KLB Campak, Bagaimana Bahayanya?

Campak paling parah bisa menyebabkan kematian.

SELENGKAPNYA