IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Di Manakah Generasi Intifada Palestina Dulu?

Intifada merupakan gerakan semesta perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Ada artikel menarik tentang generasi intifada Palestina yang ditulis Bakr Awida di media al Sharq al Awsat. Apa yang mereka lakukan kini?

Intifada merupakan gerakan semesta perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel. Perlawanan ini bersenjatakan batu dan kerikil sebagai alat untuk menyerang dan sekaligus bertahan, seperti burung Ababil yang menyerang pasukan Abrahah yang berkendaraan gajah.

Serangan ini, antara lain, dilancarkan lewat ketapel. Itu sebabnya gerakan perlawanan ini seringkali disebut intifada batu-kerikil (infifada al hijarah) dan anak-anak kecil atau remaja yang ikutan berintifada dikenal sebagai anak-anak batu-kerikil (athfal al hijarah). 

Gerakan perlawanan model lempar batu dan kerikil ini tampaknya efektif sebagai bentuk protes terhadap kondisi buruk di kamp-kamp Palestina, terhadap angka pengangguran, rasa hina sebagai bangsa terjajah, dan penindasan yang terus-menerus dilakukan oleh penjajah Israel.

Intifada mulai pecah pada 8 Desember 1987. Mula-mula di Jabalia, Jalur Gaza, lalu merembet ke semua desa dan kota Palestina di wilayah pendudukan. 

Intifada ini telah memaksa kedua belah pihak untuk menandatangani Kesepakatan Oslo antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina pada 1993. Kesepakatan itu, antara lain, berisi pengakuan Palestina terhadap negara Israel. Di lain pihak, Israel mengizinkan Palestina membentuk pemerintahan sendiri yang terbatas di Gaza dan Tepi Barat.

 

 
Intifada merupakan gerakan semesta perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel.
 
 

 

Intifada pada 1987 kemudian memunculkan intifada-intifada lain. Yang terbesar pada 2000, yang berlangsung selama lima tahun. Intifada ini seringkali disebut sebagai Intifada al Aqsa atau Intifada Kedua. Sedangkan antara 1987 hingga 1993 disebut Intifada Pertama.

Lalu di manakah kini generasi Intifada yang tiga setengah dekade lalu terlibat dalam perlawanan terhadap tentara Israel dengan lemparan batu dan kerikil? Generasi yang menyandang predikat sebagai 'anak intifada batu kerikil'? Generasi yang telah menginspirasi rakyat tertindas di seluruh dunia?

Sekitar 5.000 dari mereka, menurut data Otoritas Nasional Palestina, telah meninggal dunia, korban keganasan tentara Israel. Mereka syahid, ‘hidup di sisi Tuhan dengan mendapat rezeki’ (Ali ‘Imran: 169). Selamat untuk mereka!

Namun, bagaimana dengan mereka yang masih hidup? Mereka yang masih harus berjuang menuntut ilmu agar dapat meraih kedudukan yang lebih baik? Mereka yang harus bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan buat dirinya dan keluarganya setelah lebih dari 25, 30, dan 35 tahun terlibat dalam intifada? Di mana mereka sekarang?

 

 
Manusia, di mana pun berada, tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik.
 
 

 

Manusia, di mana pun berada, tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Ketika berangkat tidur, dalam dirinya terpetik harapan dan doa agar kehidupan esok lebih baik dari hari ini dan kemarin. Hal ini pun tentu menjadi harapan generasi intifada Palestina yang kini hidup di Gaza, Tepi Barat, dan di negara mana pun di luar negeri.

Mereka ini sudah melewati fase pemuda — 15-24 tahun berdasarkan pengelompokan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Semua mereka sudah berusia di atas 35 atau bahkan 40 tahun.

Sayangnya, berkaca pada data Pusat Statistik Palestina, gambarannya sangat muram. Tingkat pengangguran di wilayah pendudukan terus meningkat, mencapai 62 persen di kalangan perempuan dan 33 persen di kalangan laki-laki. Yang perlu dicatat, persentase pengangguran di Jalur Gaza lebih tinggi (65 persen) dibandingkan dengan di Tepi Barat (24 persen).

Meskipun warga Palestina di wilayah Otoritas Palestina dikenal pantang putus asa atau menyerah, tapi tingkat pengangguran —seperti di negara lain— tetap saja membahayakan, terutama penyakit sosial yang menyertai atau yang diakibatkannya.

Menurut Bakr Awida, dampak negatif dari pengangguran telah meningkat selama sepuluh tahun terakhir. Apalagi masih ditambah dengan perpecahan di antara kelompok-kelompok internal Palestina sendiri dan blokade yang diterapkan oleh pemerintah Israel, terutama di Jalur Gaza.

Ketika berbicara tentang perpecahan di kalangan warga Palestina, tentu tidak bisa lepas dari perpecahan antara Fatah dan Hamas, dua faksi terbesar dan paling menonjol di tubuh Palestina. Fatah yang berhaluan sekuler berkuasa di Tepi Barat dan Hamas yang Islamis memerintah di Jalur Gaza.

Kini di antara para pemimpin Fatah dan Hamas adalah generasi intifada. Mereka —yang sekitar 25 hingga 35 tahun lalu, ketika masih anak-anak atau remaja— memimpin, menggerakkan, dan terlibat langsung perlawanan terhadap penjajah Israel. Mereka hanya bersenjata batu dan kerikil telah mampu membuat tentara dan penguasa Israel kerepotan.

 
Sangat disayangkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, antara lain oleh generasi intifada sekitar 35 tahun lalu, kini tercabik-cabik oleh perpecahan.
 
 

Sangat disayangkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, antara lain, oleh generasi intifada sekitar 35 tahun lalu, kini tercabik-cabik oleh perpecahan. Masing-masing mereka merasa paling benar. Masing-masing merasa paling berjasa.

Ujung-ujungnya, perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina yang dirugikan karena perpecahan di antara mereka. Kondisi perjuangan bangsa Palestina selama puluhan tahun pun mandek, kalau tidak lebih buruk.

Kini sejarah tampaknya akan berulang. Kondisi yang menyebabkan intifada Palestina seperti terjadi sekitar 35 tahun lalu, sekarang sedang tergelar. Pertama, terbentuknya pemerintahan radikal kanan Yahudi yang sangat rasialis, yang dikomandani jenderal politik dan rabi (tokoh agama Yahudi) perang, bernama Benjamin Netanyahu. Perjalanan hidupnya beberapa kali menjadi Perdana Menteri Israel selalu diwarnai dengan perang dan darah.

Benjamin Netanyahu, 73 tahun, untuk kelima kalinya terpilih menjadi PM. Kali ini ia harus berkoalisi dengan partai sayap kanan yang radikal untuk membentuk pemerintahan. Ia akan menciptakan realitas politik yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah pendudukan Palestina.

Ia tampaknya terobsesi oleh semangat sejarah kepemimpinan Zionis Israel dan berkeras melampaui Theodor Herzl (tokoh utama gerakan dan proyek Zionisme), David Ben-Gurion (pendiri negara Israel), dan atas Yitzhak Rabin, Shimon Peres, dan Jenderal Moshe Dayan — pilar dan pondasi perang serta politik Israel.

Kedua, mulai munculnya gerakan intifada Palestina bersenjata di Tepi Barat dan Jalur Gaza, sebagai respons terbentuknya pemerintahan radikal kanan yang dipimpin PM Netanyahu. Di tengah kehidupan yang sulit di wilayah pendudukan, banyak para pemuda Palestina yang berlomba mati syahid, berperang melawan kesewenang-wenangan penjajah Israel.

 
Kini tidak ada lain bagi Otoritas Nasional Palestina, kecuali bersatu dan menyatu.
 
 

Kini tidak ada lain bagi Otoritas Nasional Palestina kecuali bersatu dan menyatu. Bersatu di antara Fatah dan Hamas dan menyatukan semua kelompok-kelompok di tubuh Palestina, termasuk memimpin intifada, gerakan perlawanan anak-anak muda Palestina melawan penjajahan Israel.

Mereka harus segera menyatukan semua kekuatan Palestina, membakar segala perbedaan, dan menggalang kerja sama secara nasional, regional, dan internasional, untuk menghadapi pemerintahan Yahudi radikal sayap kanan pimpinan Netanyahu.

Sekali lagi, kelompok-kelompok Palestina harus menyatu dan bersatu, terutama faksi terbesar Fatah dan Hamas. Orang atau pihak luar hanya mendukung dan membantu. Jangan dibalik, pihak luar justru jadi penentu.

Remaja Palestina Dihantui Penangkapan Tengah Malam

Penangkapan itu terjadi tanpa pernah mengeluarkan surat panggilan,

SELENGKAPNYA

Palestina Balas Kebijakan Ekstrem Israel

Paus Fransiskus menyerukan agar status quo sejarah dan hukum di Yerusalem dilestarikan.

SELENGKAPNYA

Palestina, Abadi dalam Penderitaan

Kita berutang kepada Palestina, negara pertama yang mengakui kemerdekaan kita.

SELENGKAPNYA