Yassine Bounou | AP Photo/Pavel Golovkin

Piala Dunia

Yassine Bounou, Pahlawan Maroko, Musuh Spanyol

Fragmen Bono sebagai pahlawan Maroko serupa dengan kisah Ahn Jung-hwan dari Korea Selatan di Piala Dunia 2002.

DOHA -- Kesuksesan Maroko menembus babak perempat final Piala Dunia 2022 tidak terlepas dari aksi heroik Yassine Bounou. Kepiawaiannya menangkal dua penalti pemain Spanyol berkontribusi besar pada keberhasilan Maroko sebagai negara Arab pertama yang lolos ke perempat final Piala Dunia.

Setelah mengirim Belgia pulang kampung lebih cepat, kini giliran Spanyol merasakan kehebatan Maroko. Singa Atlas berhasil menaklukkan La Roja lewat drama adu penalti yang berakhir 3-0 di Stadion Education City, Selasa (6/12) malam. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Yassine Bounou “BONO” (@bounouyassine_bono)

Singkat kata, publik Maroko bersorak untuk penampilan tembok terakhir pertahanan tim kesayangan mereka, Yassien “Bono” Bounou. Berkat kecermatannya, Bono mampu menepis dua dari tiga algojo Spanyol, sedangkan satu tembakan Pablo Sarabia menghantam tiang gawang. Selepas laga, ia dianugerahi trofi man of the match.

"Anda tahu penalti membutuhkan sedikit intuisi dan sedikit keberuntungan. Terpenting kami menang, selamat kepada semua pemain dan pendukung," kata Bono, tak mau mengambil seluruh kredit atas kemenangan timnya.

Bono lahir di Montreal, Kanada, sebelum akhirnya pindah ke Maroko. Ia mengawali karier profesional di klub lokal, Wydad Casablanca, pada 2010. Aksinya kemudian mendapatkan sorotan dari pemandu bakat tim-tim Spanyol. Ia kemudian direkrut oleh klub ibu kota Atletico Madrid. 

Sayang, Bono tak mendapatkan tempat di skuad utama Los Colchoneros. Waktu berjalan, Bono tumbuh sebagai pemain pinjaman bersama Real Zaragoza, Girona, sebelum bermuara ke klub Andalusia, Sevilla.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Sevilla FC (@sevillafc)

Performa apik di bawah mistar gawang membuat manajemen Sevilla mempermanenkan statusnya. Kemampuan Bono terus melesat hingga ia menjadi kiper nomor satu Los Nervionenses. 

Bono kemudian menyabet trofi Zamora yang diberikan kepada kiper terbaik di La Liga Spanyol pada musim 2021/2022. Penjaga gawang berpostur 195 cm itu menjadi orang Maroko dan Arab pertama yang mendapatkan trofi ini. Gelar yang juga belum pernah didapatkan kiper Sevilla sebelumnya.

"Bono pantas mendapatkan selamat. Dia adalah seorang teman yang baik dan menunjukkan kualitas top sepanjang tahun," kata kiper Real Madrid dan Belgia Thibaut Courtois, beberapa bulan lalu.

Sepanjang membela Sevilla sejak 2020, Bono sudah menghadapi 24 tendangan penalti. Persentase penyelamatannya pun terbilang cukup tinggi. Ia berhasil menyelamatkan total delapan dari 24 tendangan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Équipe du Maroc (@equipedumaroc)

Kiper berusia 31 tahun itu hanya kebobolan 24 gol dalam 31 partai musim lalu bersama tim rival sekota Real Betis itu. Pencapaian bersejarah yang membuatnya mengasapi Courtois.

Fragmen Bono sebagai pahlawan untuk Maroko di pesta sepak bola edisi ke-22 nyaris serupa dengan kisah Ahn Jung-hwan dengan Korea Selatan di Piala Dunia 2002. Begitu juga dengan Diego Maradona ketika Argentina bentrok melawan Italia di Piala Dunia 1990. Keduanya mengadu nasionalisme dengan mempertaruhkan karier mereka untuk membela klub masing-masing. Celakanya, nama Ahn Jung-hwan serta Maradona nangkring di peringkat teratas orang paling dibenci di Negeri Pasta.

Kebencian publik Italia pun berujung pada pengusiran kedua pemain di klub yang diperkuat. Presiden Perugia saat itu, Luciano Gaucci, memutuskan untuk memecat Ahn Jung-hwan karena alasan nasionalisme.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Manchester United (@manchesterunited)

Pada akhirnya, jika reaksi negatif tersebut juga dialami Bono, ia tidak perlu risau. Sebab, banyak klub top Eropa mengantre untuk mengamankan tanda tangannya. Raksasa Inggris Manchester United (MU) disebut telah menargetkan Bono sebagai penjaga gawang mereka untuk menggantikan posisi David de Gea yang memang tidak masuk dalam skema pelatih Erik ten Hag.

Pesta Semalam Suntuk

Istimewanya tak hanya suporter Brasil yang berpesta malam itu.

SELENGKAPNYA

Samurai Biru Pulang dengan Kepala Tegak

Tidak semua tim hebat bisa membendung raksasa sekaliber Spanyol dan Jerman.

SELENGKAPNYA

Tarian Kemenangan Samba

Brasil membekuk Korsel 4-1 untuk melangkah ke perempat final menghadapi Kroasia.

SELENGKAPNYA