Petugas amil zakat melayani warga yang membayar zakat fitrah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (29/4/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Opini

Zakat dan Ancaman Resesi

Ancaman resesi 2023 membutuhkan kesiapan LPZ untuk mampu meningkatkan inovasi pengumpulan zakat.

DION SAPUTRA ABI, Junior Research Fellow Pusat Kajian Strategis Baznas

Ancaman resesi dunia 2023 di depan mata. Bank Dunia dan IMF memproyeksikan 2023, tahun yang mengguncang stabilitas ekonomi sejumlah negara karena dampak krisis pangan, energi, dan perang Rusia serta Ukraina yang mengganggu stabilitas politik dan ekonomi global.

Sejumlah ekonom global dan Tanah Air meramalkan, Indonesia mengalami dampak signifikan dari penurunan ekonomi yang terjadi.

Sebab, pemulihan dari pandemi Covid-19 masih belum usai dan akan dihadapkan pada krisis ketahanan pangan dan energi, sehingga gejolak inflasi terhadap komoditas pokok masyarakat tak terhindarkan serta berefek pada penurunan pendapatan riil.

Ancaman ini turut memengaruhi lembaga pengelola zakat (LPZ) dalam meningkatkan pengumpulan zakat 2023. Baznas sebagai lembaga negara struktural dalam pengelolaan zakat nasional, juga perlu hati-hati membuat kalkukasi target pengumpulan dan penyaluran zakat.

 
Baznas sebagai lembaga negara struktural dalam pengelolaan zakat nasional, juga perlu hati-hati membuat kalkukasi target pengumpulan dan penyaluran zakat.
 
 

Baznas, LAZ, dan unit pengumpul zakat lainnya akan terimbas penurunan pengumpulan zakat pada 2023. Sebab, sumber penerimaan zakat bukan hanya dari ASN dan pegawai BUMN, melainkan juga dari pegawai swasta dan masyarakat yang pendapatannya cenderung tetap dan fluktuatif.

Pekerja ASN dan pegawai BUMN memiliki pendapatan cenderung stabil dan tidak berdampak penurunan zakat, tetapi pegawai swasta, start up, dan sektor informal lainnya (pedagang, penjual) rawan mengalami perubahan pendapatan sehingga berada di garis kemiskinan.

Indonesia memiliki potensi pengumpulan zakat senilai Rp 327 triliun. Namun, realisasi pengumpulan zakat pada 2021 baru sebesar Rp 14,1 triliun. Artinya, realisasi pengumpulan zakat baru mencapai 4,28 persen secara on-balance sheet. 

Dengan demikian, tingkat pengumpulan zakat secara resmi melalui lembaga pengumpul zakat masih jauh dari harapan. Ini karena pengumpulan zakat lebih banyak off-balance sheet.

 
Indonesia memiliki potensi pengumpulan zakat senilai Rp 327 triliun. Namun, realisasi pengumpulan zakat pada 2021 baru sebesar Rp 14,1 triliun.
 
 

Yaitu, pengumpulan zakat tidak melalui lembaga pengumpul zakat yang berarti dikumpulkan melalui saluran masjid, diserahkan secara langsung dari muzaki ke mustahik, dan sebagainya.

Meskipun demikian, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, seharusnya bisa mengoptimalkan pengumpulan zakat ini sebagai salah satu jalan untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat.

Berdasarkan temuan Pusat Kajian Strategis Baznas pada 2021, nilai Indeks Kesejahteraan Baznas (IKB) yang diukur berdasarkan standar garis kemiskinan nasional, menunjukkan skor IKB 0,62 artinya digolongkan baik.

Lebih lanjut, Baznas mengentaskan tingkat kemiskinan nasional sebanyak 49 persen dari penerima program penanggulangan kemiskinan, yakni 52.563 jiwa.

Karena itu, dapat disimpulkan, pendistribusian zakat tergolong baik untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat dari semula menjadi mustahik (penerima zakat) bertransformasi keluar dari garis kemiskinan.

 
Pendistribusian zakat tergolong baik untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat dari semula menjadi mustahik bertransformasi keluar dari garis kemiskinan.
 
 

Ancaman resesi 2023, membutuhkan kesiapan LPZ untuk mampu meningkatkan inovasi pengumpulan zakat. Tantangan turunnya pendapatan masyarakat dan PHK massal sejumlah startup akan membuat penerimaan zakat terkontraksi turun.

Karena itu, dibutuhkan alternatif dalam meningkatkan on-balace sheet optimalisasi pengumpulan zakat, yang semula tidak tercatat di neraca beralih tercatat dalam neraca. 

Lembaga pengelola zakat, seperti Baznas dan LAZ, perlu meningkatkan kerja sama dengan sarana pengumpul zakat di luar neraca, seperti melalui kerja sama dengan masjid dan mushala, majelis taklim, dan sarana pengumpul zakat lain.

Tujuannya, dapat meningkatkan penerimaan zakat di Indonesia. Dengan demikian, realisasi dari pengumpulan zakat akan meningkat sehingga bisa meningkatkan jumlah persentase mustahik, yang terentaskan dari garis kemiskinan.

 
Konsumsi rumah tangga tertekan, masyarakat mulai mengurangi pengeluaran karena situasi krisis energi dan pangan akan menimbulkan inflasi yang relatif tinggi.
 
 

Tahun 2023 sudah di depan mata. Lembaga filantropi perlu melakukan pembenahan diri  guna meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk membayar zakat.

Perlu diketahui ke depan, konsumsi rumah tangga tertekan, masyarakat mulai mengurangi pengeluaran karena situasi krisis energi dan pangan akan menimbulkan inflasi yang relatif tinggi. Maka itu, dibutuhkan transformasi pengelolaan zakat di internal LPZ.

Upaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat dengan pengelolaan manajemen perzakatan Indonesia, dapat diwujudkan melalui transformasi pengumpulan zakat dengan cara yang modern agar lebih efektif dan efisien. 

Bunda Pun Belanja dengan Nyaman 

Para ibu perlu solusi cerdas dan tepat untuk menghadapi setiap tantangan yang dihadapi.

SELENGKAPNYA

Cerita Rasa dari Ubud

Menu kuliner dapat dirancang berdasarkan cerita dan filosofi dari suatu daerah.

SELENGKAPNYA

Biden Bersinar, Trump Kian Redup

Hasil Pemilu 2022 membuat jalan Biden untuk nyapres di Pemilu 2024 semakin lempang.

SELENGKAPNYA