Ustaz Abdul Hamid Hakim, seorang tokoh pendidikan dari Sumatra Barat. | DOK WIKIPEDIA

Mujadid

Ustaz Abdul Hamid Hakim Sang Pendidik dari Ranah Minang

Ulama asal Tanah Datar ini mencetak generasi terdidik, termasuk Buya Hamka.

Sumatra Barat melahirkan banyak alim ulama yang masyhur. Salah seorang di antaranya adalah Ustaz Abdul Hamid Hakim. Di tengah masyarakat Minangkabau, ia dikenal dengan gelar Tuanku Mudo.

Pakar ushul fikih itu lahir di Desa Sumpu, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar, pada 1311 H/1893 M. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Kelima saudara kandungnya berturut-turut adalah Muhammad Nur, Husein, Hasan, Halimah, dan Sofya.

Keluarganya menetap di sebuah desa tepi Danau Singkarak. Ayahnya, Haji Abdul Hakim, berprofesi sebagai pedagang. Adapun ibundanya bernama Cari Abdul Hamid. Saat Abdul Hamid masih kecil, mereka hijrah ke Padang.

Begitu tinggal di kota tersebut, Abdul Hamid mulai menempuh pendidikan dasar. Di sekolah, ia dikenal sebagai murid yang rajin dan cerdas. Seperti anak-anak Muslim pada umumnya, dirinya pun memperoleh pengajaran agama, khususnya dari kedua orang tuanya.

Usai menamatkan pendidikan di sekolah dasar, Abdul Hamid dibawa ibundanya kembali ke kampung halaman. Ia lalu menjadi santri madrasah setempat dengan fokus pada tadarus dan tahsin Alquran. Untuk lebih mendalami ilmu-ilmu agama, ia pun dibekali orang tuanya untuk mengaji di sebuah surau di Sungayang, Batusangkar.

 
Selama dua tahun, Abdul Hamid kecil belajar kepada dai-dai setempat, termasuk Syekh Muhammad Thabib Umar.
 
 

Selama dua tahun, Abdul Hamid kecil belajar kepada dai-dai setempat, termasuk Syekh Muhammad Thabib Umar. Gurunya itu merupakan seorang alumnus Masjidil Haram, Makkah. Di Sumbar, tokoh pembaru Islam itu termasuk kaum muda, yakni kelompok intelektual modernis Minang yang dipandang antitesis kaum tua tradisionalis.

Saat berusia 16 tahun, Abdul Hamid pergi ke daerah Danau Maninjau di Kabupaten Agam. Sebab, pada waktu itu ia mendengar kabar bahwa Syekh Abdul Karim Amrullah telah kembali dari Makkah. Dai tersebut, yang akrab dengan sapaan Haji Rasul, memberikan pelajaran agama di Desa Sungai Batang, begitu tiba di Tanah Air.

Haji Rasul sendiri terkenal sebagai seorang reformis Islam di Tanah Air. Belakangan, orang-orang lebih mengenal pendiri sekolah Islam Sumatra Thawalib itu sebagai ayahanda Buya Hamka. Bapak dan anak itu sama-sama pernah diganjar gelar doktor kehormatan (honoris causa) oleh Universitas al-Azhar Kairo Mesir.

 
Dari Haji Rasul, Abdul Hamid muda selama dua tahun mendapatkan banyak ilmu agama. Bahkan, dirinya menjadi murid kesayangan.
 
 

Dari Haji Rasul, Abdul Hamid muda selama dua tahun mendapatkan banyak ilmu agama. Bahkan, dirinya menjadi murid kesayangan. Disiplin dan kesungguhannya dalam belajar merupakan keunggulan yang dimilikinya di antara santri-santri lain.

Sering kali, ia membaca kitab-kitab hingga larut malam, dengan diteragi lampu minyak. Pernah suatu waktu, gurunya memasuki ruang baca untuk memadamkan lampu. Namun, ternyata di sana masih terdapat Abdul Hamid yang sedang menamatkan buku di tangannya.

Pada tahun 1912, ia ikut dengan gurunya untuk berpindah ke Padang. Sebab, masyarakat setempat telah meminta Haji Rasul agar bersedia mengajar mereka. Salah seorang sahabat ayahanda Buya Hamka itu di sana adalah Abdullah Ahmad. Keduanya lantas mengelola media massa Majalah al-Munir.

Bagi Abdul Hamid, kepindahan itu menimbulkan berkah tersendiri. Sebab, saat itu orang tuanya masih bertempat tinggal di Padang. Ayahnya terus mendukung dirinya untuk giat belajar. Tidak jarang, pemuda tersebut dikirimi berbagai kitab oleh bapaknya.

Dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatra Barat, disebutkan bahwa Abdul Hamid muda dianggap mampu oleh gurunya untuk menjadi seorang asisten. Haji Rasul pun sering menunjuknya untuk memberikan pelajaran kepada murid-murid yang lebih junior. Hingga kemudian, dalam suatu pertemuan di rumah khatib besar di Padang, alumnus Makkah itu menjulukinya sebagai Engku Mudo atau Tuanku Mudo.

Pada 1914, Haji Rasul hijrah lagi. Kali ini, tujuannya adalah Padang Panjang karena masyarakat di sana memintanya untuk memimpin Surau Jembatan Besi, sebuah sekolah Islam setempat. Di bawah kepemimpinan ulama reformis tersebut, lembaga itu pada akhirnya menjadi cikal bakal Sumatra Thawalib.

Dengan penuh takzim, Abdul Hamid mengikuti gurunya. Kira-kira satu tahun kemudian, Sumatra Thawalib resmi berdiri. Haji Rasul pun duduk sebagai kepala madrasah tersebut. Adapun muridnya itu diamanahi sebagai wakil kepala.

Belakangan, Haji Rasul mengundurkan diri dari Sumatra Thawalib karena pindah ke Jakarta. Sejak saat itu, Abdul Hamid menggantikan posisi gurunya itu sebagai guru kepala. Para murid madrasah itu serta seluruh masyarakat Padang Panjang menghormatinya sebagai dai yang alim. Kepribadiannya penuh wibawa dan sekaligus murah senyum. Dalam memberikan pelajaran ataupun berceramah, ia kadang kala menyelipkan rasa humor yang sehat.

Dalam hidupnya, Abdul Hamid pernah menikah sebanyak empat kali. Pertama, ia mempersunting seorang gadis yang berasal dari kampung halamannya. Pernikahannya dengan Hasna—demikian nama wanita itu—tidak dikaruniai keturunan.

Selanjutnya, Abdul Hamid menikah dengan Kamisyah, yang juga datang dari desanya. Perkawinan ini membuahkan enam anak. Mereka adalah Zainal Abidin, Na‘imah, Mustafa, Rasmiyah, Duhniar dan Abdul Aziz.

Ketiga, Abdul Hamid menikah dengan Rafi’ah di Padang Panjang. Dari pernikahan ketiganya, ia dikaruniai lima anak, yaitu Khadijah, Rahmah, Muhammad Amin, Mukhtar dan Syarif. Di antara kelimanya, Muhammad Amin mengikuti jejaknya sebagai seorang alim. Namun, buah hatinya itu wafat dalam usia muda, yakni 25 tahun.

Pada 1930, Abdul Hamid menikah lagi. Kali ini, dirinya mempersunting seorang gadis asal Padang Panjang yang bernama Syarifah. Dari istrinya yang keempat ini, ia memperoleh empat orang anak. Mereka adalah Hilmi, Mansur, Hilma, dan Hanif.

Kiprah di pendidikan

Ustaz Abdul Hamid Hakim termasuk kalangan ulama yang berdedikasi tinggi dalam pendidikan dan literasi. Hampir seluruh hayatnya dihabiskan untuk menekuni peran sebagai guru.

Saat berada di Padang Panjang, ia memberikan pelajaran pada Diniyah School, lembaga yang didirikan Zainuddin Labay El Yunusy pada 1916 M. Begitu madrasah Sumatra Thawalib berdiri, ulama kelahiran Tanah Datar itu turut mengabdi di sana.

Aktivitasnya juga berlangsung di dunia pendidikan tinggi. Ia tercatat menjadi dosen pada Fakultas Falsafah dan Hukum di Padang Panjang. Kelak, lembaga itu mengawali Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat, di bawah arahan Ahmad Rasyid Sutan Mansur. Pernah pula Abdul Hamid memberikan kuliah di Universitas Islam Darul Hikmah, Bukittinggi.

Dalam mengajar, Ustaz Abdul Hamid menerapkan pola pedagogis yang efektif dan terbuka. Ia selalu mendorong para siswa untuk aktif di kelas dan berpikiran kritis. Metode-metode satu arah tidak pernah dijadikannya acuan. Dengan demikian, peserta didik tidak akan menjurus pada sikap taklid buta.

 
Dalam mengajar, Ustaz Abdul Hamid menerapkan pola pedagogis yang efektif dan terbuka.
 
 

Sebagai contoh, dirinya memiliki kecenderungan fikih pada mazhab Imam Syafii. Bagaimanapun, tidak pernah ia mencela fatwa-fatwa yang muncul di luar mazhab tersebut.

Abdul Hamid berhasil mendidik banyak orang. Di kemudian hari, anak-anak didiknya sukses menjadi ulama atau figur masyarakat. Di antara tokoh-tokoh yang pernah menimba ilmu darinya adalah Buya Hamka, AR Sutan Mansur, Zaenal Abidin Ahmad (mantan wakil ketua DPR-RI), Prof Ali Hasjmi, dan pejuang kemerdekaan Rasuna Said.

Sebagai seorang penulis, Abdul Hamid telah memulai kariernya ketika menjadi wakil redaktur Majalah al-Munirul Manar di Padang Panjang. Media tersebut diterbitkan oleh pihak Sumatra Thawalib. Ketika itu, posisinya berada di bawah arahan Zainuddin Labay El Yunusy selaku pemimpin redaksi.

Di samping itu, ia juga menulis buku-buku, terutama yang membahas perihal ilmu-ilmu agama. Mayoritas karyanya berkaitan dengan ilmu fikih dan ushul fikih. Keduanya merupakan disiplin yang digelutinya sejak masih muda.

Salah satu karyanya berjudul Mabadi Awwaliyah. Buku ini sering kali menjadi referensi para pembelajar, khususnya di lingkungan pondok pesantren. Selain itu, Abdul Hamid juga menulis kitab Assullam, Albayan, Alhidayah ilaa Ma Yanbaghi min al-Ziyadah, serta Tahdzib al-Akhlaq.

Yang luar biasa, Abdul Hamid memang tidak pernah merantau ke negeri-negeri Arab untuk menuntut ilmu. Akan tetapi, penguasaannya terhadap bahasa Arab begitu baik. Hampir semua buah penanya ditulis dalam bahasa Arab. Hingga kini, karya-karyanya masih menjadi bahan bacaan di berbagai institusi pendidikan.

 

photo
Perguruan Sumatra Thawalib di Padang Panjang, Sumatra Barat. Institusi pendidikan ini telah mencetak banyak generasi ulama. - (DOK WIKIPEDIA)

Fakih Pengikut Jejak Haji Rasul

Ustaz Abdul Hamid Hakim dikenal sebagai seorang ulama yang ahli fikih dan ushul fikih. Kepakarannya dalam kedua disiplin keilmuan itu terbukti antara lain melalui karyanya, Mabadi Awwaliyah. Buku itu merupakan yang pertama dari keseluruhan trilogi karangan alim dari Minangkabau tersebut.

Mabadi Awwaliyah ditulis Ustaz Abdul Hamid untuk dijadikan bahan ajar bagi para murid di Perguruan Sumatra Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat. Di sanalah, ia bertahun-tahun lamanya mengabdi sebagai seorang guru. Pada akhirnya, buku tersebut menjadi rujukan banyak santri, baik di dalam maupun luar daerah Minang.

Edisi yang diterima Republika merupakan terbitan Sa’diyah Putera Jakarta yang bertarikh 27 April 1927 M. Tebalnya mencapai 48 halaman. Kitab ini ditulis tangan dalam bentuk natsar dengan aksara Arab yang mudah dibaca.

Pada saat menulis kitab ini, Abdul Hamid diketahui berusia 34 tahun. Pola penulisan buku itu sengaja ringkas, tetapi padat berisi. Materi-materi ajar di dalamnya mengandung pokok-pokok soal perihal kaidah fikih dan ushul fikih. Sebagai juz pertama dari trilogi, Mabadi Awwaliyah ditujukan untuk kalangan pemula.

Kitab ini terdiri atas dua bagian. Yang pertama berisi pembahasan tentang definisi atau pengertian ushul fikih. Termasuk di dalamnya adalah penjelasan perihal sembilan macam hukum, amr, nahi, ‘aam, khash, mujmal, mutlaq, muqayyad, dan mantuq. Sang penulis juga memaparkan metode ijmak, kias, ijtihad, dan ittiba’. Adapun bagian kedua memuat 40 macam kaidah fikih. Di antaranya adalah ihwal pokok, cabang, dan kulliyah.

 
Kitab-kitab karangannya menjadi amal jariah yang insya Allah mengalirkan pahala tak putus-putus untuknya.
 
 

Walaupun sosoknya telah tiada, Abdul Hamid terus memberikan kebermanfaatan bagi kaum Muslimin. Kitab-kitab karangannya menjadi amal jariah yang insya Allah mengalirkan pahala tak putus-putus untuknya. Dengan mempelajari karyanya, peserta didik dapat lebih mengenal ilmu fikih dan ushul fikih.

Ulama yang berjulukan Tuanku Mudo itu berpulang ke rahmatullah pada Senin tanggal 7 Muharram 1379 H/13 Juli 1959 M. Ia meninggal dunia di Padang Panjang dalam usia 66 tahun. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, melainkan juga seluruh warga Sumatra Thawalib dan kaum Muslimin di ranah Minang.

Ia dikenang sebagai pendidik yang penuh kesabaran dan keikhlasan. Salah satu keteladanannya adalah penerapan metode ajar yang demokratis. Murid-muridnya selalu distimulus agar aktif dan mengutamakan berpikir kritis. Mereka dibimbing agar menjauhi sikap taklid buta atau ta’ashub.

Barangkali, Ustaz Abdul Hakim pun terinspirasi dari gurunya, yakni Haji Rasul. Salah seorang reformis Islam itu juga mendidik dengan keterbukaan dan memakai metode diskusi. Pada akhirnya, ia pun menjadi guru bagi Buya Hamka, yang tidak lain merupakan anak Haji Rasul.

Kawin Lari, Bagaimana Hukumnya?

Kawin lari terjadi manakala hubungan sepasang kekasih tak direstui orang tua.

SELENGKAPNYA

Tanwir Tetapkan 27 Calon Tetap PP Nasyiatul Aisyiyah

Muktamar NA diharapkan menghasilkan calon pemimpin muda ‘Aisyiyah pada masa depan.

SELENGKAPNYA

Meneguhkan Dakwah Purifikasi Sosial 

Metode dakwah kultural menekankan pentingnya berdakwah melalui beragam budaya.

SELENGKAPNYA