KH Fahmi Amirullah Hadziq, seorang tokoh Ponpes Tebuireng Jombang dan juga cucu Hadratusy Syekh Hasyim Asyari. | DOK IST

Hiwar

Tuntunan Menyikapi Musibah

KH Fahmi Amirullah Hadziq dari Ponpes Tebuireng memaparkan hikmah di balik musibah.

Di dunia yang fana, adanya musibah merupakan keniscayaan. Baik secara kolektif maupun individual, seseorang pasti pernah mengalami kemalangan. Islam mengajarkan umat manusia agar selalu mengingat Allah di kala kesukaran melanda.

KH Fahmi Amirullah Hadziq mengatakan, musibah mungkin saja terjadi sebagai ujian, teguran, atau azab dari Allah SWT. Bagaimanapun, lanjut dia, kurang bijaksana apabila kita memperdebatkan status suatu bencana, di manakah letaknya dalam ketiga pemilahan tersebut.

Yang semestinya lebih dipikirkan ialah cara menyikapi musibah. Agama ini memiliki tuntunan mengenai hal itu. “Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bersabar ketika menghadapi bencana,” kata pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng Jombang, Jawa Timur, itu.

 
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bersabar ketika menghadapi bencana
 
 

Bahkan, berbagai hikmah dapat dipetik di balik setiap mala. Beberapa ayat dalam Alquran pun menegaskan bahwa sesudah kesukaran akan ada kemudahan. Sekurang-kurangnya, mereka yang mengalami bencana dapat tetap optimistis dan sekaligus bertawakal kepada-Nya.

Bagaimana kesabaran dan tawakal menjadi resep dalam menyikapi musibah? Apakah keduanya memiliki “batas”? Akhirnya, seperti apa pelajaran yang dapat diambil dari pelbagai bencana yang kini melanda Indonesia?

Untuk menjawabnya, berikut ini petikan wawancara wartawan Republika, Muhyiddin, dengan seorang cucu pahlawan nasional, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, itu. Bincang-bincang dilakukan beberapa waktu lalu.

Bagaimana tuntunan Islam dalam menghadapi musibah?

Setiap orang pasti pernah mendapatkan ujian. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 155, yang artinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Maka kata kuncinya adalah bersabar. Islam sangat menganjurkan itu saat orang menghadapi musibah. Bagaimanapun, mengeluhkan musibah yang telah terjadi itu tidak berarti apa-apa. Kalau bersabar, insya Allah mendapatkan pahala dari Allah.

Bagaimana musibah dipandang dari perspektif keislaman?

Yang namanya musibah pasti merupakan salah satu dari tiga hal. Mungkin ia adalah ujian, teguran, atau azab. Namun, yang paling penting bukan membahas status musibah itu sendiri, melainkan persiapan kita dalam menanggulangi atau menghadapinya.

Sebagai contoh, kini saudara-saudara kita di Cianjur, Jawa Barat, sedang mengalami musibah. Mari kita bantu mereka sekuat tenaga, dengan dana, menolong langsung ke lokasi, atau minimal berdoa. Kemudian, kita juga memikirkan (rencana) ke depan, yakni persiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gempa di tempat tinggal kita. Umpamanya, dengan mengonstruksi bangunan tahan guncangan dan sebagainya.

Beberapa ayat Alquran menyebut perihal kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia. Apakah maknanya?

Dalam surah ar-Rum ayat ke-41, misalnya, disebutkan demikian. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” Firman Allah ini juga mengisyaratkan, musibah terjadi dapat berupa bencana non-alami.

Misalnya, banjir atau tanah longsor. Itu semua mungkin saja terjadi karena masyarakat sering membuang sampah di sungai atau melakukan penebangan hutan secara masif dan liar. Ada pula bencana yang non-ekologis, yakni disebabkan perbuatan manusia juga.

Maraknya kemaksiatan, kezaliman, kemungkaran, dan lain-lain itu adalah bencana moral. Ya, ini termasuk musibah juga. Jadi, para ulama menafsirkan ayat tersebut tidak sekadar berbicara tentang bencana lingkungan (fisik), tetapi juga kerusakan moral di tengah masyarakat.

Bagaimana idealnya seorang Mukmin menyikapi musibah?

Menyikapi musibah sebagai ujian, teguran, atau azab itu sesungguhnya tergantung pada sikap diri masing-masing. Misal, bagi orang yang saleh dan ahli ibadah, suatu musibah bisa jadi sebagai ujian untuknya. Bila lolos ujian, derajatnya naik di sisi Allah. Sebab, yang namanya ujian berfungsi untuk menaikkan level seseorang ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagi seorang ahli maksiat, sebuah musibah bisa jadi menjadi teguran atau bahkan azab dari Allah. Itu supaya ia bertobat, kembali ke jalan yang benar. Bagaimanapun, dalam kondisi bencana sangat tidak bijaksana untuk memikirkan status musibah, apakah sebagai ujian, teguran, atau azab. Lebih baik, berfokus pada upaya-upaya membantu korban.

Bagaimana menguatkan spirit tolong-menolong (ta'awun) kala musibah terjadi?

Dalam surah al-Maidah ayat kedua, Allah berfirman, yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Jadi, Islam memang sangat menekankan pentingnya //ta’awun//. Sasarannya dapat mencakup berbagai kalangan.

Dalam kejadian musibah, yang menjadi korban tentu bermacam-macam. Mereka bukan hanya kalangan Muslim, tetapi juga non-Muslim. Maka, tolong-menolong itu tidak hanya ditujukan kepada saudara seiman. Semua korban sudah sepantasnya dibantu.

Dalam konteks kenegaraan, semua orang sama sebagai warga negara. Ibaratnya, bila musibah terjadi di suatu daerah, maka duka juga dirasakan masyarakat Indonesia seluruhnya. Solidaritas itulah yang sangat dianjurkan.

Kebaikan, sekecil apa pun, yang dilakukan oleh siapapun Mukmin kepada siapapun itu insya Allah tetap bernilai pahala. “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS az-Zalzalah: 7).

Sering kali dikatakan, sabar dan tawakal mesti diutamakan kala menghadapi musibah. Menurut Anda?

Sikap sabar berarti bisa menerima takdir Allah. Dengan tawakal, seorang Mukmin berserah kepada-Nya. Tentunya, ada keutamaan-keutamaan bagi orang yang memilih bersabar.

Di antaranya adalah, ia selalu bersama Allah. Dalam Alquran surah al-Anfal ayat ke-46, Allah berfirman. Artinya, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Jelas disebutkan di sana, sikap sabar akan senantiasa ditemani oleh Allah.

Kemudian, orang-orang yang bersabar juga memiliki ladang pahala yang tidak terbatas. Pada akhir bagian surah az-Zumar ayat ke-10, Allah berfirman, yang artinya, “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

 
Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas
 
 

Mungkin ada yang mengatakan, bersabar itu berat. Namun, berat bukan berarti tidak bisa dilakukan. Sebenarnya, kalau pahalanya tanpa batas, mestinya kesabaran juga dilakukan tanpa batas. Ada orang yang baru mendapatkan musibah sedikit, tetapi lisannya mengatakan, “Sabar itu ada batasnya.”

Itu merupakan ucapan yang keliru. Sebab, kesabaran tidak ada batasnya. Jadi, ketika seseorang mengatakan “sabar ada batasnya,” dia sendirilah yang membatasi. Maka, jangan membatasi kesabaran. Segala urusan yang mesti dihadapi insya Allah akan menjadi baik dan dimudahkan apabila kita bersabar.

Bagaimana Anda memandang hikmah di balik bencana-bencana yang kini melanda negeri?

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan” (QS al-Insyirah: 5). Jadi, jelaslah ketentuan dari Allah SWT. Mengenai musibah, maka di balik setiap bencana pun akan selalu ada hikmah-hikmah yang bisa kita petik.

Saya kira, di antaranya adalah hikmah kasih sayang. Artinya, ketika terjadi musibah atau bencana, maka di situ ada kasih sayang Allah. Di dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada kaum tersebut.”

Tidak hanya itu. Di balik musibah pun, terdapat kasih sayang yang ditunjukkan sesama makhluk. Orang-orang menjadi tergerak hatinya untuk memberikan donasi. Mereka bersimpati dan berempati kepada para korban. Itulah juga sebentuk kasih sayang.

 
Di balik musibah pun, terdapat kasih sayang yang ditunjukkan sesama makhluk.
 
 

Kemudian, hikmah berikutnya adalah mempererat silaturahim. Sebagai misal, sesudah tiba-tiba musibah terjadi di Cianjur, maka ribuan relawan dari pelbagai penjuru Tanah Air datang ke sana. Mereka menyapa para korban, memberikan bantuan, menghibur anak-anak setempat, dan lain sebagainya. Itu semua mengekspresikan jalinan silaturahim.

Musibah juga bisa menjadi sarana untuk mengangkat derajat orang. Tentu, hal itu apabila orang yang terkena musibah memilih sikap bersabar. Ini mungkin hikmah yang kadang kala tidak terasa.

Yang terasa itu cenderung hal-hal materiel. Padahal, di balik musibah ternyata ada sesuatu yang Allah janjikan, yaitu ketika bersabar menghadapi musibah, kita akan diangkat derajatnya oleh Allah.

Terakhir, dengan musibah itu kita dapat menguatkan takwa. Kita semakin merasa kecil di hadapan Allah. Buat mereka yang tidak ditimpa musibah, suatu bencana dapat menjadi bahan perenungan. Dan juga kewaspadaan mengenai apa-apa saja yang mesti dipersiapkan untuk antisipasi bencana.

photo
ILUSTRASI Lukisan yang menggambarkan sosok KH Hasyim Asyari. - (DOK ANTARA MOCH ASIM)

Percikan Nasihat Mbah Hasyim

Dari garis nasab ibunya, KH Fahmi Amirullah Hadziq merupakan cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Lelaki yang akrab disapa Gus Fahmi itu adalah putra pasangan KH Hadzik Mahbub dan Hajjah Khodijah. Kini, dirinya mengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Gus Fahmi mengaku, sejak kecil dirinya diajarkan mengenai keteladanan Mbah Hasyim Asy’ari. Ibundanya kerap bercerita tentang petuah-petuah dari sang pahlawan nasional RI. “Di antara pesan-pesan beliau (Kiai Hasyim) adalah, janganlah perbedaan menyebabkan terjadinya perpecahan,” ujar dia menuturkan kepada Republika, baru-baru ini.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah di dunia ini. Bila di antara sesama Muslim terjadi selisih pandangan tentang masalah-masalah cabang (furu’), janganlah saling mencerca atau mencela. Caci-maki hanya akan merenggangkan rasa persaudaraan (ukhuwah).

Dalam kondisi pertikaian antarsesama Mukmin, penjajah mudah masuk dan mendominasi. Bila sudah demikian, hal itu menjadi kerugian besar. Di samping soal persatuan, lanjut Gus Fahmi, sang kakek juga memberikan nasihat perihal ilmu dan amal.

 
Bila di antara sesama Muslim terjadi selisih pandangan tentang masalah-masalah cabang (furu’), janganlah saling mencerca atau mencela.
 
 

Tanpa disertai amal, ilmu tidak akan mendekatkan seseorang kepada Allah. Amalan yang tanpa ilmu pasti ditolak oleh-Nya. Kemudian, Mbah Hasyim juga mengingatkan jamaah agar mereka tidak fanatik buta. “Tentu, masih banyak lagi pesan-pesan beliau yang tertulis dalam kitab-kitab,” ucap alumus IKIP Malang itu.

Sebagai dzurriyah Tebuireng, Gus Fahmi selalu berupaya mengamalkan semua nasihat Mbah Hasyim. Tentunya, ia pun meneruskan semua itu kepada seluruh santri setempat. “Mereka adalah generasi penerus bangsa dan umat. Petuah dari beliau (Kiai Hasyim) tetap relevan untuk masa kini,” katanya.

Ponpes Tebuireng didirikan oleh Mbah Hasyim sekira 123 tahun silam. Hal itu menjadikanny lembaga pendidikan Islam tertua di Jombang, Jatim. Nama pesantren ini diambil dari kampung tempatnya berdiri, yakni Dusun Tebuireng di Desa Cukir.

Pondok Pesantren Tebuireng saat ini di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy'ari mengembangkan beberapa unit pendidikan formal dan nonformal, yaitu: Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi'iyyah, SMP A. Wahid Hasyim, Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyyah, SMA A. Wahid Hasyim, Madrasah Diniyyah, dan Ma'had ‘Aly Hasyim Asy'ari.

Kawin Lari, Bagaimana Hukumnya?

Kawin lari terjadi manakala hubungan sepasang kekasih tak direstui orang tua.

SELENGKAPNYA

Tanwir Tetapkan 27 Calon Tetap PP Nasyiatul Aisyiyah

Muktamar NA diharapkan menghasilkan calon pemimpin muda ‘Aisyiyah pada masa depan.

SELENGKAPNYA

Akhir Cerita Pahit Generasi Emas Belgia

De Bruyne mengakui skuad Belgia sudah terlalu tua untuk menjadi pesaing juara di Piala Dunia.

SELENGKAPNYA